Rinjani Puluhan Kali Alami Gempa Vulkanik

Dokumentasi PGA visual Gunung Barujari pada kaldera Gunung Rinjani terpantau dari Pelawangan Senaru. (Suara NTB/PGA Sembalun)

Mataram (Suara NTB) – Status Gunung Rinjani masih waspada level II. Petugas pos Pantau Gunung Api (PGA) di Sembalun, Lombok Timur mencatat grafik puluhan kali getaran gempa vulkanik tiga bulan terakhir. Pendaki atau wisatawan dilarang mendekat di radius Gunung Baru Jari.

Tim pos pantau merekam getaran sejak tanggal 1 Mei hingga 14 Juli 2019 dan hanya tercatat pada alat perekam seismograph. Terekam, getaran paling banyak terjadi tanggal 18 Mei 2019 lalu mencapai 60 kali.

Dari sejumlah jenis gempa vulkanik, catatan terbanyak adalah tektonik lokal dengan frekuensi antara 20 sampai 60 kali.  Sedangkan gempa vulkanik dalam dengan 60 amplitudo, terbanyak 15 kali pada 21 Juli lalu. Sedangkan gempa frekuensi rendah dengan amplitudo terbanyak mencapai 11 kali pada 3 Juni.

Sesuai data itu, menurut Kepala Pos Pantau Gunung Api Rinjani Mutaharlin, pihaknya terus mengamati aktivitas tektonik pada gunung setinggi 3.726 Mdpl tersebut. Khususnya pada Gunung Baru Jari dengan ketinggian 2.376 Mdpl.

Baca juga:  1.331 Hektare Hutan dan Lahan di NTB Terbakar

“Pemantauan secara terus menerus dilakukan menggunakan metode visual dan seismik,” kata Mutaharlin ditemui usai prsentasi kontijensi bencana BPBD Provinsi NTB di Mataram, , Senin, 5 Agustus 2019.

Secara keseluruhan, terpasang lima stasiun seismik untuk memantau

gempa vulkanik dipicu magma dalam tubuh Rinjani. Namun, hanya dua yang berfungsi maksimal. Titik pada stasiun Pelawangan dan Tengengean.

Selain itu, pemantauan secara periodik juga dilakukan dengan pengamatan visual dari tepi kaldera atau di dalam kaldera. Termasuk pengamatan geokimia terhadap air Danau Segara Anak  dan mata air panas di luar kaldera.

Meski tercatat aktivitas kegempaan, status Gunung Rinjani dipastikannya masih waspada level II sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dianggap masih aman untuk aktivitas pendakian. Hanya saja rekomendasi yang dikeluarkan PVMBG mengeluarkan sejumlah larangan.

Baca juga:  Empat Jalur Pendakian Rinjani Dibuka

Masyarakat  atau pendaki di sekitar Gunung Rinjani dilarang tidak beraktivitas atau berkemah di dalam area Barujari, termasuk di area lava baru dalam radius 1,5 km dari kawah.

Pendakian diperbolehkan kecuali di seluruh bagian tubuh Gunung Barujari, karena material lava letusan masih bertemperatur tinggi dan tidak stabil. “Sehingga rawan untuk terjadi rockfall atau longsoran batu,” sebutnya.

Meskipun tidak dapat dipastikan, namun katanya, potensi letusan Gunung Rinjani masih ada.

“Oleh karena itu pendaki atau wisatawan yang beraktivitas di luar radius 1,5 kilometer dari Gunung Barujari diharapkan untuk selalu menyiapkan masker, penutup hidung dan mulut serta pelindung mata agar terhindar dari infeksi saluran pernapasan akut dan iritasi mata jika terjadi letusan abu,”  pungkasnya. (ars)