Perlu Cetak Biru Kembangkan IC NTB

Dr. Dedi Wahyudin, Lc, MH (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Dr. Dedi Wahyudin, Lc, MH mengharapkan Islamic Center (IC) NTB dapat menjadi ‘’jangkar’’ kekuatan umat beragama di NTB. Untuk itu, harus ada cetak biru untuk menjadikan IC sebagai pusat peradaban.

‘’Saya membayangkan tantangan saat ini. Di samping dia menjadi pusat peradaban. Dia mesti menjadi ‘’jangkar’’ kekuatan umat,’’ kata Dedi dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema IC Sebagai Pusat Peradaban yang dilaksanakan di Ruang Redaksi Harian Suara NTB, Selasa, 16 Juli 2019.

Keberadaan IC bukan hanya memberikan warna bagi umat Islam di NTB. Tetapi juga umat-umat beragama lainnya yang ikut menjadi pelangi, menambah keberagaman masyarakat NTB.

‘’Karena di situ ada (IC) kekuatan iman sebagai pusatnya. Lalu ada kekuatan  intelektual, ada kekuatan ekonomi dengan zakat, infaq dan sedekah,’’ katanya.

Di zaman Nabi Muhammad SAW, kata Dedi, fungsi masjid bukan hanya sebagai tempat melaksanakan ibadah mahdhah. Tetapi masjid juga sebagai tempat mengatur negara, menyusun kebijakan pemerintahan, perang dan lainnya.

Jika IC mampu digerakkan, dijadikan jangkar kekuatan umat, maka ia bisa menjadi pemantik perubahan masyarakat NTB. Bukan saja untuk satu kelompok, tetapi semua kelompok masyarakat yang ada di daerah ini.

Untuk itu, perlu upaya yang serius menjadikan IC sebagai pusat peradaban dan jangkar kekuatan umat. Menurutnya, perlu dilibatkan banyak pemangku kebijakan unggul untuk mewujudkan hal tersebut.

Ia menekankan pentingnya dibuat cetak biru tentang pengembangan IC sebagai pusat peradaban. Dari cetak biru tersebut, akan terlihat rencana yang akan dilakukan untuk mewujudkan IC sebagai pusat peradaban.

Dedi menambahkan, jika ingin menjadikan IC sebagai pusat peradaban. Maka kita harus berpikir tentang sesuatu yang besar. Sejarah peradaban Islam yang dulu berkembang harus mampu dihidupkan kembali dengan upaya mewujudkan IC sebagai pusat peradaban di NTB.

IC sebagai ikon NTB harus menarik sejak awal. Bukan saja menarik dari sisi fisik jika dilihat dari luar. Tetapi juga menarik dan membuat nyaman dari dalam.

Ia menuturkan, empat kali ke Arab Saudi menjadi petugas haji. Masjid-masjid yang ada di sana lebih nyaman daripada hotel. Bukan saja di Masjidil Haram, tetapi juga masjid-masjid yang ada di kampung.

Dedi menyebutkan, sekitar 7 tahun berada di Timur Tengah menyelesaikan studi S2 dan S3 di Maroko. Universitas Al-Qarawiyyin yang dibangun yang dulunya merupakan sebuah masjid, dibangun pada 241 Masehi, sampai sekarang berdiri megah dan produktif melahirkan pemikir, ilmuan, sejarawan dan lainnya.

Begitu juga Universitas Al Azhar Mesir, dulunya merupakan sebuah masjid. Bahkan, kata Dedi, universitas terkenal di dunia yang bernama Harvard University, dulunya merupakan sebuah gereja tempat ibadah umat Katolik.

Sekarang, Pemerintah Pusat akan dibangun Universitas Islam Internasional di Jakarta. Ke depan, ia berharap di IC NTB berdiri universitas kebanggaan Islam nusantara di Indonesia Timur.

“IC memang diniatkan menjadi pusat peradaban. Kalau kita mau dia jadi pusat peradaban, blue print-nya apa. Dia mau jadi apa ke depan IC ini,” katanya.

Dedi mengatakan IC jangan hanya sekedar menjadi tempat ibadah mahdhah. Dengan bangunan yang megah dan biaya pembangunan yang mencapai ratusan miliar, IC harus dijadikan pusat peradaban. Potensi besar umat di NTB perlu dikelola supaya IC fungsinya lebih besar lagi.

“Artinya, kalau kita menjadikan IC sebagai pusat peradaban. Kita mesti berpikir tentang sesuatu yang besar. Karena dulu  sejarahnya (peradaban Islam) besar, dan kita mau mengambil lagi sejarah itu,” tandasnya. (nas)