Padi dan Ikan di Sekotong Terindikasi Tercemar Merkuri

Ilustrasi ikan tangkapan nelayan (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Aktivitas penambangan emas ilegal di Sekotong, Lombok Barat (Lobar) berdampak buruk terhadap kesehatan. Hasil penelitian yang dilakukan Balifokus Foundation, sejumlah balita yang lahir cacat alias tidak normal di wilayah itu, diduga akibat merkuri.

Pendiri Balifokus yang juga Senior Advisor Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati, Selasa, 23 Juli 2019 di Mataram  mengatakan, penggunaan merkuri pada aktivitas Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) atau tambang emas ilegal. Tanaman padi dan ikan turut tercemar logam berat berbahaya tersebut.

Ia menjelaskan dampak bahaya merkuri dengan kadar di atas 1 ppm dapat menyebabkan kerusakan otak, penurunan IQ, kerusakan ginjal dan jantung. Kerusakan neurologis pada janin bisa dimulai pada kadar merkuri di atas 0,58 ppm.

‘’Kalau jalan-jalan ke Sekotong dan Pelangan, cari anak-anak di bawah 10 tahun. Atau anak 10-12 tahun disuruh berhitung saja. Dia bisa cepat atau nggak,’’ kata Yuyun mencontohkan cara melihat secara sederhana dampak merkuri bagi anak-anak yang berada di sekitar lokasi tambang emas ilegal.

Cara ke dua, kata Yuyun dengan melihat pegangan tangan anak-anak ketika berjabat tangan. Apakah pegangan tangannya keras atau tidak. Jika anak umur 6-7 tahun, diajak bersalaman. Kemudian pegangan tangannya lemah, maka dia terpapar merkuri.

‘’Kalau lemah, ada kemungkinan terpengaruh juga. Jadi anak-anak itu banyak tidak bisa memegang dengan keras,’’ katanya.

Ia menyebut berdasarkan penelitian yang dilakukan lebih dari 60 anak terpapar merkuri di Sekotong. Yuyun mengatakan, pihaknya melakukan pemantauan sejak 2012. Kadar merkuri cukup tinggi di Sekotong  ditemukan sejak 2012-2015.

‘’Anak-anak yang step atau kejang-kejang banyak di Sekotong dan Pelangan. Karena udaranya mengandung merkuri tinggi. Anak-anak rentan terpapar uap merkuri,’’ ungkapnya.

Secara global, kata Yuyun, United Nations Environment Programme (UNEP) mengidentifikasi PESK atau tambang emas ilegal sebagai sumber terbesar emisi merkuri dari penggunaan yang disengaja di mana pada tahun 2013 disebarkan sekitar 1000 ton merkuri ke udara. Pada tahun 2011, di Indonesia terdapat sekitar sekitar 850 titik lokasi hotspot PESK yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Pada tahun 2012, sektor PESK di Indonesia memberikan kontribusi sekitar 57 persen  dari total emisi merkuri nasional yang dilepaskan ke lingkungan atau sekitar 195 ton.

Ketika merkuri memasuki udara, merkuri akan terbawa oleh angin dan akhirnya jatuh kembali ke bumi. Di udara, merkuri dapat terbawa baik dalam jarak pendek atau panjang sebelum jatuh atau tersimpan kembali ke bumi dan hal itu bahkan mungkin terbawa sepenuhnya di lingkaran bumi.

Sebagian dari merkuri yang jatuh ke laut atau ke darat akan teruap kembali. Dan kembali terbawa oleh angin. Dan akan jatuh kembali ke bumi di tempat lain. Merkuri yang jatuh di tanah dan tidak menguap kemungkinan akan mengikat bahan organik. Sebagian akan terjebak dalam gambut atau tanah.

Sisanya akan mengalir ke sungai kemudian ke danau dan lautan. Dalam lingkungan air, unsur merkuri kemungkinan akan menjadi terikat sedimen kemudian terbawa oleh arus sungai atau laut. Beberapa merkuri tetap terlarut dalam kolom air.

Di dalam perairan, mikroorganisme alami yang terdapat di air dapat merubah merkuri menjadi methyl-merkuri, suatu senyawa logam organik yang lebih beracun pada dosis rendah di banding merkuri murni. Methyl merkuri menjadi bagian dari rantai makanan di ekosistem perairan; dan bersifat bioakumulasi dan biomagnifikasi, dan kemudian dapat terbawa oleh migrasi spesies air (ikan dan kerang).

Studi yang dilakukan oleh BaliFokus dan yang lainnya di beberapa hotspot PESK, menemukan bahwa konsentrasi merkuri di udara juga cukup tinggi, berkisar antara 20 nanogram/m3 hingga 55.000 nanogram/m3, , juga ditemukan dalam rantai makanan, terutama beras dan ikan, membahayakan kesehatan penduduk di lingkungan hilir kesehatan serta masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Merkuri dalam air dan sedimen di beberapa situs PESK berkisar antara 0,6 ppm sampai dengan 4 ppm di mana 600-3.000 kali lebih tinggi dari standar WHO (0,001 ppm). Balifokus melakukan studi di Sekotong, Lombok Barat.

Kegiatan ekonomi utama di daerah ini adalah pertanian padi lahan kering, perikanan dan pertambangan emas. Lokasi pertambangan emas tersebar di sekitar 10 lokasi dan memiliki sejarah/konflik dengan perusahaan tambang emas swasta, PT. Indotan Lombok Barat Bangkit.

Lokasi ini bukan merupakan lokasi hotspot yang muda, tapi tidak terlalu tua juga, sekitar 10 tahun dan menggunakan merkuri lebih dari 70 ton per tahun. Dalam 10 tahun terakhir, proses ekstraksi emas telah pindah ke desa dan menjamur di wilayah pemukiman.

Jumlah penduduk wilayah Sekotong dimana praktik PESK tersebar adalah sekitar 40.000 orang. Hampir 50 persen dari populasi yang terlibat dalam kegiatan yang berhubungan penambangan dan pengolahan emas

Di Sekotong, Lombok Barat, konsentrasi merkuri tertinggi di udara yang  didapatkan adalah 54,931.84 ng/m3 dan yang terendah adalah 121,77 ng/m3. Di depan salah satu rumah dimana terdapat gelondong yang beroperasi didapatkan konsentrasi merkuri di udara sekitar 20,891.93ng/m3, di sebelah rumah orang yang diduga keracunan merkuri.

Hasil survei menunjukkan beberapa penduduk yang diduga keracunan merkuri yang parah pada orang dewasa dan anak-anak. Beberapa orang dewasa menunjukkan tremor parah dan sudah diderita selama lebih dari 7 tahun.

Beberapa bayi dan anak-anak, dari bayi berumur 40 hari hingga remaja berumur 15 tahun, menunjukkan gejala yang parah dari keracunan merkuri dan perlu pemeriksaan medis yang tepat lebih lanjut.

Ditambahkan, dampak keracunan merkuri tidak hanya memberikan beban tambahan kepada keluarga korban tetapi juga kepada masyarakat pada umumnya. Kurangnya pengetahuan tentang gejala keracunan merkuri menyebabkan diagnosa gejala yang tidak tepat, pengobatan dan perawatan medis yang tidak efektif.

Yuyun juga mengingatkan bahwa pembakaran jerami ketika selesai musim panen juga mengandung merkuri. Karena jerami mengandung residu pestisida. Residu pestisida inilah yang mengandung merkuri. Apabila jerami dibakar, maka akan berbahaya bagi kesehatan. (nas)