Indonesia Capai Penurunan Stunting Tertinggi di Dunia

Eko Putro Sandjojo (Suara NTB/kir)

Dalam empat tahun terakhir Indonesia berhasil menurunkan angka anak stunting sebesar 7 persen. Dari 37,2 persen pada tahun 2014 menjadi 30,7 persen di tahun 2018 lalu. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penurunan angka stunting tertinggi di dunia.

Hal itu diungkapkan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo di Desa Wisata Setanggor Kecamatan Praya Barat, Kamis, 25 Juli 2019.

Berkat keberhasilan ini, ujarnya, banyak negara yang kemudian melirik Indonesia dan meniru apa yang dilakukan Indonesia dalam menurunkan angka stunting di negaranya. “Ada sekitar 23 negara yang saat ini meniru cara Indonesia dalam menurunkan angka stunting,” klaimnya.

Kendati mengalami penurunan cukup tinggi, bahkan tertinggi dunia namun bagi Indonesia angka stunting 30,7 persen masih dinilai sangat tinggi, sehingga pemerintah pusat secara kontinyu terus berupaya menekan angka stunting melalui program-program yang sudah ada. Termasuk dengan menambahkan program pendukungan lainnya.

Baca juga:  Laporan Penanganan Stunting Jadi Syarat Pencairan DD 2020

Dalam upaya ini, ujarnya, peran desa sangat diharapkan supaya upaya penurunan angka stunting  bisa lebih maksimal lagi dengan mendukung melalui program-program dari Dana Desa (DD) yang ada. Misalnya, melalui optimalisasi peran posyandu, kader serta program kesehatan terkait lainnya.

“Ke depan, selain fokus pada pembenahan infrastruktur dasar serta pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), desa juga diharapkan bisa mengarahkan DD yang ada untuk mendukung program-program yang terkait pengentasan angka stunting,” terangnya.

Baca juga:  Turunkan Stunting dengan Kearifan Lokal

Pasalnya, kasus stunting bisa berdampak pada kualiatas SDM masyarakat. Di mana kasus stunting itu bisa mengganggu perkembangan kecerdasan serta pertumbuhan pada anak, sehingga untuk bisa mendukung peningkatan kualitas SDM masyarakat, maka kasus stunting harus ditekan semaksimal mungkin.

“Kasus stunting muncul pada fase 1.000 hari kehidupan pertama. Sejak masa kehamilan sampai usia balita. Di masa-masa itulah perlu ada program yang tepat untuk memastikan anak tumbuh dengan sehat dan bebas dari stunting,’’ tambahnya.

Dalam hal ini, peran orang tua juga sangat diharapkan, karena orang tualah yang setiap hari berinteraksi dan mengetahui kondisi serta kebutuhan anak-anaknya. (kir)