Hari Raya Kurban Ajarkan Optimisme Wujudkan Mimpi-mimpi Besar

Suasana salat Hari Raya Idul Adha di Masjid Hubbul Wathan IC NTB, Minggu, 11 Agustus 2019 pagi. Seribuan warga dari berbagai penjuru Kota Mataram menghadiri salat Hari Raya Idul Adha di masjid yang menjadi ikon NTB tersebut. Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah saat menyerahkan sapi kurban. (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc mengatakan, Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban mengajarkan optimisme kepada umat Islam untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar di masa mendatang. Setahun yang lalu, masyarakat NTB merayakan Hari Raya Kurban dengan cara yang berbeda. Karena beberapa saat sebelum Hari Raya  Kurban, masyarakat NTB disapa oleh bencana gempa bumi beruntun yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya.

‘’Alhamdulillah, setahun kemudian. Inflasi bisa kita tekan, pertumbuhan ekonomi membaik, kohesi sosial kita menjadi lebih baik,’’ kata gubernur, sebelum pelaksanaan salat Hari Raya Idul Adha di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center (IC) NTB, Minggu, 11 Agustus 2019 pagi.

Pelaksanaan salat Hari Raya Idul Adha di IC NTB diimami Ustadz H. Ahyar Muhsin dan khatib, Dr. KH. Subhan Abdullah Acim, MA. Salat Hari Raya Kurban di IC dihadiri seribuan jemaah dari penjuru Kota Mataram yang memenuhi seluruh area masjid lantai I dan II. Serta banyak lagi jemaah di halaman IC.

Gubernur berharap dengan kohesi sosial masyarakat NTB yang semakin baik. Cita-cita mewujudkan NTB Gemilang, bukan hanya wacana. Tetapi akan mampu direalisasikan.

‘’Hari Raya Kurban, sebenarnya menghasilkan satu pesan sederhana. Bahwa umat Islam sejatinya diajarkan untuk optimis dalam memandang masa depan,’’ kata Dr.Zul.

Gubernur menegaskan masa depan senantiasa akan ada pada orang-orang yang optimisme terhadap mimpi-mimpinya. Agama Islam mewajibkan jemaahnya untuk melaksanakan ibadah  haji ke Tanah Suci Mekah.

‘’Agar semua kita punya energi untuk punya optimisme dalam  menyongsong masa depan. Allah mewajibkan kita yang beriman dan beragama Islam, setidaknya sekali dalam hidup punya cita-cita menuju Mekah,’’ katanya.

Umat Islam yang berada di kampung-kampung yang kecil, tempat yang sunyi tak terkungkung dengan kondisi daerah yang kekeringan. Atau kondisi yang terkungkung kesempitan.  Tapi setidaknya mereka  diberikan harapan bahwa suatu saat mereka punya cita-cita untuk  mengunjungi Baitullah.

Dr. Zul mengatakan, mempunyai cita-cita atau mimpi  besar adalah satu elemen menjadi  sukses di masa yang akan  datang. Dengan spirit Hari Raya Kurban, masyarakat NTB diharapkan tetap memelihara asa, memelihara harapan untuk tetap optimis punya cita-cita, mimpi besar di masa yang akan datang.

Sekarang, kata Dr. Zul, banyak ditengarai oleh para ahli bahwa pemuda-pemuda, masyarakat tidak punya  mimpi dan cita-cita besar. Banyak anak-anak muda mati di usia 30 tahun tetapi dikubur di usia 60 tahun. Artinya, pada masa usia  30 – 60 tahun,  tak ada produktivitasnya lagi.

‘’Mudah-mudahan dengan hadirnya Idul Kurban, dengan hadirnya  ibadah haji. Mengingatkan kita umat Islam diwajibkan punya cita-cita besar di masa mendatang,’’ harapnya.

Dr. Zul mengatakan,  spirit dari pelaksanaan ibadah haji adalah perjalanan spiritual untuk  melihat masa depan. Semua kita akan merenungi suatu hal penting untuk menghadapi kematian.

‘’Perjalanan  haji adalah perjalanan ke dalam diri kita. Untuk menyadari, kita pun akan kembali kepada Allah dan haji adalah proses sebenarnya,’’ tandas orang nomor satu di NTB ini.

Sementara itu, Khatib, Dr. KH. Subhan Abdullah Acim, MA mengatakan Hari Raya Kurban merupakan momentum untuk introspeksi diri dalam rangka menggapai ridho Ilahi. Dengan meneladani semangat Kurban yang ada pada diri Nabi Ibrahim AS.

Karena hakikat ibadah Kurban adalah siap berkorban untuk kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Dan ibadah Kurban yang disyariatkan bukan sekadar menyembelih binatang kurban. Kemudian dagingnya disedekahkan kepada fakir miskin saja.

Akan tetapi makna yang terkandung meliputi aspek yang lebih luas daripada itu. Misalnya, dalam konteks kekinian di sekitar lingkungan hidup kita. Pengorbanan juga bisa dilihat dari pengorban seorang pemimpin yang berusaha untuk menyejahterakan rakyatnya.

Pengorban seorang istri terhadap suami dan anak-anaknya. Begitu juga sebaliknya, pengorbanan anak terhadap kedua orang tuanya. ‘’Seorang pemimpin yang adil terhadap rakyatnya dan berusaha memberikan kontribusinya bagi mereka adalah wujud pengorbanan,’’ kata Subhan.

Ia melanjutkan, seorang suami sebagai kepala rumah tangga berjuang membanting tulang demi manafkahi dan membahagiakan keluarganya adalah wujud pengorbanan. Begitu juga seorang istri mengabdi setia kepada suaminya juga sebagai wujud pengorbanan.

Orang tua yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya sehingga menjadi berhasil, juga wujud pengorbanan. Seorang anak yang taat dan patuh terhadap orang tuanya juga wujud pengorbanan.

Oleh karena itu, berbagai macam pengorbanan dan mendahulukan kepentingan orang lain menjadi bagian dari keharusan dalam bangunan masyarakat. Yang tanpa keberadaannya, masyarakat tidak akan dapat hidup dengan bahagia.

Untuk itu, masyarakat sangat berhutang budi dalam setiap kenikmatan hidup material maupun non material di daerah NTB terhadap orang-orang yang telah berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri mereka sendiri. Sehingga terwujud kemajuan NTB seperti saat ini.

“Maka sepatutnya lah jika kita melanjutkan rangkaian pengorbanan mereka itu dengan menghadirkan aksi nyata dalam karya-karya terbaik kita dalam menggapai NTB yang Gemilang. Sehingga kita dapat menyampaikan kenikmatan ini kepada generasi berikutnya seperti yang dilakukan oleh  generasi sebelumnya,’’ ajaknya. (nas)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.