Wagub NTB Paparkan Manfaat Global Geopark Rinjani

Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Suara NTB/dok)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Simposium internasional Asia Pacific Geopark Network (APGN) ke 6  tahun 2019 yang dimotori UNESCO Global Geopark (UGG), sedang berlangsung di Lombok. Simposium ini selain mengenalkan dan membahas geopark di kawasan Asia Pasifik juga mengusung tema besar soal lingkungan, mengajak masyarakat lokal di setiap geopark agar perduli dan paham  bagaimana mengurangi risiko bencana geologi. Tidak hanya bagi keberlangsungan situs warisan geologi namun secara umum untuk kesejahteraan masyarakat.

Secara umum kepentingan Pemprov NTB terkait gelaran APGN 2019 ini adalah bagaimana membangkitkan kepercayaan dunia khususnya pariwisata pascabencana gempa pada tahun lalu.

Geopark Rinjani telah mendapatkan pengakuan sebagai global geopark sejak 2018. Rekomendasi sebagai global geopark tersebut tidak lepas dari peran Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) NTB dalam mendorong Kawasan Rinjani sebagai geopark nasional pada 2018.

Geopark Rinjani termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Kawasan Pengembangan  Pariwisata Nasional (KPPN) NTB. Kompleks hutan Gunung Rinjani memiliki luas 125.000 hektare yang terdiri atas beberapa fungsi hutan. Di mana 41.330 hektare atau 32,86 persen merupakan hutan konservasi yang dikelola Balai TNGR. Gunung Rinjani juga menjadi satu-satunya sumber air untuk 54 sungai atau sekitar 90 persen sungai di Lombok berhulu di Gunung Rinjani.

Banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari keberadaan Gunung Rinjani sebagai destinasi wisata. Tercatat terdapat 90 pemegang ijin track organizer (TO), baik badan usaha maupun perorangan; 449 pemandu wisata; dan 1.157 porter.

Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Hj.Sitti Rohmi Djalilah mengatakan, setelah resmi menjadi cagar biosfer dunia dalam The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Perancis pada Juni lalu, maka agenda besar lainnya setelah deklarasi kawasan Teluk Saleh, Moyo, dan Tambora (Samota) di Pulau Sumbawa adalah menyatukan Tambora ke dalam Samota sebagai konsep konservasi menyeluruh.

Menurut Wagub, pengakuan cagar biosfer memiliki makna penting tentang cara pengelolaan kawasan untuk kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan konservasi, sekaligus didukung kajian ilmiah.

Wagub menegaskan, dengan ditetapkannya Rinjani dan Tambora sebagai cagar biosfer maka Pemprov dan masyarakat NTB telah siap mengalokasikan 30 persen dari kawasan NTB untuk menjadi area konservasi (kawasan hijau), termasuk Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali dan area konservasi lainnya di bawah program pengelolaan terpadu.

“Pengesahan Saleh, Moyo, Tambora atau Samota sebagai cagar budaya dunia merupakan pengakuan dari komunitas internasional atas kerja keras dari masyarakat NTB dan Pemerintah Indonesia,’’ ujar Rohmi. (r)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.