Sumur Bor Bukan Solusi Kekeringan

Zulkieflimansyah (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Pembuatan sumur bor dinilai bukan merupakan solusi dari masalah kekeringan yang diperkirakan akan melanda NTB di musim kemarau 2019 ini. Hal itu disampaikan Gubernur NTB, Dr. H.Zulkieflimansyah, Selasa, 16 Juli 2019.

Menurut orang nomor satu di NTB ini, penggalian sumur bor sedalam apapun tidak akan mengatasi kekeringan kalau masyarakat tidak memiliki pola pikir pelestarian alam yang mumpuni. Hal itu akan membuat pembangunan sumur bor menjadi percuma saja dilakukan.

“Jangan melihat kekeringan itu terisolasi dari masalah yang lain. Mudah-mudahan dengan kita kering, kita sadar tidak boleh menebang pohon sembarangan. Jangan sampai atas nama pertanian kita menerabas semua kaidah-kaidah alam yang sudah begitu mapan,’’ ujar gubernur yang akrab disapa Doktor Zul itu, Selasa, 16 Juli 2019 di Mataram.

Menurut gubernur, tren yang muncul di masyarakat seringkali ingin mengatasi masalah tanpa memperhatikan akar masalah itu sendiri. Karena itu, begitu kekeringan muncul ada banyak tuntutan agar jajaran pemerintah terkait segera memberikan solusi.

Baca juga:  Atasi Kekeringan, DPRD dan Pemkab Harus Cari Solusi Bersama

‘’Dalam jangka pendek masalah sumur bor akan kita coba akomodir. Namun pada saat yang sama masalah penghijauan, reboisasi, pelarangan penebangan pohon harus disosialisaikan ke masyarakat,’’ tegas Doktor Zul.

Selain itu pembuatan sumur bor juga dinilai akan memakan biaya yang besar. Mengingat sumur bor membutuhkan

listrik, bahan bakar, dan perawatan. Doktor Zul justru lebih cenderung setuju untuk membuat dam atau tanggul sederhana dengan biaya yang lebih murah dan sama-sama mampu mengatasi kekeringan.

‘’Ketimbang tergantung terus, mendingan ada dam sederhana yang mampu menampung air musim hujan (dan) menumbuhkan mata air baru sehingga mudah-mudahan lebih (efektif),’’ ujar nya.

Sebelumya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa musim kemarau tahun 2019 ini akan lebih kering dan mencapai puncaknya di bulan Agustus sampai nanti September.  Kekeringan tersebut diperkirakan terjadi di beberapa provinsi yaitu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, NTB, dan NTT.

Baca juga:  400 Hektare Vegetasi di Geopark Tambora Terbakar

Untuk mengatasi dampak sementara dari kekeringan, BPBD NTB bersama-sama dengan Polri, TNI, PDAM serta NGO yang bergiat di masalah kekeringan telah mendistribusikan air bersih. Diterangkan Kepala Pelaksana BPBD NTB, H. Ahsanul Khalik, BPBD kabupaten dan kota terdampak kekeringan secara bertahap telah melakukan distribusi air ke dusun-dusun prioritas yang mengalami kekurangan air parah.

Walaupun begitu, Ahsanul menerangkan pola penanganan darurat kekeringan saat ini belum cukup.  Agar tidak jadi pekerjaan rutinitas setiap tahun, pihaknya mendorong masing-masing kabupaten dan kota terdampak untuk menyampaikan usulan program penanganan kekeringan jangka panjang. Salah satunya dengan pembuatan sumur bor di masing-masing kabupaten/kota. (bay)