Satu Tahun Zul-Rohmi ; Membangun Soliditas, Mentransformasi Ide-ide Besar

Zulkieflimasyah - Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Tahun pertama pasangan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) memimpin NTB diisi dengan tiga pekerjaan besar. Pertama, pemulihan pascagempa. Kedua, membangun soliditas di berbagai lini. Dan pekerjaan ketiga adalah, menyuguhkan ide-ide dan terobosan besar ke tengah-tengah publik.

Gambaran  itu disampaikan oleh Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dalam diskusi terbatas yang digelar Harian Suara NTB di Mataram, Kamis, 19 September 2019.

Selain Gubernur, sejumlah pemangku kebijakan dan tokoh NTB juga hadir dalam diskusi. Mereka adalah Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, Penjabat Sekda NTB, Dr. Ir. H. Iswandi, M.Si, Kepala Bappeda NTB, Ir. Wedha Magma Ardhi, Kapolda NTB, Irjen. Pol. Nana Sudjana AS, MM, Danrem 162/WB, Kol.CZI. Ahmad Rizal Ramdani, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Achris Sarwani, Tokoh Masyarakat NTB, Drs. H. L. Mudjitahid, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB, Prof. Saiful Muslim, Ketua PHDI NTB, I Gede Mandra, Ketua Matakin NTB, S. Widjanarko, Ketua Walubi, I Wayan Sianto dan Akademisi UIN Mataram, Dr. Dedy Wahyudin, LC, MH. Diskusi dipandu oleh Penanggung Jawab Harian Suara NTB, H. Agus Talino.

Untuk diketahui, tahun pertama kepemimpinannya ini menjadi tahun yang penuh kejutan sekaligus penuh dengan pertaruhan dan risiko bagi Zul-Rohmi. Kejutan pertama adalah datangnya gempa bumi yang melahirkan pekerjaan rumah baru bagi duet pemimpin NTB ini.

Rekonstruksi ini menjadi pekerjaan yang cukup rumit, namun juga mendatangkan hikmah mengingat besarnya dukungan berbagai pihak untuk warga NTB. Sinergi dengan berbagai pihak ini membuat NTB bisa bangkit dengan cukup sigap.

Pekerjaan berikutnya yang juga dilakukan secara di saat bersamaan adalah memastikan iklim politik-birokrasi pasca Pilkada tidak merusak ritme kerja birokrasi.

“Oleh karena itu, yang pertama kami lakukan di NTB ini adalah memastikan bahwa NTB dengan pemimpin baru itu kondusif dan nyaman. Tidak ada dendam politik,” ujar Gubernur yang akrab disapa Dr. Zul ini.

Menurut Gubernur, kemenangan keduanya dalam Pilkada tidak boleh diikuti balas dendam politik kepada aparatur birokrasi yang diindikasikan terafiliasi kepada salah satu kompetitor di Pilkada.

“Kalaupun kami menang, siapapun yang mendukung dan tidak mendukung, tidak ada kepala dinas yang dinonjobkan dan diganti. (Karena) kegaduhan ini tidak baik. Kita menghadirkan pesan yang sangat tegas bahwa NTB milik kita semua. NTB bukan milik satu golongan, kelompok,” tegas Gubernur.

Komitmen itu benar-benar diwujudkan oleh Zul-Rohmi. Aparatur birokrasi yang sempat terkotak-kotak saat Pilkada, kembali dirangkul dalam kepemimpinan baru. Stabilitas pun mulai terasa di internal birokrasi, di bawah komando duet Zul-Rohmi.

Sementara itu, di berbagai kelompok masyarakat, umat beragama dari berbagai latar belakang didatangi satu per satu. Diberi tempat secara proporsional. Tak hanya umat dari berbagai latar belakang keyakinan. Elemen-elemen dari etnis berbeda pun disambangi secara merata.

Tak ketinggalan, pendekatan juga dilakukan terhadap elemen-elemen masyarakat yang berbeda kepentingan politik di Pilkada 2018. Bahkan, di hari-hari awal pelantikannya, Gubernur telah bertemu dan bergandengan tangan dengan semua calon kepala daerah yang menjadi pesaingnya di Pilkada NTB 2018.

“Kita datangi  semua. Untuk menghadirkan pesan bahwa kita harus membangun NTB secara bersama-sama,” tegas Gubernur.

Mentransformasi Ide-ide Baru

Setelah membangun pondasi kebersamaan, NTB kini siap untuk menerima ide-ide baru, selain dari kebijakan yang telah dijalankan para pemimpin NTB sebelumnya.

“Karena pemimpin baru, tentu ada ide-ide besar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya kita hidangkan menjadi diskursus publik. Misalnya, mengirim mahasiswa ke luar negeri dalam jumlah yang cukup besar. Kalau mengirim sedikit-sedikit sih biasa saja, bukan out of the box,” ujar Gubernur.

Bagi kebanyakan orang, mengirimkan serta membiayai pendidikan mahasiswa NTB di luar negeri tentu akan melahirkan kerumitan tersendiri. Apalagi, ini bukan tipe kebijakan yang bisa dirasakan manfaatnya dalam waktu dekat. Mereka yang dikirim sekarang, baru akan lulus beberapa tahun mendatang.

Namun, ujar Gubernur, selama ada kemauan, selama itu pula jalan akan terbentang. Lagipula, Gubernur juga menegaskan kebijakan ini secara tidak langsung bisa menjadi sebuah diskursus baru bagi publik.

“Karena pengalaman sebelumnya, kita sudah melakukan hal yang sama dalam skala yang lebih kecil. Tapi mengirimkan sampai seribu orang, tentu bikin orang terhentak. Apa mungkin? Jadi ini menjadi public discourse,” ujarnya.

Gubernur meyakini, jika NTB mampu menuntaskan pengiriman banyak mahasiswa ke luar negeri dalam jumlah besar, hal itu akan menumbuhkan optimisme. Masyarakat NTB akan terpantik semangatnya untuk menaklukkan tantangan yang lebih berat.

Ide lain yang diintroduksi adalah industrialisasi. Ini sesungguhnya merupakan fase berikutnya dari program pengembangan komoditas Pijar (Sapi, Jagung Rumput Laut). Ini juga bukan ide yang sederhana. Sebab, di tingkat nasional pun, industrialisasi masih dianggap sebagai sebuah kebijakan yang sulit mewujud.

“Dan relatif tidak dimulai di pusat. Kita datang dengan gagasan besar, industrialisasi. Kita ambil risiko. Dengan industrialisasi, kita menghadirkan ide besar kepada pemerintah pusat bahwa itu mungkin. Industrialisasi itu tidak identik dengan kepulan asap, hadirnya pabrik-pabrik besar,” ujar Gubernur.

Di NTB, industrialisasi dilakukan dengan pendalaman struktur industri. Sederhananya, industri dimaknai sebagai proses memberikan nilai tambah pada hasil alam NTB. “(Misalnya) air, dibotolkan. Ini sederhana industrialisasi. Setelah dibotolkan, nilainya bertambah.”

Prinsip serupa akan diterapkan di sektor pertambangan. Hingga saat ini, tambang-tambang di NTB hanya menghasilkan komoditas berupa konsentrat. Lalu, dikapalkan dan dibawa ke jepang untuk dioleh di sana dan menjadi komoditas bernilai tinggi.

Nantinya, konsentrat itu harus diolah di daerah sendiri dan tidak perlu dibawa ke Jepang. Smelter yang dibangun di Kabupaten Sumbawa Barat akan menjadi tempat pengolahan ini. Berbagai industri turunan pun akan lahir jika smelter beroperasi.

“Kalau tadinya orang gali tanah, ngirim bahan baku ke luar negeri. Sekarang, untuk menambah kesempatan kerja, mengatasi kemiskinan, tanah yang digali jangan langsung dijual ke Jepang, tapi diolah di tempat kita,” ujar Dr. Zul.

Namun, investasi memang membutuhkan kehadiran teknologi yang tidak sederhana. Juga investasi yang tidak murah. Selain itu, dibutuhkan pula proses pembelajaran yang tidak otomatis.

“Tetapi harus dimulai. Kita disuruh tanam tomat, cabai. Tidak akan bagus nilainya kalau tidak diolah di sini. Ketika suplainya besar, bawang tidak ada harganya, tomat, cabai tidak ada harganya. Jadi industrialisasi itu, tomat, cabai diolah di sini. Jagung tidak lagi kita ekspor kemudian jadi pabrik pakan di tempat lain. Tapi semuanya harus diolah di sini,” tegasnya.

Pasangan Zul-Rohmi menyadari, mereka yang akan mengolah komoditas lokal ini juga haruslah digembleng. Tanpa kehadiran SDM yang berkualitas, industrialisasi hanya akan menjadi sebatas ide di atas kertas.

“Mudah-mudahan dengan hadirnya beberapa kampus bidang teknologi, kemudian kita mengirimkan mahasiswa ke luar negeri, cara pandang kita sedikit demi sedikit berubah,” harap Gubernur. (aan/nas)