Catatan dari Tiongkok (1)

China dan Peninggalan Sejarah yang Terawat

Wartawan Suara NTB, Raka Akriyani saat berkunjung ke Tembok Raksasa Tiongkok. (Suara NTB/ist)

‘’Tuntutlah Ilmu Hingga Negeri China’’.  Makna pepatah atau perumpamaan ini merupakan pendorong atau penyemangat bagi siapa saja untuk mencari ilmu seluas-luasnya. Cari dan tuntutlah ilmu sejauh apa pun ilmu itu berada.Tidak terkecuali ke Tiongkok (China), salah satu negara besar yang menyimpan segudang ilmu. Salah satunya, ilmu Negeri Tirai Bambu menjaga, merawat dan melestarikan warisan sejarahnya. Wartawan Suara NTB, Raka Akriyani yang tergabung dalam Delegasi Jurnalis Bali, NTB dan NTT berkesempatan berkunjung selama 10 hari (23 Agustus-1 September 2019), melihat dari dekat sejumlah warisan sejarah Tiongkok yang fenomenal. Berikut laporannya.

JARUM jam menunjukkan pukul 08.30 waktu Beijing (sama dengan Waktu Indonesia Bagian Tengah/Wita), ketika pesawat China Airlines dengan nomor penerbangan MU 782 mendarat mulus di Beijing Capital International Airport. Di pesawat ini,  diantaranya mengangkut 10 delegasi Jurnalis Bali, NTB dan NTT didampingi Staf Konjen Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Denpasar, Erika Gunawati. Rombongan tiba di Beijing, setelah delapan jam dan 30 menit terbang dari Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Kehadiran delegasi jurnalis ini, atas undangan Konjen Tiongkok, Mr.Gou Haodong.

Pagi itu, cuaca Beijing cukup panas. Maklum, di bulan-bulan ini, Negara Pimpinan Presiden Xi Jinping itu, sedang musim panas. Namun, cuaca panas tak mempengaruhi semangat para delegasi untuk melihat dari dekat negeri yang penduduknya terpadat di dunia.

Dari bandara  tersibuk di Asia dan terpadat ke dua di dunia setelah Jackson Internasional Airport (Amerika), delegasi Jurnalis Bali, NTB, NTT langsung menuju penginapan. Di sepanjang jalan menuju penginapan, kami disajikan pemandangan kota yang asri dan sejuk di antara gedung-gedung megah menjulang tinggi. Tanaman hias di sepanjang jalan Kota Beijing tertata rapi dan indah dipandang mata. Yang mengagumkan lagi, kota terbesar ke dua di Tiongkok setelah Shanghai ini sangat bersih. Sajian Kota Beijing yang memikat, terasa melenyapkan lelah dan pegal setelah terbang hampir sembilan jam.

Tidak sempat istirahat, hari pertama tiba di Beijing, delegasi langsung mengunjungi Capital Museum China (Museum Nasional China). Museum yang dibangun sangat megah ini merupakan museum terbesar di Tiongkok. Museum ini dibangun untuk mengedukasi seni dan sejarah Tiongkok.

Museum Nasional Tiongkok menurut petugas pemandu, Liu Lusha, dibangun dua bagian. Masing-masing, sisi sebelah timur dibangun dengan bangunan tujuh lantai. Sementara di sisi barat dengan enam lantai. Museum Nasional Tiongkok dibangun sangat modern. Bangunan dilengkapi lift dan sangat nyaman. Di museum ini para pengunjung bisa melihat langsung dokumen sejarah peradaban dan kisah perjuangan politik Tiongkok dari masa ke masa.

Pengunjung ke museum ini setiap hari antara 3000-4000 orang. ‘’Jumlahnya bisa membeludak sampai 5000 orang per hari pada hari-hari libur,’’ sebut Liu Lusha. Antusiasme masyarakat Tiongkok untuk mengetahui sejarah peradabannya sangat tinggi. Para orang tua mengajak serta putra putrinya mengunjungi museum, tidak sekadar berwisata. Yang patut ditiru, melalui museum, mereka mengedukasi generasinya untuk mengetahui dan mencintai warisan sejarahnya.

Antusiasme tinggi warga Tiongkok untuk mengetahui lebih dekat warisan sejarahnya, juga terlihat di kompleks istana besar yang merupakan bekas istana raja dari Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Namanya Kota Terlarang (Forbidden City). Museum istana ini, berlokasi tepat di jantung Kota Beijing. Rata-rata setiap hari, kunjungan ke istana yang dibangun sekitar tahun 1406-1420 itu, mencapai 80 ribu orang. ‘’Jumlahnya bisa lebih banyak jika musim libur,’’ ujar Zhai Yuom Fei, pemandu wisata Kota Terlarang.

Pengunjung dewasa dikenakan biaya 60 Yuan (sekitar Rp 120 ribu). Sedangkan mahasiswa dikenakan setengah

harga dan anak-anak digratiskan.

 

Kota Terlarang yang dipadati pengunjung. (Suara NTB/rak)
Kota Terlarang yang dipadati pengunjung. (Suara NTB/rak)

Kota Terlarang yang Menakjubkan

Memasuki areal Kota Terlarang, rasa takjub tak terelakkan. Istana megah dengan tembok kokoh dan tinggi yang selama ini hanya bisa dilihat melalui film-film kungfu (produksi Tiongkok), bisa dilihat langsung dari dekat.  Kota Terlarang memiliki luas sekitar 720.000 meter persegi. Di atas areal seluas itu, ada 800 bangunan khas istana Tiongkok kuno dengan 8.000 ruangan. Fungsi setiap ruangan berbeda-beda. Jejak sejarah bercerita di setiap ruangan dari peninggalan penghuni istana. Pemandu wisata di sana, secara rinci menjelaskan keberadaan bangunan, ruangan dan fungsinya. Tujuannya, untuk mengedukasi setiap pengunjung.

Dari 800 bangunan di istana itu, salah satu yang paling banyak dikunjungi wisatawan berada di ujung paling timur kompleks Kota Terlarang. Bangunan itu adalah tempat tinggal salah satu selir yang konon paling disayangi Raja Ming. Di bangunan yang dilengkapi beberapa ruangan, masih tersimpan rapi peninggalan selir yang kabarnya terkenal sangat cantik dan pintar. Ada meja, tempat minum, guci-guci besar dan tempat tidur dengan sembilan selimut dilipat  rapi di atasnya. Selir kesayangan raja ini, konon pada akhirnya diangkat sebagai Permaisuri Raja Ming.

Kota Terlarang ditetapkan oleh UNESCO sebagai istana dengan koleksi terbesar struktur kayu kuno di dunia.  UNESCO pada tahun 1987 juga menetapkan peninggalan istana di Tiongkok ini sebagai salah satu situs warisan dunia.

Selain Kota Terlarang, masih di wilayah Beijing juga ada warisan dunia Tembok Besar China (Great Wall of China) yang fenomenal. Panjang tembok ini membentang di atas pengunungan sepanjang  8.885 Km.  Tembok besar ini dibuka untuk umum tahun 1988, setelah tahun 1987, UNESCO menetapkan  Tembok Raksasa Tiongkok  sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Menggunakan kereta gantung menuju pintu utama, pengunjung Great Wall rata-rata sehari mencapai 10 ribu orang dari satu pintu. ‘’Great Wall memiliki dua pintu masuk. Bisa dari Pataling, juga bisa dari pintu Mutian Yu,’’ ujar Miss Chu, pemandu wisata di sana. Di atas perbukitan yang menjadi pintu utama Great Wall, pemandangan indah dan kokohnya Tembok Raksasa Tiongkok, memantik decak kagum dan rasa takjub. Tembok kokoh dibangun mengikuti topografi pegunungan. Sehingga dari kejauhan bangunan tembok terlihat berkelok-kelok, menurun dan menanjak. Berbagai fasilitas pendukung seperti toilet dan tempat istirahat berupa kursi dari batu melengkapi perbukitan menuju pintu utama. Yang mengagumkan, tempat wisata itu sangat bersih.

Pengunjung memperoleh penjelasan rinci tentang bangunan di setiap sudut Great Wall dari pemandu wisata. Jadi pengunjung ke sana, tidak sekadar berwisata menikmati keindahan dan kemegahan Tembok Besar China. Ada misi edukasi wajib diperoleh pengunjung terkait keberadaan warisan sejarah Tiongkok yang telah mendunia itu.

Mengedukasi pengunjung yang sebagian besar adalah warga Tiongkok,  di setiap destinasi wisata bersejarah menurut Ketua Asosiasi Diplomasi Publik RRT, Hu Zhengyue, merupakan sebuah keharusan. Edukasi kepada generasi penerus dilakukan, untuk menumbuhkan rasa memiliki, mencintai, menjaga dan merawat kemudian melestarikan warisan sejarahnya.

Merawat dan melestarikan peninggalan sejarah menurut Hu Zhengyue, menjadi tanggung jawab seluruh rakyat Tiongkok. Sementara untuk biaya operasional setiap warisan sejarah, selain diperoleh dari biaya tiket masuk. Juga ada lembaga khusus yang menyiapkan anggarannya. Sehingga ketersediaan anggaran untuk menjamin keberlangsungan pelestarian warisan sejarah tidak terganggu.  Indonesia umumnya dan NTB khususnya,  juga memiliki banyak dan beragam warisan sejarah. Sepertinya, pola Negeri Tirai Bambu dalam menjaga, merawat dan melestarikan warisan sejarahnya menarik diadopsi. (*)