32 Kecamatan di NTB Alami Kekeringan Ekstrem

Ilustrasi lahan kering (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Bulan Agustus dipastikan jadi puncak kekeringan meteorologis di Provinsi NTB. sedikitnya 32 kecamatan alami kekeringan ekstrem   akibat hujan pada dasarian I (10 hari) pada awal Agustus sangat rendah. BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat mengimbau masyarakat untuk waspada  puncak musim kemarau.

‘’Peluang kejadian hujan pada dasarian I Agustus 2019 di seluruh wilayah NTB masih rendah. Hujan dengan kategori kurang dari 20 mm per dasarian pada umumnya memiliki peluang kurang dari 10  persen,’’ kata Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat I Gede Widi Hariarta Selasa, 6 Agustus 2019.

Ranking wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dengan kategori kekeringan ekstrem, diantaranya Alas Barat (95 hari),   Lape (93 hari),   Sape, Raba, Labuhan Pandan (92 hari),  Woha, Bolo, Pajo (90 hari),  Belo, Wawo, Moyohulu (89 hari),  Madapangga (88 hari),   Langgudu, Huu, Kilo, Kota Sumbawa (87 hari),   Buer, Batulanteh (86 hari),  Kempo (85 hari),   Saneo Woja (84 hari),   Palibelo Panda (83 hari), Orong Telu (82 hari). Rangking berikutnya, Raba Kota Bima (70 hari),  Sambik Bangkol (67 hari),  Asakota Jatiwangi, Batukliang, Tanjung (64 hari), Donggo Ndano, Manggalewa, Senaru, Alas, Taliwang (63 hari).

Baca juga:  Kemarau Panjang, Warga Rebutan Air Bersih

 Dengan masuknya puncak musim kemarau, ditambahkan Forecaster on Duty BMKG,  Herni Susanti, masyarakat diimbau agar waspada dan berhati – hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan. Seperti potensi kekeringan, kekurangan air bersih  dan potensi kebakaran lahan khususnya pada wilayah rawan kekeringan atau wilayah dengan kategori HTH lebih dari 60 Hari.

Baca juga:  Kemarau Panjang, Warga Rebutan Air Bersih

Sementara pada dasarian III Juli 2019 hujan yang terjadi di NTB berada pada kategori rendah, kurang dari  20 mm per dasarian. Di mana pada dasarian III pada umumnya tidak terjadi hujan di seluruh wilayah NTB. Sifat hujan pada umumnya berada pada kategori Bawah Normal (BN).

‘’Dari Monitoring HTH  di Provinsi Nusa Tenggara Barat, berada pada kategori menengah atau 11-20 hari tanpa hujan, hingga kekeringan ekstrim lebih dari 60 hari tanpa hujan,’’ paparnya.

Analisis angin menunjukkan Angin Timuran masih mendominasi di wilayah Indonesia, khususnya di Provinsi NTB. Kondisi tersebut dijelaskannya, menyebabkan mengurangi peluang terjadinya hujan di wilayah NTB. (ars)