Kader PKK, Tulus Bekerja Meski Tak Digaji

Hj. Suryani Ahyar Abduh (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) bisa menjadi penggerak motorik untuk menyukseskan program yang dilaksanakan pemerintah dan pemerintah daerah. Untuk itu, PKK memerlukan dukungan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bersinggungan dengan kegiatan mereka. Sejauh ini, kader PKK tetap tulus bekerja meski tanpa mendapatkan gaji.

Ketua TP PKK Kota Mataram, Hj. Suryani Ahyar Abduh, mengatakan, TP PKK Kota Mataram sudah melaksanakan beberapa kegiatan dari 10 Program Pokok PKK. Program itu dibagi ke dalam empat Kelompok Kerja (Pokja).

Suryani menjelaskan, pada Pokja I melaksanakan pembinaan karakter dalam keluarga penuh cinta dan kasih sayang. Melalui kegiatan memberikan penyuluhan kepada keluarga-keluarga melalui kegiatan Posyandu. ‘’Dengan kegiatan bina keluarga Balita, kelompok Dasa Wisma, kelompok-kelompok majelis taklim, dan sebagainya,’’ katanya.

Selain itu, juga pengembangan usia dini holistik integratif melaui kegiatan lomba-lomba yang dapat merangsang motorik anak melalui permainan-permainan. Meskipun diakuinya untuk holistik integratif belum maksimal, namun tetap terus diupayakan pihaknya.

‘’Kita sebagai warga di Kota Mataram tentunya melalui tim penggerak PKK sebagai penggerak di masyarakat sangat berperan. Kita sebagai ketua TP PKK di masing-msainag daerah, luar biasa perannya ke masyarakat, jadi PKK sebagai mitra pemerintah di dalam membantu melaksanakan program 10 PKK ini, tentunya tidak terlepas dari bantuan para kader sebagai ujung tombak kita di masyarakat,’’ katanya.

Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya semua program pemerintah akan dapat dilaksanakan berdasarkan dukungan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. ‘’Di mana program-program tadinya 10 program pokok PKK yang ada di OPD terkait, kita sebagai penggerak motorik di masyarakat,’’ katanya.

Pada Pokja II, TP PKK Kota Mataram sudah melaksanakan pemberian keterampilan keluarga dalam usaha peningkatan dan pemberdayaan ekonomi keluarga. Suryani mengatakan, program itu dilaksanakan melalui kegiatan pelatihan keterampilan berupa keterampilan menjahit, keterampilan membuat pangan lokal, pengolahan barang plastik menjadi barang bernilai dan dapat dijual. Seperti bunga, tas tempat tisu dan sebagainya.

“Itu terus kita bina ke masing-masing kecamatan, keluarahan sampai ke tingkat dasa wisma. Ini sangat membantu masyarakat kita di bawah, karena sebagai penambahan peningkatan pendapatan keluarga,” katanya.

Jenis sampah organik dikembangkan menjadi pupuk dan sampah orgranik dijadikan kerajinan. Hal itu sangat bermanfaat bagi masyarakat. Pemerintah Kota Mataram juga sudah membuatkan tempat pengolahan sampah.

Suryani melanjutkan, pada Pokja III, pihaknya telah melaksanakan, mengambangkan, dan memanfaatkan potensi dan sumber daya keluarga dalam rangka pemenuhan kebutuhan keluarga dan diversifiikasi pangan lokal. Hal itu dilakukan melalui kegiatan lomba-lomba masak, baik pangan lokal maupun ikan.

“Kita pun pernah mengikuti lomba-lomba Forikan, alhamdulillah bisa juga mendapat juara dan mewakili provinsi NTB,” katanya.

Selain itu ada juga program cinta dan bangga menggunakan dan memanfaatkan produk dalam negeri. Program itu dilaksanakan melalui kegiatan lomba fashion show menggunakan produk lokal yang berbahan songket dan batik Sasambo.

“Kebetulan kita di Kota Mataram memiliki ikon produk lokal seperti batik Sasambo. Kita khusus di Mataram punya produk batik kain, meski belum bisa dipasarkan sampai di luar daerah, tapi kita cukup bangga punya kerajinan sendiri dan sering kami gunakan, itu untuk promosi juga, bahwa kita sebagai Kota Mataram punya kerajinan khas,” urainya.

Ia bersyukur Kota Mataram memiliki ikon-ikon itu yang terus dijaga dan perajin juga tetap dilatih, dipantau, dan dibimbing sampai ke titik pemasaran. Meski diakuinya belum bisa menjangkau sampai luar daerah.

Tidak hanya itu, di Pokja III juga mewujudkan rumah sehat dan layak huni melalui kegiatan penyuluhan kepada keluarga bekerja sama dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman pasca bencana gempa.

Di Pokja IV, pihaknya telah melaksanakan, meningkatkan derajat kesehatan keluarga dan lingkungan melalui kegiatan penyuluhan dan pembinaan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Kegiatan ini dilakukan pada saat pelayanan Posyandu, pertemuan bina keluarga balita, maupun kegiatan Posyandu.

Suryani juga menyampaikan program yang dilakukan di Pokja IV yaitu mencegah dan menanggulangi penyakit menular serta pencegahan stunting. Melalui kegiatan berupa penyuluhan kesehatan, penganekaragaman pangan, dan mengurangi angka kematian ibu dan angka kematian balita melalui kegiatan penyuluhan-penyuluhan.

Menurutnya, khusus di Kota Mataram, ada dana yang ke masing-masing kelurahan. Dana itu bisa untuk pemberdayaan masyarakat sesuai kebutuhan masing-masing. Suryani menjelaskan, tantangan yang dihadapi yaitu sumber daya manusia TP PKK di tingkat bawah. Sering kali hal itu membuat program menjadi macet. Nantinya pihaknya akan melaksanakan pertemuan dengan ketua TP PKK tingkat kecamatan dan kelurahan untuk penyegaran kembali.

Suryani mengakui, PKK memiliki program yang sangat padat dengan tidak ada gaji, tapi ia bersama TP PKK menjalani dengan tulus ikhlas. Pemerintah Kota Mataram mendukung dengan memberikan intensif Rp50 ribu per orang. ‘’Maunya kita sih sebagai ketua ingin menambahkan kalau kita lihat perjuangan mereka (kader PKK) di bawah, tidak tanggung-tanggung,’’ katanya.

Ia berharap agar TP PKK Provinsi NTB tetap memberikan bimbingan dan dukungan kepada TP PKK di daerah. ‘’Mustahil NTB akan Gemilang kalau di daerah tidak berjalan. Sudah jelas kebersamaan kami yang selalu bergandengan tangan dalam kegiatan apapun. Ketua TP PKK  Provinsi NTB bisa mengarahkan kami dan menguatkan kami yang di bawah, terutama di masalah-masalah kesulitan-kesulitan yang sedang kami hadapi di masyarakat,’’ harapnya. (ron)