Wujudkan NTB Gemilang, Bangun ‘’Learning Center’’ Teknologi Irigasi Tetes, Intervensi Lahan Kering

Wagub NTB, Hj.Sitti Rohmi Djalilah hadir pada Pencanangan Industrialisasi Pertanian NTB,  di Dusun Batu Keruk, Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan, KLU, kemarin. (Suara NTB/humasntb)

Tanjung (Suara NTB) – Tepat 1 tahun kepemimpinan Gubernur  dan Wakil Gubernur NTB, Dr.H.Zulkieflimansyah, SE.M.Sc- Dr.Hj.Sitti Rohmi Djalilah (Zul – Rohmi), Kamis, 19 September 2019, semangat mensejahterakan masyarakat petani melalui sentuhan industrialisasi pertanian mulai digalakkan. Salah satu yang disasar adalah lahan kering di Lombok Utara.

Di area 200 hektar lahan kering di Dusun Batu Keruk, Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Pemprov NTB membangun ‘’learning center’’  budidaya jagung teknologi water drip (irigasi tetes). Teknologi ini sumber dananya dari APBD NTB senilai Rp19,697 miliar. Proyek tersebut sedang ditangani oleh PT. Daya Santosa Rekayasa, asal Jakarta.

Di lokasi, sekaligus dilakukan demonstrasi penanaman bibit jagung menggunakan kendaraan traktor. Jagung yang ditanam telah melalui proses mekanisasi dengan pupuk yang telah disesuaikan dengan PH tanah. Cara ini berbeda dengan cara konvensional di mana petani melakukan pemupukan setelah bibit tumbuh. Melalui cara baru ini, petani diproyeksikan bisa menanam 3 kali setahun dengan hasil panen meningkat 20 persen.

Keterangan yang disampaikan anggota tim teknisi irigasi, Fikri, dalam 1 hektar lahan dibutuhkan 1 rol selang air setara 1.200 meter. Selang efektif dipergunakan selama 3 tahun bahkan lebih jika air dari penampungan difilter untuk menghindari penyumbatan.

Baca juga:  Pimpin Rakor, Gubernur Minta Komitmen OPD Percepat Industrialiasi di NTB

‘’Teknologi ini lebih ekonomis, sejak  dipasang dan setelah itu bisa digunakan bertahun-tahun. Kalau sebelumnya berat di biaya karena tenaga kerja manual. Dengan cara ini tidak karena pupuk cair bisa dialirkan lewat selang,’’ ujar Fikri.

Teknologi ini dirasakan akan sedikit mahal terutama oleh petani. Petani harus membeli 1 rol selang, dan memiliki atau menyewa traktor untuk menanam bibit jagung hasil  mekanisasi.

Wakil Gubernur (Wagub)  NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, memiliki pandangan tersendiri terhadap lahan kering Lombok Utara. Ia optimis, lahan kering di KLU akan menghasilkan secara ekonomi jika dikelola dengan baik.

‘’Saya lihat di negara maju banyak tempat yang terkenal, seperti Botanical Garden Perth, berisi tanaman indah dari berbagai negara,’’ kata Wagub pada Pencanangan Industrialisasi Pertanian NTB,  kemarin di Lombok Utara.

Pengembangan lahan kering menurut dia menjadi mimpi tidak hanya Pemda Lombok Utara, tetapi juga Pemprov NTB. Keberadaan lahan kering tidak hanya menjadi tontonan, melainkan diolah dengan fasilitas yang disediakan pemerintah.

‘’Dengan sentuhan teknologi apa yang tidak bisa. Daerah lain dengan teknologi jauh di belakang, kita lihat masih bisa, kenapa kita tidak. Teknologi ini tidak saja intensifikasi tetapi juga ekstensifikasi, lahan diperluas dan hasil lebih baik,’’ sambungnya.

Baca juga:  Pelaku Industri Difasilitasi Supaya “Naik Kelas”

Ia meyakini, di areal 200 hektar ini petani lahan kering Akar-Akar akan bisa menanam tiga kali dalam setahun. Hanya saja, sebagai sebuah inovasi baru petani memerlukan sumber daya kapital yang sedikit lebih besar pada proses awal. Pemprov dan Pemda KLU dalam hal ini, bisa lebih intens duduk bersama mencari solusi untuk membantu petani.

Sementara itu, Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Akhyar, SH. MH., mengungkapkan luas areal pertanian teknis dan non teknis di Lombok Utara sejumlah 80.953 ha. Dari jumlah itu, 41.000 hektar lebih merupakan lahan kering.

‘’Sangat memungkinkan digunakannya teknologi produksi pertanian. Kita sadari, teknologi sangat penting. Di era sekarang, tidak kenal dan tidak memanfaatkan teknologi, maka kita tidak hanya tertinggal tapi mempercepat ketertinggalan,’’ ujar Najmul.

Ia pun ikut memotivasi semangat masyarakat petani bahwa Pemda Lombok Utara telah memfasilitasi ketersediaan pasar pertanian melalui sektor pariwisata. Hotel-hotel yang banyak di Lombok Utara diharapkan bisa menyerap hasil pertanian masyarakat. (ari)