NTB Mengalami Kekeringan Ekstrem

Infografis update bencana kekeringan nasional. Provinsi NTB masuk dalam 10 besar terdampak paling parah. (sumber : BNPB)

Mataram (Suara NTB) – Bulan September, NTB masih dalam fase kekeringan ekstrem. Daerah Timur Indonesia ini masuk dalam 10 besar provinsi terdampak kemarau terpanjang.  Terdata ada 11 provinsi dengan 109 kabupaten dan kota, 844 kecamatan dan 2.945 desa terpapar kekeringan.

Sesuai data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada sembilan kabupaten dan kota di NTB terdampak kekeringan. Dengan rincian, 69 kecamatan dan 302 desa alami kekeringan.

‘’Di NTB ada tujuh kabupaten yang dinyatakan siaga darurat,’’ kata Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo Kamis, 12 September 2019.

Ditambahkan Agus, sejumlah daerah di NTB juga masuk  dalam 31 kabupaten dan kota siaga darurat dan empat kabupaten yang tanggap darurat.

Baca juga:  Atasi Kekeringan, DPRD dan Pemkab Harus Cari Solusi Bersama

Sementara 10 provinsi lainnya terdampak kekeringan, Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, Sulawesi Selatan

dan Maluku.

Sementara update terbaru dari BMKG, September masih fase kekeringan ekstrem. Soal turunnya hujan di Mataram, Kamis siang kemarin, hanya sifatnya lokal dan sesaat.

‘’Hujannya hanya bertahan sebentar biasanya  dan intensitasnya tidak besar,’’ ujar Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Dewo Sulistio.

Dijelaskannya, monitoring dari Dinamika Atmosfer sampai September ini, masih menunjukkan bahwa di Indonesia masih berada pada musim kemarau.

Baca juga:  400 Hektare Vegetasi di Geopark Tambora Terbakar

Di mana, kata dia, dari monitoring arah angin sampai akhir Septembar masih dominan yang terjadi adalah angin timuran, suhu muka laut juga masih didominasi kondisi dingin. Ini menurutnya, memengaruhi berkurangnya pembentukan awan-awan hujan di wilayah NTB.

‘’Soal adanya hujan di beberapa daerah, untuk saat ini faktor lokal yang lebih dominan, hanya bertahan sementara 1 sampai 5 hari. Sesuai prakiraan curah hujan, bahwa September – Oktober hanya berkisar 0 – 50 mm per bulan, dengan sifat hujan bawah normal (BN),’’ pungkasnya. (ars)