Setahun Zul-Rohmi di Mata Pimpinan Organisasi Keagamaan

Widjanarko - I Wayan Sianto - I Gede Mandra - Syaiful Muslim (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Satu tahun sudah perjalanan pemerintahan Gubernur, Dr. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) dalam memimpin NTB, telah banyak melahirkan gebrakan-gebrakan program yang sifatnya sangat fundamental dan memiliki tujuan jangka panjang untuk kepentingan kemajuan daerah di masa depan.

Terobosan-terobosan yang ditelurkan oleh pemerintahan Zul-Rohmi dalam satu tahun masa kepemimpinannya ini dinilai telah menjawab kegelisahan-kegelisahaan dalam benak masyarakat. Khususnya terkait persoalan daerah yang selama ini tidak pernah tersentuh. Namun, di bawah kepemimpinan Zul-Rohmi, semua itu mulai diperbaiki.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB, Prof. Saiful Muslim
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB, Prof. Saiful Muslim

Penilaian tersebut disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB, Prof. Saiful Muslim, dalam Diskusi Terbatas dengan tema ‘’ Satu Tahun Zul-Rohmi, Membangun Kebersamaan untuk NTB Gemilang,’’ Kamis, 19 September 2019.

‘’Saya sudah punya catatan sebenarnya terkait persoalan yang ada di NTB yang ingin saya sampaikan kepada Pak Gubernur. Tapi apa yang harus sampaikan, ternyata sudah selesai semua. Semua sudah dikerjakan oleh Pak Gubernur,’’ ujar Saiful Muslim, sambil membaca catatan yang telah disiapkan dalam sebuah buku kecil.

Saiful Muslim pun secara terbuka memberikan apresiasi kepada pemerintahan Zul-Rohmi selama satu tahun ini yang sudah memberikan arah pembangunan masa depan NTB. Ia menyebutkan, salah satunya yakni program pengiriman mahasiswa NTB untuk belajar ke luar negeri. Menurut Saiful Muslim, program tersebut merupakan program yang manfaatnya dirasakan jangka panjang.

“Bapak Gubernur sudah siapkan calon pemimpin masa depan NTB. Sehingga kita tidak capek-capek mencari pemimpin yang berkualitas ke depannya,’’ ujarnya.

Program Zul-Rohmi yang menurut Saiful Muslim cukup gemilang yakni program jumpa Bang Zul-Umi Rohmi, yang memberikan ruang kepada masyarakat secara langsung untuk menyampaikan aspirasinya. Karena hal itu merupakan tradisi baru yang belum pernah dilakukan oleh pemerintah sebelumnya.

“Saya sangat apresiasi, yang telah menyiapkan waktu satu hari dalam sepekan kepada masyarakat untuk bertemu langsung dengan Gubernur-nya,” sebutnya.

Sebelumnya, hal yang menjadi sorotan Saiful Muslim pada pemerintahan Zul-Rohmi saat ini yakni, ia tidak melihat ada gebrakan baru dalam penempatan pejabat daerah. Karena dalam satu tahun terakhir ini tidak pernah ada kebijakan mutasi pejabat yang cukup radikal dilakukan oleh Zul-Rohmi.

Akan tetapi sekali lagi, pertanyaan besar Saiful Muslim tersebut telah terjawab dengah kehadiran aplikasi e-kinerja. “Ternyata sudah ada jawabannya dalam penempatan pejabat ini, yakni aplikasi e-kinerja,” ungkapnya.

Dari berbagai torehan gebrakan program Zul-Rohmi tersebut, Saiful Muslim memberikan catatan yang menurutnya masih kurang mendapatkan perhatian dari pemerintahan yakni pembangunan fasilitas umum seperti tempat ibadah, sekolah dan rumah sakit pascabencana gempa.

“Pascagempa ini, masih banyak yang mau ingin dinikmati oleh masyarakat tapi belum terealisasi seperti tempat ibadah, sekolah-sekolah dan rumah sakit. Kalau rumah mungkin sudah mulai banyak yang terbangun,” katanya.

Ketua PHDI NTB, I Gede Mandra
Ketua PHDI NTB, I Gede Mandra

Program Monumental Zul-Rohmi

Menurut Ketua PHDI NTB, I Gede Mandra, setiap pemimpin senantiasa meninggalkan jejek pembangunan yang sifatnya monumental. Ia mencontohkan, mulai pemerintahan Gubernur NTB era Gatot Suherman dengan program Gogo Rancah-nya. Kemudian dilanjutkan dengan pemerintahan Gubernur Serinata yang membangun perusahaan Gerbang NTB Emas, dan Gubernur, Dr.TGH. M. Zainul Majdi yang meninggalkan jejak pembangunan yang monumental yakni Islamic Center.

‘’Tanpa maksud kami mau membandingan gubernur yang satu dengan yang lain, tapi setiap gubernur selalu memunculkan program monumentalnya. Nah saya juga yakin pasangan duet Zul-Rohmi ini akan memiliki program monumental yang bisa dikenang oleh masyarakat NTB. Sehingga NTB Gemilang saya harapkan tidak hanya sekadar slogan, tetapi itu nyata,’’ harapnya.

Lebih lanjut disampaikan Gede Mandra, capaian pemerintahan Zul-Rohmi dalam satu tahun terakhir ini tentu sudah banyak dirasakan oleh masyarakat NTB. Kendati di awal pemerintahan Zul-Rohmi, langsung dihadapkan oleh penanganan bencana alam gempa bumi, yang tentu memiliki dampak terhadap perekonomian masyarakat.

Ketua Matakin NTB, S. Widjanarko
Ketua Matakin NTB, S. Widjanarko

Sementara itu, Ketua Matakin NTB, S. Widjanarko menyampaikan catatannya bahwa pihaknya lebih banyak ikut serta dalam mendukung program pemerintahan Zul-Rohmi yakni NTB Gemilang, lebih pada hal-hal yang sifatnya praktis dan langsung menyentuh masyarakat.

Ia menuturkan, pada saat terjadi bencana gempa bumi Lombok. Matakin ikut terlibat untuk membantu masyarakat dalam menyalurkan bantuan yang didapatkan dari usaha penggalangan bantuan.

‘’Jadi kami dari Matakin lebih praktis saja dalam berbuat untuk membantu program pemerintah. Selain bergerak ikut membantu pemerintah dalam penanganan bencana gempa bumi, kami juga melakukan program donor darah, dan berhasil kumpulkan sebanyak 869 kantong darah,” katanya singkat.

Ketua Walubi, I Wayan Sianto
Ketua Walubi, I Wayan Sianto

Kuatkan Kerukunan Beragama

Sementara itu, Ketua Walubi, I Wayan Sianto, pada kesempatan itu menyampaikan terkait dengan persoalan kehidupan keberagaman yang ada di NTB, khususnya keberagaman agama.

Menurutnya, ancaman konflik dari kerukunan beragama di NTB masih menjadi tantangan. Hal itu terjadi karena sangat jarang sekali ada ruang dan medium untuk menjadi tempat berdialog umat beragama pada tataran masyarakat.

‘’Satu hal yang ingin saya sampaikan bahwa, kerukunan keberagaman itu perlu diciptakan. Karena kalau kerukunan beragama itu tidak ada, pasti akan terjadi ketidakamanan. Karena masalah agama itu sangat sensitif. Nah ini perlu diperhatikan di kemudian hari. Kalau kami di tokoh agama sering ketemu, tapi di masyarakat itu masih kurang, nah ini perlu diperhatikan,’’ pungkasnya. (ndi)