Proyek Jembatan Lombok – Sumbawa Ditawarkan ke Investor, BUMN Siap Beri Penjaminan

Ilustrasi jembatan antarpulau. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) siap menjamin pembiayaan proyek jembatan Lombok – Sumbawa. Apabila ada investor yang berminat, PII akan mendukung pembiayaan jembatan yang akan menghubungan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa tersebut.

‘’Jembatan Lombok – Sumbawa salah satunya yang dibahas dan ditawarkan ke PII. Respons mereka sangat positif,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB, Ir. H. Azhar, MM dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Senin, 12 Agustus 2019 siang.

Bentuk investasinya perlu dikaji lebih mendalam. Apakah bentuknya investasi cepat atau lambat. Kalau memungkinkan, jembatan Lombok – Sumbawa adalah jalan tol.

‘’Tetapi itu nanti akan dikaji analisis FS-nya lebih mendalam. Jembatan Lombok – Sumbawa ini masih rencana. Kalau ada investor yang mau, nanti mereka (PII)  langsung lakukan kajian,’’ kata Azhar.

Jika ada investor yang berminat membangun jembatan Lombok – Sumbawa, lanjut Azhar, PII akan melakukan kajiannya. Baik feasibility study (FS) maupun Detailed Engineering Design (DED). ‘’Jadi daerah hanya memandu saja. Sudah kita tawarkan, PII siap membantu kalau ada investor yang berminat,’’ tandasnya.

Sebelumnya, Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M. Sc, M.TP mengungkapkan sesuai hasil pra studi kelayakan atau pre-FS yang dilakukan konsultan dari Korea, biaya untuk konstruksi pembangunan jembatan sebesar Rp850 miliar sampai Rp1 triliun per kilometer. Artinya, dengan panjang jembatan 16,5 km, total biaya konstruksi paling sedikit Rp16,5 triliun. Jika ditambah dengan asesorisnya, maka butuh biaya sekitar Rp20 triliun.

Bagi pemerintah provinsi, kata Ridwan, akan memastikan kelayakannya secara ekonomi. Menurut perhitungan dengan investasi sebesar itu, akan kembali modal sekitar 20 tahun. Ketika itu layak secara teknis dan ekonomis juga akan dilihat dari aspek lingkungan.

Menurutnya, setelah studi kelayakan tuntas dilakukan, maka proposalnya dapat diajukan ke pemerintah pusat dan swasta. Ia mengatakan, keberadaan jembatan Lombok-Sumbawa cukup penting karena merupakan urat nadi jalur logistik nasional dari Aceh ke NTT.

Keberadaan jembatan ini penting untuk interaksi antardua wilayah, yakni Pulau Lombok dan Sumbawa. Selain itu, keberadaan industri smelter dan industri turunannya juga menjadikan jembatan Lombok-Sumbawa patut menjadi perhatian untuk direalisasikan.

‘’Dengan adanya jembatan ini akan memberikan kemudahan yang luar biasa. Tidak saja bagi orang KSB, tetapi orang yang bekerja di industri smelter dan industri turunannya yang ada di Lombok Timur dan sekitarnya,’’ katanya.

Dengan adanya jembatan ini maka jarak tempuh dari Kayangan – Poto Tano akan menjadi 15 menit. Berbeda jika menggunakan kapal penyeberangan Kayangan-Poto Tano, jarak tempuhnya bisa sampai dua jam. (nas)