Konjen RI Dukung Penuh Pembukaan Penerbangan Langsung Lombok – Darwin

Mataram (Suara NTB) – Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Darwin mendukung penuh Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc yang mendorong pembukaan penerbangan langsung Lombok-Darwin, Australia. Pembukaan rute penerbangan itu dinilai cukup penting untuk membuka konektivitas antara NTB dan Northern Territory (NT).

Konjen RI di Darwin, Dicky D. Soerjanatamihardja menyatakan, pihaknya mendukung penuh rencana pembukaan rute penerbangan langsung dari Lombok – Darwin dan Darwin – Lombok.

‘’Pada prinsipnya kami sangat mendukung. Kami sudah bicara dengan airport management di Darwin. Dan juga beberapa pejabat di sana,’’ ungkap Dicky dikonfirmasi usai pertemuan membahas kerjasama pengiriman tenaga kerja NTB ke Australia di Kantor Gubernur, Senin, 15 Juli 2019 siang.

Ia mengatakan, rencana pembukaan penerbangan langsung itu perlu ada follow up-nya. Dengan menghitung potensi penumpang dari Darwin maupun Lombok. Sebagai daerah tujuan wisata, menurutnya ada potensi pembukaan rute tersebut.

‘’Kalau daya beli meningkat, kemampuan berlibur ke luar negeri juga semakin besar. Sehingga bisa mengisi penerbangan ke sana,’’ katanya.

Untuk itulah, kerjasama peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan pengiriman tenaga kerja sedang dijajaki antara NTB dan NT. Dicky menyebut, apabila 50 orang NTB bekerja di Darwin dengan penghasilan yang cukup besar di sana. Maka hal ini akan mendorong untuk dibukanya konektivitas penerbangan Lombok – Darwin. Pihaknya mendorong maskapai penerbangan nasional dapat melayani penerbangan ini.

Sebelumnya, pelaku wisata NTB juga  mendorong agar rute penerbangan langsung Lombok – Darwin dapat segera direalisasikan. Pasalnya, Australia merupakan pasar wisata yang sangat potensial bagi NTB.

Ketua Asita NTB, Dewantoro Umbu Joka mengungkapkan pada umumnya pasar Australia sangat bagus. Artinya, semakin banyak direct flight yang dibuka dari Lombok ke Australia, maka akan semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke NTB.

Ia menjelaskan, pasar wisata Australia cukup besar. Bahkan wisatawan Australia yang datang ke NTB sebelum adanya penerbangan langsung Lombok – Perth, mereka lewat Bali. Karena tidak ada penerbangan langsung ke Lombok pada waktu-waktu sebelumnya, akhirnya mereka berlibur dulu ke Bali baru berkunjung ke NTB.

‘’Cuma Bali duluan terkenal. Karena selama ini tak ada direct flight ke Lombok. Tapi kalau alamnya sangat cocok dengan Australia. Dulu ada Darwin – Kupang, mungkin Darwin – Lombok bagus,’’ katanya.

Untuk menarik minat maskapai membuka rute Lombok – Darwin, kata Dewantoro, pemerintah bisa melakukan seperti saat mengupayakan rute Lombok – Perth. Artinya, maskapai diberikan subsidi dalam jangka waktu tertentu.

Menurutnya, Pemda bersama pelaku wisata bisa mendatangi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengenai rencana pembukaan rute penerbangan langsung ini. Pasalnya, Kemenpar juga punya kepentingan untuk mendatangkan wisatawan mancanegara sebanyak-banyaknya ke Indonesia, termasuk NTB.

Sebelumnya, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc mengatakan untuk mendekatkan Darwin dengan NTB, ia telah meminta Kepala Dispar NTB, H. L. Moh. Faozal, S. Sos, M.Si untuk mengupayakan rute penerbangan Darwin-Lombok segera dibuka. Gubernur berharap, hal ini sudah bisa terealisasi dalam waktu dekat.

Berhubung dekat secara geografis, waktu tempuh penerbangan langsung Darwin-Lombok tidak akan lama, sekitar 1,5 jam. Menariknya lagi, jarak Darwin ke Lombok bahkan lebih dekat ketimbang Darwin ke Melbourne, atau Darwin ke berbagai kota lain di Australia.

Gubernur meyakini, kedekatan ini bisa membuat warga Darwin memilih berlibur ke NTB ketimbang ke daerah-daerah lain di Australia. Secara keseluruhan,  keadaan alam di kawasan Australia Utara mirip dengan Moyo Hilir di Sumbawa. Atau, seperti Sape di Bima atau di Dompu. Kemiripan ini akan memudahkan banyak kemajuan di kawasan tersebut, untuk diadaptasi di daerah-daerah di NTB. Misalnya, kemajuan sektor peternakan di Australia Utara.

Terbukanya akses penerbangan langsung Darwin-Lombok memungkinkan transformasi keterampilan beternak, serta manajemen sektor peternakan dari Darwin ke daerah-daerah di Lombok dan Sumbawa.

Gubernur  membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa diwujudkan dengan semakin eratnya koneksi dua daerah ini. Kelak, bukan tidak mungkin peternak-peternak dari NTB akan lebih mudah membeli hewan ternak di Kawasan Utara Australia. Bahkan, bisa jadi para peternak dari NTB justru bisa membuka usaha peternakan di Australia Utara. (nas)