Respons TGB soal Viralnya Disertasi Tentang Seks di Luar Nikah

TGH. M. Zainul Majdi (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Ketua Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Dr. TGH. M. Zainul Majdi mengkritik disertasi Abdul Aziz perihal Milkul Yamin alias zina halal. Mantan Gubernur NTB dua periode yang akrab disapa TGB ini menilai disertasi itu hanya justifikasi. Bukan merupakan produk keilmuan.

“Kajian ini untuk mencari justifikasi seks nonmarital alias luar nikah. Jadi disertasi ini lebih kepada amal tabririy dibanding amal ‘ilmy,” tulis TGB menanggapi heboh Milkul Yamin Muhammad Syahrur tersebut.

TGB mengurai praktik perbudakan yang sudah ada sebelum datangnya Islam. Menurutnya, syariat Islam bekerja melawan itu dalam dua jalur. Yakni menjadikan pembebasan budak sebagai ibadah yang mulia termasuk penebus dosa tertentu. “Bahkan bahkan menjadi satu dari delapan saluran pemanfaatan dana zakat,” terangnya.

Peraih Doktor Tafsir dan Ilmu Alquran Universitas Al-Azhar Mesir ini menambahkan, Islam membatasi sumber perbudakan hanya pada peperangan. Itu pun dengan catatan. Bahwa apabila musuh mengadopsi hal tersebut.

“Pendekatan resiprokal alias perlakuan setimpal, bukan kaidah umum. Penculikan, perampokan tidak boleh menjadi sumber perbudakan,” urai TGB.

Saat ini, imbuh dia, seluruh dunia sudah meratifikasi penghapusan perbudakan secara total termasuk dalam peperangan sehingga pintu perbudakan sudah tertutup. Seluruh perempuan (manusia) di muka bumi berstatus merdeka.

TGB menjelaskan Milkul Milkul Yamin sebgai istilah Alqur’an yang ditafsirkan para ulama perempuan budak rampasan perang yang boleh digauli karena status budaknya.

Sebagian ulama, terang dia, mengatakan kebolehan digauli harus dengan pernikahan. Menurut pandangan ini, budak itu harus dinikahi dulu baru boleh digauli. Beda dengan istri biasa adalah dari segi asal.

“Milkul yamin berasal dari budak, istri dari wanita merdeka. Namun keduanya harus dinikahi terlebih dahulu. menjadikan Milkul yamin sebagai justifikasi seks luar nikah jelas tidak memiliki dasar yang kuat. Setengah kuatpun tidak,” kata TGB.

Kalau pun pendapat pertama yang digunakan, ucap TGB, kenyataannya adalah seluruh dunia termasuk negara Islam telah sepakat menghapus perbudakan termasuk dalam peperangan dan mengkriminalkan pelakunya.

“Memperluas makna milkul yamin selain budak rampasan perang adalah kecerobohan sekaligus kebodohan. Persis seperti kecerobohan dan kebodohan Syahrur dalam menafsirkan banyak kosakata dan istilah dalam Alquran,” paparnya.

Tesis utama Syahrur mengurai Alquran turun sebagai pedoman untuk semua manusia dan sepanjang masa, karena itu harus bisa disesuaikan dengan cara hidup apapun dimanapun. Alquran harus sesuai, disesuaikan dan dipaksa sesuai.

“Dalam kasus ini, karena seks di luar nikah adalah jamak di banyak tempat maka Alquran harus menyesuaikan. Dengan ilmu cocokologi alias gothak gathuk, ketemulah milkul yamin,” ungkapnya.

TGB mengakhiri dengan sebuah ungkapan yang sering dikutip Imam Alusi dalam tafsirnya. “Membaca Syahrur berujung pada ungkapan yang sering dikutip Imam Alusi dalam tafsirnya : نسمع جعجعة و لا نرى طحنا. Suara alu bertalu-talu, namun tak ada tepungnya,” tutup politisi Partai Golkar ini. (*)