Bangkitnya Wisata di Rinjani, Setahun Pascagempa

Wisatawan yang dipandu guide dalam pendakian Rinjani (Suara NTB/ars)

Selong (Suara NTB) – Seperti mendapati kehidupan baru dari sumber lama, para pelaku wisata menyambut antusias dengan dibukanya pendakian Rinjani. Peluh para porter dan guide kembali bercucur melayani perjalanan wisatawan, yang berarti mereka sedang mendulang rupiah. Bagaimana kehidupan mereka setelah jalur trekking dibuka?

Musik cilokak Sasak mengalun merdu dari loudspeaker terselip di salah satu keranjang yang dipikul Hadianto (30). Sesekali lagu campur sari. Pada playlist berikutnya paling aneh,  lagu Sabyan Gambus versi remix, khas suasana diskotik. Tapi begitulah cara Anto – sapaan Sudianto –menikmati perjalanannya.

Dua keranjang yang dipikulnya sesak dengan barang barang dan logistik kebutuhan pendaki yang membayar jasanya untuk satu trip rute Senaru  – Pelawangan. Satu trip biasanya menghabiskan waktu lebih dari satu hari, karena tamu akan memilih menginap di Pelawangan sebelum turun kembali.

Per hari tarif standar Rp 200.000. Relatif murah untuk ukuran beratnya beban antara 15 sampai 30 Kg, belum lagi risiko cidera yang harus ditanggung. Tapi bagi Anto, itu sudah ideal dan memahami tiap pekerjaan ada risikonya. Paling disyukurinya, Rinjani sudah normal setelah diguncang gempa bumi Juli – Agustus lalu. Baru kali ini jasanya sebagai porter setelah hampir setahun terpuruk, jadi korban gempa sekaligus kehilangan pekerjaan.

Embun menetes dari pohon pohon menjulang khas hutan tropis, menambah udara semakin dingin menusuk tulang. Anto sudah menempuh jarak 5,5 Km menanjak menuju pos 3. Beruntung rindangnya pohon menjadi lapisan penahan sengatan matahari siang itu tidak langsung ke kulitnya. Porter asal Dusun Tumpang Sari, Desa Senaru, Kecamatan Bayan itu terbiasa tanpa baju, agar keringatnya leluasa bercucur.

Perjalanan Jumat (16/8) lalu itu, ia bertemu dan bertegur sapa dengan puluhan porter asal desa sama. Sesekali ia berpapasan dengan porter yang seharisebelumnya melayani satu trip tamu, kemudian menerima orderan lagi di hari berikutnya. “Ada sekitar 10 orang teman Porter tadi yang naik lagi. Istirahatnya cukup semalam. Itu sudah biasa,” kata Anto.

Baca juga:  Ketika Wisatawan Mancanegara Hilang Rasa Khawatir

Seperti Khairul Hamzah, pramuwisata yang menemani dua tamu asal Perancis Jumat dan Sabtu lalu, pada Minggu (18/8) lalu ia mendaki lagi menjadi pemandu wisatawan asal Australia. “Saya Cuma istirahat satu malam, terus besoknya naik lagi, karena ada tamu yang kontak saya,” kata Khairul Hamzah. Bagi pendaki biasa, jadwal padat ini tentu mencengangkan. Sebab butuh waktu istirahat beberapa hari untuk recovery tenaga dan mencari tukang urut untuk pemulihan tulang yang terasa remuk.

Erol sapaan Khairul Hamzah adalah pengelola Trekking Organizer (TO) yang mandiri, karena sekaligus menjadi guide untuk tamu yang booking order melalui situsnya. Agustus adalah musim pendakian, bersamaan dengan liburnya aktivitas di Eropa. Selain Australia, wisatawan dari Inggris, Perancis, Belanda, termasuk dari Asia lainnya, Cina, Jepang, Korea.

Catatan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), wisatawan asing sangat dominan di jalur pendakian via Senaru, Lombok Utara menuju pinggir kawah (crater of rim) Pelawangan.  Data dari pintu Senaru pada Jumat dan Sabtu, pendaki asing mencapai 163 orang. Sementara pendaki lokal hanya 17 orang, termasuk Suara NTByang ditemani petugas TNGR Hadianto alias Capung, dan rombongan mahasiswa UIN Mataram, termasuk pendaki asal Jakarta.

Ini kemudian membuat para pengurus TO yang membawahi guide dan porter menjadi sibuk, bahkan kewalahan melayani tamu ketika sedang ramai ramainya. Jika dalam sebulan penuh mereka melayani tamu hingga 15 kali saja, penghasilan per trip untuk dua hari bisa mencapai Rp 6 juta. Inilah saat saat yang paling mereka tunggu, kebangkitan pariwisata Rinjani sejurus dengan kebangkitan perekonomian mereka.

Perjalanan mendaki pada jarak 9,5 Kg menuju Pelawangan, relatif lebih singkat. Waktu tercepat enam sampai tujuh jam, atau setengah perjalanan ketika menanjak.  Disela sela nafasnya yang tersengal sengal, Sam, turis asal Australia terkagum kagum dengan atmosfer hutan, flora dan fauna di Rinjani. Sepanjang perjalanan naik hingga turun, akan mendapati pohon purba seperti Bakbakan atau dengan nama latin Angelhardtia Sipcata. Atau jenis pohon paling banyak ditemui seperti Kalibambang atau dengan nama latin Acer Laurinum Hassk. Sementara fauna yang paling banyak ditemui adalah jenis monyet, Elang, Kakaktua dan Punglor.  Pada jarak 800 meter menuju Pelawangan adalah tempat suburnya Anggrek dan bunga endemik Edelweiss.

Baca juga:  Ketika Wisatawan Mancanegara Hilang Rasa Khawatir

Ketua Association  Trekking Organization Senaru (ATOS) Sumatim mencatat, tren membaiknya angka kunjungan wisatawan lewat jalur Senaru.

“Alhamdulillah sudah mulai normal. Setiap hari rata rata 60 orang per hari untuk rute sampai Pelawangan saja,” ujarnya. Ceritanya akan berbeda jika jalur menuju Danau dan puncak Rinjani dibuka, pengunjung diperkirakan akan mencapai 200 orang per hari.

“Seandainya puncak dan danau sudah dibuka, pasti lebih dari 200 orang per hari. Ini kita bisa lihat di web teman teman, banyak tamu yang mau ke puncak dan danau,” ungkap Sumatim.

Ia menyelipkan  harapan, agar jalur menuju puncak dan danau segera  ditata sehingga direkomendasikan dibuka kembali demi peningkatan ekonomi masyarakat di lingkar Rinjani.

Kepala Balai TNGR Sudiyono menyebut pulihnya Rinjani berdasarkan data kunjungan. Selain melalui jalur Senaru yang diserbu wisatawan asing, hal sama terjadi di jalur lain. Meski tidak seramai situasi normal, tapi menunjukkan tanda tanda kebangkitan pariwisata Rinjani.

Jika pada akhirnya pendakian membawa dampak positif bagi TO, porter dan guide, itulah yang diharapkan pihaknya. Dalam Standard Operational Procedure (SOP)  bahwa pendaki asing khususnya, harus melalui TO lokal, karena ada kehidupan profesi lain di dalamnya seperti pramuwisata dan para porter. Soal jalur menuju puncak dan danau, hasil survei terakhir masih berbahaya untuk dilalui sehingga tidak direkomendasikan dibuka. (ars)