Puncak Kekeringan Ekstrem, BPBD Minim Anggaran dan Armada

Ilustrasi kekeringan (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Saat puncak kekeringan ekstrem berdampak pada kemarau panjang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hadapi sejumlah kendala. Untuk penanganan darurat, terkendala kekurangan anggaran hingga terbatasnya armada pengangkut air.

Menurut Kepala BPBD NTB, H. Ahsanul Khalik, kendala itu dihadapi seluruh BPBD di kabupaten dan kota yang masuk wilayah terdampak kekeringan.

“Kendala yang dihadapi seperti, tidak memiliki armada mobilitas yang memadai, dana yang sangat terbatas. Sementara kebutuhan air mendesak mendesak,” kata Ahsanul Khalik Kamis, 5 September 2019. Bahkan, katanya ada kabupaten yang tak memiliki mobil tangki pengangkut air bersih.  Pemda terdampak berharap bantuan dari BPBD Provinsi NTB dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sebagaimana rilis BMKG, Agustus menjadi fase puncak kekeringan di NTB, ditandai dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang cukup panjang. Jumlah HTH mencapai 60 hari dan terpanjang 130 hari.

Berdasarkan data dari kabupaten dan kota terdampak kekeringan, jutaan liter air sudah didroping ke masyarakat atau jiwa terdampak.

Seperti di Lombok Barat, droping air bersih sudah mencapai 254.000 liter. Dalam prosesnya, BPBD setempat mengdihadapi medan yang berat, tidak memiliki armada mobilitas yang memadai, ditambah dana sangat terbatas.

Baca juga:  Tangani Krisis Air, Hitung Kemampuan Daerah

“Kebutuhan mendesak BPBD setempat, mobil tangka, tandon air  dan anggaran,” sebut Khalik.

Informasi dari BPBD Lombok Tengah, total droping sebesar 1.715.000 liter. Kendala yang dihadapi  kekurangan armada mobil tangka. “Bahkan BPBD Kabupaten Lombok Tengah ini tidak memiliki mobil tangka,” ungkapnya.

Sementara BPBD Lombok Timur,   total droping air sebesar 645.000 liter. Atensi terus dilakukan kepada masyarakat terdampak, dengan berkoordinasi dengan sektor-sektor terkait.  Kendala yang dihadapi hampir sama, terbatasnya anggaran ,  terbatasnya sarana dan prasarana kendaraan tangki air bersih. “ Jarak tempuh droping air yang jauh. Akses jalan ke beberapa titik lokasi terdampak sulit dilalui,” paparnya.

BPBD Lombok Utara sudah melakukan droping air bersih sejumlah 1.930.000 liter . Kendala yang dihadapi juga sama, kurangnya armada untuk droping aira bersih dan anggaran yang terbatas.

BPBD Sumbawa Barat dengan penetapan status siaga dan tanggap darurat bencana kekeringan namun tak ada   data droping air bersih.  Kendala yang dihadapi belum ada anggaran untuk distribusi air bersih.

Baca juga:  NTB Mengalami Kekeringan Ekstrem

Sementara BPBD Kabupaten Sumbawa, upaya penanganan yang dilakukan dengan droping air bersih ke wilayah terdampak sejumlah 1.733.000 liter.   Kendala yang dihadapi, wilayah yang luas, kurangnya armada dan anggaran yang sangat terbatas .

BPBD Dompu, sudah 1.000.000 liter air didroping, dengan kendala yang dihadapi terbataasnya mobil tangka, tidak ada tandon untuk penampupngan air di lokasi terdampak, kurangnya dana untuk pembelian dan pendistribusian air bersih.

Sementara BPBD Kabupaten Bima, upaya penangan dampak kekeringan juga sudah dilakukan, namun tak menyertai data air yang didroping.

Kendala dihadapi juga sama dengan Sumbawa, luasnya wilayah terdampak, kurangnya mobil tangki dan dana yang terbatas.

Terakhir, BPBD Kota Bima, upaya penanganan dengan mendroping air sebanyak 2.000.000 liter. BPBD setempat juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bima dan lembaga Perbankan se Kota Bima  untuk membantu masyarakat terdampak. Kendala yang dihadapi juga pada kekurangan biaya operasional. (ars)