Kohesikan Seluruh Energi, Wujudkan IC sebagai Pusat Peradaban

I Gede Putu Aryadi, S. Sos, MH dan H. Agus Talino dan Dr. Adi Fadhli (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Sc – Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd bertekad menjadikan Islamic Center (IC) sebagai pusat peradaban. Target menjadikan IC NTB sebagai pusat peradaban merupakan salah satu program unggulan NTB Gemilang yang tertuang dalam RPJMD 2019-2023 yang terdapat pada misi NTB Aman dan Berkah.

NTB memiliki banyak potensi atau energi untuk mewujudkan IC sebagai pusat peradaban. Hanya saja, energi yang masih tercecer perlu dikohesikan sehingga menjadi kekuatan bersama mewujudkan IC sebagai pusat peradaban.

Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Islamic Center Sebagai Pusat Peradaban yang dilaksanakan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) NTB di Ruang Redaksi Harian Suara NTB, Selasa, 16 Juli 2019. FGD tersebut menghadirkan tiga narasumber. Masing-masing, Penanggung Jawab Harian Suara NTB yang juga Direktur Radio Global FM Lombok, H. Agus Talino, Dr. Adi Fadhli dari Nahdlatul Ulama (NU) NTB dan Akademisi UIN Mataram, Dr. Dedi Wahyudin, Lc, MH, dengan Moderator M.Azhar, SIP (Redaktur Pelaksana suarantb.com)

Agus Talino mengatakan, NTB memiliki banyak potensi dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM). Banyak putra-putra daerah yang merupakan alumni Timur Tengah. ‘’Hanya saja potensi atau energi itu mungkin masih tercecer. Belum terkohesi menjadi kekuatan besar. Mudah-mudahan ini dipikirkan. Sehingga seluruh energi ini menjadi kekuatan bersama untuk kita membangun. Tidak saja IC (sebagai pusat peradaban) tetapi juga NTB, juga membangun bangsa,’’ katanya.

Hadir juga Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) NTB, I Gede Putu Aryadi, S. Sos, MH dan sejumlah pejabat lingkup Pemprov NTB.

Agus Talino mengemukakan ada empat hal terkait dengan IC NTB ini. ‘’Yang pertama. Kita bersyukur memiliki Islamic Center. Karena tidak semua daerah memiliki Islamic Center,’’ katanya.

Yang kedua. Salah satu cara kita bersyukur adalah dengan menjaga dan merawatnya. Sehingga Islamic Center yang kita miliki menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan. Kalau misalnya, ada kerusakan sedikit saja. Apalagi bisa mengganggu kenyamanan harus segera diperbaiki. Jangan sampai misalnya, karena ada bagian atap yang bocor lantas meletakkan penampung air hujan di lantai. ‘’Itu mengganggu. Harus segera diperbaiki,’’ sarannya.

Yang ketiga. Menjadikan Islamic Center sebagai pusat peradaban merupakan pekerjaan besar. Karena yang kita bangun itu adalah nilai-nilai. Apalagi sekarang tantangannya besar. Dunia ini hampir tanpa “sekat”. Bahkan  ada yang beranggapan bahwa semua yang datang dari barat itu adalah progresif dan yang datang dari timur itu konservatif. Padahal tidak semua yang datang dari barat itu sesuai dengan nilai-nilai dan budaya kita.

Karena ini merupakan pekerjaan besar. Maka Islamic Center itu harus dikelola secara khusus dan berdiri sendiri. Tidak menjadi bagian dari OPD tertentu. Pertimbangannya, agar sumber daya. Termasuk anggarannya memadai untuk menjadikan Islamic Center sebagai pusat peradaban.

Kalau misalnya, Islamic center ini bisa menjadi pusat kegiatan yang fasilitasnya lengkap dan bekerjasama dengan seluruh masjid yang ada. Misalnya,  ada kegiatan rutin yang melibatkan remaja-remaja masjid. Maka banyak masalah yang masih menjadi tantangan kita, insya Allah bisa kita jawab dan selesaikan.

‘’Yang keempat. Yang terakhir. Kita mesti mau belajar ke daerah-daerah yang memiliki Islamic Center yang sudah menjadi pusat peradaban. Pendekatan kita ATM. Amati, Tiru dan Modifikasi sesuai dengan kondisi daerah kita,’’ ujarnya

Sementara itu, Dr. Adi Fadhli dari NU NTB mengatakan, upaya mewujudkan IC sebagai pusat peradaban merupakan tujuan yang baik. Dari segi nama, ia menilai IC NTB sudah cukup bagus. Ia menjelaskan peradaban terbentuk dari adat istiadat masyarakat yang menjadi suatu kebudayaan.

Peradaban terlihat secara fisik dan psikis. Secara fisik, wujud IC untuk menjadi sebuah peradaban  sudah ada. Masyarakat NTB bangga mempunyai IC. Ia memberikan contoh Masjid Istiqlal Jakarta yang dibangun ketika zaman Presiden RI, Ir. H. Soekarno sampai sekarang tetap menjadi kebanggaan.

‘’Wujud kita bersyukur secara fisik dia sudah ada. Sekarang persoalannya saya belum 100 persen bangga kalau masuk IC, itu kalau dilihat  secara fisik,’’ katanya.

Secara non fisik, sekarang di IC NTB sudah ada kajian-kajian setelah salat. IC yang diharapkan seperti dulu-dulu di  Masjidil Haram sebagai pusat peradaban, di mana setiap sudut-sudutnya ada pengajian. Kajian yang dilakukan semuanya dari berbagai mazhab.

‘’Kita bagaimana mengembalikan kajian-kajian yang bebas, mazhab ini semuanya kita kaji. Sangat banyak ulama-ulama kita yang lahir dari sana,” katanya.

Adi memberikan contoh beberapa masjid di Timur Tengah yang menjadi pusat peradaban hingga saat ini. Setiap  pojok-pojok masjid ada  majelis taklim yang masih tetap eksis.

‘’Maksud saya, dulu ketika nabi membangun masjid itu menjadi pusat peradaban, semuanya ada di sana. Pendidikan, peradilan semua ada,’’ ungkapnya.

Lalu bagaimana cara mengembalikan fungsi masjid atau IC sebagai pusat peradaban? Menurut Adi, hal itu  bisa dibangun dengan membuat kajian-kajian di pojok-pojok masjid. Bagaimana memaksimalkan peran IC selain sebagai tempat ibadah wajib juga menjadi tempat majelis taklim.

Ia sepakat juga mengenai perlunya lembaga khusus yang disiapkan mengelola IC NTB dengan SDM yang bagus. ‘’Sehingga semua aspek, ruhnya kita bangun NTB bisa. Di samping fisiknya kita bangun,’’ ujarnya.

Membangun IC sebagai pusat peradaban harus dimulai dari hal-hal kecil. ‘’Jiwa dulu dibangun, ini dasar kita untuk benar-benar kuat dalam hati kita,’’ sarannya. (nas)