TGB Serukan Islam yang Moderat

TGH. M. Zainul Majdi (Suara NTB/yon)

Mataram (Suara NTB) – Ketua Umum OIAA Indonesia, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, mengatakan bahwa dalam Islam antara agama dan negara tidak bisa dipisahkan. Sebagaimana yang disampaikan Almagfurullah Maulana Syaikh, TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid semasa hidupnya, agar umat Muslima ber-Islam dengan Islam yang moderat.

‘’Wahai Indonesia, engkau adalah lambang persatuanku. Jiwaku sebagai tebusan bagimu,’’ ujar Tuan Guru Bajang (TGB)—sapaan akrab TGH. M. Zainul Majdi, mengutip salah satu bagian dari syair Maulana Syaikh dalam pengajian 1 Muharram 1441 Hijriyah yang menjadi agenda rutin warga Nahdlatul Wathan yang dilakukan sejak pendiri NWDI, NBDI, dan NW Almaghfurlah Maulanasyeikh TGKH. Muhammad Zainddin Abdul Madjid. Pengajian berlangsung  di Aula YPH-PPD NW Pancor, Minggu, 1 September 2019.

TGB berpesan agar jangan sampai mengikuti kelompok-kelompok yang menggunakan bendera dengan mengatasnamakan Islam, namun ajarannya justru ingin memecah belah umat Islam.

‘’Saya berpesan kepada seluruh warga NW untuk jangan sampai ikut ke dalam kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam dan menggunakan bendera-bendera Islam namun tujuannya justru ingin memecah belah umat Islam yang ada dalam satu bangsa dan negara,’’ katanya mengingatkan.

TGB mengajak umat Muslim untuk ber-Islam dengan Islam yang moderat. Islam yang tidak memisahkan antara agama dengan negara. TGB dalam kesempatan ini juga mengingatkan pentingnya kehadiran sahabat dalam perjuangan.

Menurut TGB, kehadiran sahabat itu sangat penting dalam menemani setiap gerak langkah perjuangan kebaikan yang dilakukan. ‘’Hadirnya sahabat yang setia mendukung saat kita berjuang, itu menjadi kenikmatan yang luar biasa bagi kita,’’ jelas mantan Gubernur NTB dua periode ini.

Kepada para santri dan santriwati, TGB berpesan untuk senantiasa menjaga adab dan akhlak seorang santri serta tidak ikut-ikutan mengikuti paham ke-Islaman dari seseorang yang karena memiliki banyak followers di media sosial. ‘’Lucu sekali kalau ada santri yang lama mengaji kemudian ikut kepada seseorang yang baru belajar Islam kemudian menjadi ustadz di media sosial,’’  terang doktor tafsir Alquran dari Universitas al Azhar Mesir ini.

Selain itu, TGB juga berpesan untuk menjadi santri/santriwati yang bisa ikut serta menyebarkan faham-faham baik yang telah diajarkan oleh para tuan guru di pondok pesantren. Salah satu caranya adalah dengan menulis ilmu-ilmu yang telah didapatkan kemudian disebarluaskan melalui berbagai media yang ada.

‘’Ada banyak imam-imam hebat selain dari imam Mazhar yang kita kenal namun ajarannya tidak bertahan lama sampai dengan saat ini. Karena tidak ada murid-muridnya yang menulis lalu kemudian menyebarkannya,’’ ujar  TGB.

Ketua Baznas NTB TGH. Dr. Salimul Jihad, menyampaikan supaya umat Islam mengisi momentum-momentum atau hari-hari penting dalam Islam dengan memperbanyak mengingat Allah SWT. TGH. Salim yang juga sebagai salah satu masyaikh di MDQH NW Pancor ini menyebut, setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan dalam mengisi momentum hari-hari besar umat Islam termasuk 1 Muharram.

 Pertama, memperbanyak memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa dan salah yang telah kita lakukan pada tahun sebelumnya. Kedua, memohon kepada Allah supaya bisa terus dapat memperbanyak amal-amal baik di hari-hari sisa hidup kita. Ke tiga, memuhasabah diri. ‘’Bertambahnya usia harusnya diikuti dengan bertambahnya kebaikan yang kita lakukan,’’ pesannya. (yon)