Tutup Tambang Liar, Polda NTB Putus Rantai Peredaran Merkuri

Aktivitas di salah satu lokasi pengolahan material tambang emas ilegal di Gunung Prabu, Lombok Tengah. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Setelah ditunjuk sebagai penanggung jawab penutupan Pertambangan Tanpa Izin (Peti), Polda NTB langsung bergerak. Diawali dengan memutus rantai peredaran merkuri dan zat kimia yang dipakai untuk pemurnian emas ke titik-titik tambang liar. Setelah itu, akan ditindaklanjuti dengan penutupan paksa kawasan.

Sejak 2017, ada 11 kasus tambang liar skala kecil yang ditutup Polda NTB, dengan belasan ton barang bukti merkuri. Titik yang ditutup itu tersebar di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Tapi bukan berarti aktivitas Peti lainnya terhenti, justru masih sejalan dengan permintaan tingginya bahan kimia pemurnian emas.

‘’Peredaran merkuri ini sudah kami putus sejak 2017. Barang bukti merkuri sudah puluhan ton kita sita,’’ kata Kasubdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda NTB, AKBP Darsono Setyo Adjie, SIK kepada Suara NTB, Jumat, 2 Agustus 2019.

Jumlah kasus barang bukti itu dari total 11 kasus yang ditangani sejak 2017 lalu melalui tim Satuan Tugas (Satgas) Merkuri yang dibentuk Polda NTB sesuai perintah Mabes Polri menindaklanjuti  keputusan Presiden RI, Joko Widodo. Perintah itu dikeluarkan karena peredaran merkuri secara nasional sangat mengkhawatirkan. Presiden ingin Indonesia zero merkuri. Situasi sama di NTB, peredaran semakin mengkhawatirkan, diperparah pemakaiannya untuk pemurnian emas di lokasi tambang ilegal.

Baca juga:  Tim Satgas Peti Lobar Kesulitan Menindak Pelaku

Sampai saat ini pemberantasan peredaran merkuri dan zat kimia lainnya dalam proses pengawasan ketat. Karena tidak saja merkuri, penambang mulai bergeser menggunakan jenis karbon karena pasokan bahan kimia cair itu mulai berkurang.

‘’Jadi kita berusaha putus dulu demand-nya dengan memutus pasokan merkuri ke lokasi tambang. Sampai saat ini kami perkirakan peredarannya terus menurun. Karena kami terus awasi dan batasi. Jika ditemukan, langsung ditangkap dan disita,’’ tegas  Darsono.

Jalur peredaran merkuri yang sedang dalam  pengawasan ketat pihaknya, seperti di Sekotong Lombok Barat, Gunung Prabu, Lombok Tengah, titik di Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat dan sejumlah titik di Sumbawa Besar.

Pola pengawasan akan diperketat melibatkan unsur TNI dan Dinas Perdagangan masing masing kabupaten dan kota. Memang, para pelaku penambangan liar seperti berinovasi menggunakan bahan kimia lain, salah satunya jenis karbon untuk pemurnian emas. Modus baru ini setelah merkuri terus diperketat. Kesulitannya, bahan karbon ada juga  yang diperuntukkan untuk kepentingan legal.

‘’Tapi kita bisa identifikasi, mana  yang akan dipakai untuk kepentingan tambang ilegal dan akan dipakai untuk yang berizin,’’ ujarnya.

Baca juga:  Tim Satgas Peti Lobar Kesulitan Menindak Pelaku

Soal sama, Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol. Purnama, SIK menegaskan, permintaan Gubernur NTB agar Polda NTB memimpin operasi penutupan tambang ilegal sudah ditindaklanjuti dengan pembentukan tim di masing masing daerah.

‘’Sudah ada tim untuk penanganan tambang Sekotong, Prabu, Taliwang dan di Sumbawa. Penanganannya di tingkat kabupaten dulu, melibatkan Polres setempat,’’ kata Kabid Humas Jumat kemarin.

Langkah awal, tidak saja memutus rantai merkuri, tapi pasokan bahan baku lain seperti sianida (CN) dan potassium. Bahkan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk operasional tambang liar mulai diawasi ketat. “Jangan sampai bahan baku untuk tambang liar terus masuk ke lokasi. Kita berusaha akan putus. Ini cara awal untuk hentikan kegiatan Peti (pertambangan tanpa izin, red),’’ tegasnya.

Langkah  lain adalah pendekatan ke masyarakat, khususnya penambang agar segera meninggalkan aktivitas ilegal tersebut. Soal mata pencaharian pengganti, akan menjadi kewenangan pemerintah daerah. Setelah sosisaliasi menyeluruh dilakukan, akan berlaku tindakan lanjutan seperti penutupan paksa. ‘’Kalau sudah sosialisasi, tapi tidak juga diindahkan, maka akan ditutup paksa,’’ tegasnya. (ars)