Proyek “Bypass” LIA – Kuta Gunakan Pinjaman Bank Dunia Rp1,4 Triliun

Ilustrasi Sirkuit MotoGP di Kawasan Mandalika (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Proyek by pass Lombok International Airport (LIA) – Kuta, KEK Mandalika ditargetkan tuntas pertengahan 2021 mendatang. Proyek ini akan dikerjakan multiyears selama dua tahun, yakni 2020 dan 2021.

Pembangunan proyek tersebut menggunakan pinjaman Bank Dunia sebesar Rp1,4 triliun. “LIA – Kuta ini diarahkan ke loan (pinjaman). Untuk memulai tahapan nol, harus lengkap syaratnya,” kata Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR NTB, Ir. Syahdan, MT., dikonfirmasi Suara NTB, Senin, 26 Agustus 2019.

Dana pinjaman bank dunia itu merupakan bagian dari proyek Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Project (ITDP). Di mana, NTB mendapatkan bantuan sekitar Rp6 triliun. Anggaran sebesar ini akan dipergunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur di sekitar KEK Mandalika.

Baca juga:  Pembayaran Lahan Proyek ‘’By Pass’’ LIA-KEK Dititip di Pengadilan

“Kalau by pass LIA-Kuta, karena sekarang definitif dananya dari loan. Maka semua persyaratan. Tahapannya besok loan ini kita akan lelang. Untuk keluar lelangnya, harus lengkap semua persyaratannya,” terang Syahdan.

Karena dananya bersumber dari loan, maka harus ada Land Acquisition and Resettlement Action Plan (LARAP) atau Rencana Kerja Pengadaan Tanah dan Permukiman Kembali (RKPTPK). Berbeda jika dananya murni dari APBN, maka tidak perlu ada LARAP. “Tapi kalau bantuan luar negeri, kita diwajibkan untuk membuat LARAP,” terangnya.

Meskipun harus ada LARAP, tetapi kata Syahdan prosesnya tidak dimulai dari awal. Pasalnya, LARAP ini dokumennya dari pembebasan lahan. Syahdan menjelaskan BPN sudah selesau melakukan pengukuran lahan yang terkena dampak proyek bypass LIA – Kuta.

Baca juga:  MGPA Luncurkan Desain Resmi MotoGP Mandalika

Pada 6 September mendatang, akan dilakukan kontrak untuk appraisal. Tim appraisal akan bekerja sekitar 1 -1,5 bulan. Setelah itu akan diketahui besaran nilai atau harga pembebasan lahan. Setelah itu dilakukan pembayaran pembebasan lahan oleh pemerintah.

“Kita akan lelang pengerjaan konstruksinya  November atau Desember. Supaya awal Januari 2020, kita sudah mulai bekerja. Kita perkirakan, pertengahan 2021 sudah selesai konstruksinya,” ungkapnya.

Jalan bypass sepanjang 17 km tersebut akan dibagi menjadi lima paket dengan pola pengerjaan multiyears. Pembagian paket pekerjaan ini dimaksudkan agar pengerjaannya bisa tuntas tepat waktu.

“Nanti kita kontrak sekali lima paket pekerjaan. Sepanjang 17 km kita bagi lima paket pekerjaan. Kita keroyok. Kita selesaikan dengan cara tak biasa. Strateginya kita gempur cara pengerjaannya,” tandas Syahdan.(nas)