Perkuat Pola Asuh Anak

Foto Bersama Peserta Diskusi Terbatas SUARA NTB

Mataram (Suara NTB) – Mencuatnya fenomena bunuh diri dan percobaan bunuh diri di kalangan remaja Dompu mendorong Tim Penggerak PKK Kabupaten Dompu untuk menggenjot peningkatan pola asuh anak. Dari tujuh percobaan bunuh diri selama 2019 ini, hanya dua orang yang berhasil diselamatkan. Keluarga perlu diperkuat pemahaman keagamaan serta ketahanan sosialnya.

Koordinator Pokja I Tim Penggerak PKK Kabupaten Dompu, Rabiah Sofyan menyebutkan bahwa fokus kegiatan mereka ini ditekankan pada penyuluhan pola asuh anak dan remaja (PAAR). Dikombinasikan dengan pencegahan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).

‘’Berangkat dari pada dua bulan lalu ada remaja minum obat serangga. Kasus bunuh diri ini membuat kita gencar sosialisasi program PAR dan PKDRT,’’ terangnya.

Selain dari aspek sosial, TP PKK Kabupaten Dompu juga mencoba mengintensifkan pendidikan agama berkelanjutan dalam program majelis taklim. Bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak membentuk Forum Anak Kabupaten Dompu.

Peningkatan ekonomi keluarga, sambung Rabiah, digencarkan melalui Usaha  Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K). beberapa kegiatannya seperti meningkatkan kegemaran makan ikan melalui lomba-lomba.

Hal itu berkesinambungan dengan sosialisasi perilaku hidup bersih serta penurunan angka stunting. “Semua ini terkait dengan pola asuh,” tutup Rabiah.

Dasa Wisma sebagai Pintu Masuk

Sementara itu, Wakil Ketua IV TP PKK Lombok Timur, Shofiyati Jamila mengatakan tahun pertama kepengurusan TPK PKK Lombok Timur menumpukan pada program kampung KB. ‘’Kami menyadari bahwa fokus di kampung KB bisa dapat semua kegiatan di Pokja I sampai IV,” jelasnya.

Perencanaan program PKK Lotim, imbuh dia, selanjutnya adalah aktivasi Dasa Wisma yakni kelompok yang terdiri dari ibu antara 10 sampai 20 kepala keluarga. ‘’Dasa Wisma adalah pintu masuk semua program pemerintah. Kalau mau dekat dengan sasaran, harusnya Dasa Wismanya hidup aktif,’’ terangnya.

TP PKK Lombok Timur mempertegas perannya dalam membantu penurunan angka stunting. Yang mana Lombok Timur memiliki angka stunting tinggi, menurut Shofiyati mencapai 42 persen atau sekitar 45 ribu anak.

Menurutnya, penurunan angka stunting dimulai dari pemberian pemahaman kepada calon pasangan suami istri. “ Tentang bagaimana seorang laki-laki mematangkan dirinya untuk memiliki calon istri untuk membentuk keluarga,” sebutnya.

Intervensi selanjutnya dengan mengawal 1.000 awal kehidupan bayi. Shofiyati menyebutkan, TP PKK Lotim mendukung regulasi Peraturan Bupati Lotim tentang pengalokasian sebesar 20 persen dari dana desa untuk program kesehatan.

Stunting ini target yang harus kita turunkan agar angka stunting NTB juga ikut turun karena hampir seperempat jumlah penduduk NTB ada di Lombok Timur,’’ jelasnya.

Penanganan kesehatan, sambungnya, juga dengan menggalakkan penjangkauan akses kesehatan terhadap masyarakat miskin yang sakit. Kader PKK bersama petugas Puskesmas turun bersama menjangkau masyarakat rentan tersebut.

‘’Untuk pasien yang tidak terjangkau Puskesmas. Umumnya mereka ini tidak terjangkau akses kesehatan, ini sedang kami galakkan kita bantu Dinas Kesehatan,’’ pungkas Shofiyati.

Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga

Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Lombok Tengah, Hj. Aluh Rusmala menyadari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB cukup rendah. Upaya peningkatannya melalui PKK dengan kegiatan Posyandu untuk bidang kesehatan, Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di bidang ekonomi, dan PAUD Holistik Integratif pada bidang pendidikan.

Sejumlah problem kemasyarakatan yang didapat TP PKK Lombok Tengah salah satunya adalah pernikahan dini para remaja. Hal itu dipicu banyaknya anak yang ditinggal orang tua bekerja ke luar negeri sebagai TKI.

“Jadi orang tuanya menitipkan anak mereka di kakeknya atau neneknya. Ini berpengaruh pada pola asuh maka kita perlu sosialisasikan lagi,” ucapnya.

mengenai UP2K, Aluh menjelaskan pentingnya pendekatan melalui pembuatan makanan ringan dari komoditas lokal seperti umbi-umbian talas, ubi, serta pisang. Olahannya menjadi kue kering yang diusahakan ibu rumah tangga.

Pendekatan program-program tersebut seharusnya melalui dasa wisma yang menurutnya seolah hidup segan mati tak mau. Kendalanya, himpun Aluh, yakni ketersediaan buku pedoman. Sementara TP PKK punya anggaran terbatas.

Meskipun TP PKK desa ada yang mendapat dana stimulan antara Rp5 juta sampai RP50 juta yang diambilkan dari dana desa. “Ini tergantung pandai-pandainya PKK menyusun program,” tegasnya.

Selanjutnya, fokus program juga pada cipta menu Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (BBSA) yang digenjot melalui lomba-lomba. Integral dengan menggenjot program gemar makan ikan.

Yang tak kalah prioritas adalah program kesehatan. TP PKK, menurutnya, menggerakkan kadernya untuk menghidupkan Posyandu. Apalagi setelah mendapat insentif dari pemerintah. Kegiatannya seperti pembagian Pengganti Makanan Pokok (PMP) serta pemenuhan kecukupan gizi keluarga.

“Garam beryodium mungkin perlu digalakkan kembali. Karena, kalau di Lombok Tengah program garam yodium disatukan di Raskin. Sekarang sudah tidak ada Raskin, garam yodiumnya ikut hilang,” tandasnya.

Bangun Perekonomian Pascagempa

Gempa bumi yang melanda Kabupaten Lombok Utara (KLU) setahun lalu, telah menimbulkan banyak kerugian. Kini, masyarakat KLU berupaya bangkit, membangun perekonomiannya yang sempat merosot akibat diguncang bencana gempa bumi.

Dalam usaha membangun kembali perekonomian masyarakat KLU tersebut, PKK ikut ambil bagian untuk membantu pemerintah dan masyarakat lewat berbagai prgram-programnya.

‘’Pascabencana gempa ini banyak sekali tugas pemerintah. Salah satunya kami punya PR (Pekerjaan Rumah) besar pasca gempa, yakni bangkitkan kembali ekonomi masyarakat,’’ ujar Nani Triana, Wakil Ketua I, PKK KLU.

Salah satu sasaran PKK KLU dalam membantu pemerintah daerah dalam membangun kembali perekonomian masyarakat yakni dengan menyasar kelompok pelaku Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM).

‘’Membangkitkan kembali perekonomian masyarakat, pertama yang kami bangkitkan adalah UMKM. Kami PKK fokus bagaimana caranya membantu pemerintah bangkitkan usaha ibu-ibu, UMKM,’’ ujar Nani.

PKK tidak hanya bergerak disektor pembangunan perekonomian masyarakat saja. Namun sektor lain juga turut disasar oleh PKK, seperti bidang kesehatan, pendidikan, sosial budaya dan pengadministrasian yang pascagempa banyak yang mengalami kerusakan pada data-data yang sudah ada.

‘’Sekretariat kami di KLU, sekitar 85 persen hancur, jadi kami mulai tertibkan kembali administrasi yang sudah rusak. Karena data-data yang kami miliki 85 persennya hancur, begitu juga dengan instansi lain. Kami bekerjasama dengan Dinas Dukcapil dan Dinas Sosial untuk tertibkan KIA (Kartu Identitas Anak),’’ ungkap Nani.

PKK KLU pun sudah membentuk Pokja-Pokja untuk membagi bidang-bidang pembangunan yang lainnya yang akan dilaksanakan oleh PKK. Pokja pertama misalnya fokus untuk membentuk majelis ta’lim di masjid-masjid yang ada di semua desa. Majelis ta’lim tersebut digunakan oleh PKK menjadi forum untuk melakukan sosialisasi berbagai program.

‘’Kami galakkan status masjid ta’lim diseluruh kecamatan dan desa. Di situ kami sosialisasi, kami usahakan majlis ta’lim tersebut diisi oleh ibu-ibu, untuk memberikan materi pendidikan karakter untuk anak. Karena pendidikan karakter itu dimulai dari keluarga, yang didalamnya adalah ibu-ibu,’’ jelasnya.

Kemudian Pokja 2 yang dibentuk di tiap Kecamatan dengan program membangun keluarga sehat di tiap-tiap kegiatan Posyandu yang digandengkan dengan PAUD. Lewat Pokja 2 ini, diharapkan selain mengontrol perkembangan dan pendidikan anak, juga diberikan kepada orang tua.

‘’Pendidikan untuk orang tua itu juga tidak kalah pentingnya, bagaimana kita berikan pemahaman kepada orang tua tentang pola asuh dan tumbuh kembang anak kita yang baik dan sehat. Ini merupakan salah satu bentuk kerja sama kami dari PKK dengan dinas kesehatan, dan ini juga untuk menekan angka stunting,’’ kata Nani.

Kemudian Pokja 3, fokus pada pembangunan masyarakat pesisir yang sebagai besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Pokja 3 tersebut berusaha mendampingi masyarakat untuk memiliki pemahaman tentang konsumsi ikan sebagai salah satu sumber gizi yang cukup besar.

‘’Di Pokja 3 ini kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, dan juga BKKBN untuk menekan angka kehamilan yang peningkatannya cukup tinggi di daerah pesisir. Kemudian di Pokja 4, kami bekerja sama dengan kader Posyandu untuk melakukan kegiatan senam rutin tiap pekan,’’ pungkasnya. (why/ndi)