NTB Tuan Rumah Pertemuan Internasional Jaringan Cagar Biosfer Dunia

Gunung Rinjani, salah satu cagar biosfer dunia. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Selain menjadi tuan rumah simposium internasional jaringan Geopark Asia Pasifik, September mendatang. NTB kembali akan menjadi tuan rumah pertemuan internasional Jaringan Cagar Biosfer Kawasan Asia Tenggara (ASEAN) pada 2020 mendatang.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Syamsudin, S. Hut, M. Si mengatakan, NTB ditunjuk menjadi tuan rumah pada acara The International Coordinating Council Of The Man, And The Biosphere Programme, Unesco di Paris, 17 – 21 Juni 2019 lalu.

‘’Sekitar bulan Juni-Juli tahun depan, kita dipercaya oleh Unesco sebagai tuan rumah pertemuan internasional jaringan cagar biosfer dunia kawasan ASEAN,’’ kata Syamsudin dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 9 Agustus 2019 siang.

Ia mengatakan, negara ASEAN akan menghadiri pertemuan internasional tersebut. Seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Kamboja, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Timor Leste dan negara-negara lainnya. Ia menyebut akan datang delegasi dari 15 negara.

‘’Lokasinya masih diidentifikasi apakah di Tambora atau Rinjani. Mungkin di Lombok tempat acaranya, tapi kegiatan lapangannya di Tambora. Kita masih identifikasi, mana yang memungkinkan,’’ ujarnya.

Syamsudin menjelaskan, Pemprov memiliki waktu untuk melakukan perbaikan dan pembenahan sarana prasarana pendukung. Seperti papan informasi atau signboard pada lokasi tertentu yang lebih spesifik di kawasan inti, penyangga dan transisi.

Baca juga:  TNGR Paksa Wisatawan Asing Turun dari Rinjani

Kemudian pada lokasi-lokasi yang menjadi tempat pemulihan tanaman-tanaman endemik baik di Cagar Biosfer Rinjani maupun Samota. Ia mengatakan, di Cagar Biosfer Rinjani, ada sejumlah tanaman endemik seperti anggrek dan jamur yang hanya bisa tumbuh di Rinjani. Kemudian di Cagar Biosfer Samota ada hewan endemik seperti cicak jailangkung.

Masalah illegal logging terutama di kawasan Gunung Tambora juga menjadi fokus perhatian sebelum perhelatan pertemuan internasional jaringan cagar biosfer dunia di NTB. Syamsudin mengatakan, pihaknya sekarang bekerja secara optimal melalui Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang ada di Pulau Sumbawa.

Pihaknya mengoptimalkan peran seluruh KPH bersama masyarakat setempat untuk mencegah illegal logging dan perambahan hutan. ‘’Minimal di kawasan inti tidak terjadi illegal logging. Yakni kawasan konservasi dan hutan lindung,’’ tandasnya.

Kawasan Teluk Saleh, Moyo dan Tambora (Samota) resmi menyandang status sebagai cagar biosfer dunia. Penyerahan sertifikat Samota menjadi cagar biosfer dunia dilakukan dalam acara The International Coordinating Council Of The Man, And The Biosphere Programme, Unesco di Paris, 17 – 21 Juni 2019.

Pemprov NTB memiliki sejumlah alasan untuk mendorong agar Samota dijadikan cagar biosfer dunia. Pertama, karena Samota berada di antara bukit dan pegunungan yang di dalamnya terdapat berbagai flora dan fauna yang dilindungi.

Baca juga:  Status Gunung Rinjani Waspada Level II

Selain itu, Samota juga merupakan lokasi dari Gunung Tambora yang diketahui pernah menjadi salah satu gunung yang mengalami erupsi volcano terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Kedua, deklarasi Samota menjadi cagar biosfer diharapkan dapat memfasilitasi dan mempercepat pemerintah daerah dalam upaya mencapai SDGs di daerah masing-masing,

Ke tiga, dengan dideklarasikannya Samota sebagai cagar biosfer, akan memberikan manfaat kepada NTB dalam rangka melindungi sumber alam dan mempercepat kesejahteraan ekonomi dan sosial di dalam provinsi tersebut.

Ke empat, Rinjani dan Samota akan menjadi tuan rumah 13rd South East Biosphere Reserve Network atau pertemuan internasional jaringan cagar biosfer dunia kawasan ASEAN pada 2020. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi NTB dengan mendatangkan pengunjung dan juga upaya memperbaiki kondisi di daerah. Kelima, dengan dideklarasikannya Samota sebagai cagar biosfer, menjadi bukti dan komitmen Pemprov NTB mendukung pengembangan berkesinambungan.

Ada sejumlah manfaat yang bisa diperoleh dengan ditetapkannya Samota menjadi cagar biosfer dunia. Pertama, hal ini akan memberikan kontribusi dalam rangka mewujudkan cita-cita konvensi keanekaragaman hayati.

Kedua, akan menjadi media kerjasama antar pengelola cagar biosfer di seluruh dunia. Ketiga, dapat digunakan sebagai penelitian ilmiah, pemantauan global dan pelatihan pakar dari seluruh dunia. (nas)