Hari Ini, Gubernur Ratas dengan Presiden Joko Widodo

Joko Widodo dan Zulkieflimansyah

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, Senin, 15 Juli 2019 hari ini, akan menghadiri Rapat Terbatas (Ratas) yang dipimpin Presiden Ir. H. Joko Widodo di  Kantor Presiden di Jakarta. Ratas akan membahas soal pengembangan destinasi pariwisata prioritas.

‘’Gubernur NTB sudah menerima undangan untuk mengikuti Ratas yang akan dipimpin Presiden di Kantor Presiden di Jakarta. Ratas akan berlangsung Senin, 15 Juli 2019,’’ jelas Kepala Biro  (Karo) Humas dan Protokol Setda NTB, Najamuddin Amy, S.Sos, MM, kepada Suara NTB, Minggu, 14 Juli 2019.

Menurut Karo Humas, selain mengundang Gubernur NTB empat gubernur lainnya juga diundang. Masing-masing, Gubernur Provinsi Sumatera Utara, Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara.

Ratas juga akan dihadiri oleh sejumlah menteri terkait, Kepala Staf Kepresidenan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kepala Badan Ekonomi Kreatif dan pihak terkait lainnya.

Tetapkan 99 Desa Wisata

Pemprov NTB menetapkan sektor pariwisata sebafai salah satu program unggulan menuju NTB Gemilang. Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc bahkan  telah menandatangani SK penetapan 99 desa wisata yang fokus dikembangkan dalam lima tahun ke depan.

SK penetapan 99 desa wisata sudah ditandatangani Gubernur NTB beberapa waktu lalu. Sesuai SK Gubernur, 99 desa wisata tersebut tersebar di 10 kabupaten/kota. Masing-masing di Kabupaten Bima ada 10 desa wisata, yakni Kawinda Toi, Piong, Labuhan Kenanga, Oi Panihi, Sambori, Maria, Soro, Risa, Panda dan Tolotangga.

Di Kabupaten Dompu ada sembilan desa wisata, yakni Saneo, Malaju, Pancasila, Huu, Doropeti, Riwo, Madaprama, Nangamiru dan Lanci Jaya. Di Kota Bima ditetapkan empat desa wisata. Yakni Kolo, Dara, Kumbe dan Ule.

Kemudian di Kota Mataram ditetapkan empat desa wisata, yakni Tanjung Karang, Jempong Baru, Karang Pule dan Sayang Sayang.  Selanjutnya di Lombok Barat ditetapkan 13 desa wisata. Yaitu Buwun Mas, Mekar Sari, Pusuk Lestari, Pelangan, Senggigi, Banyumulek, Lingsar, Senteluk, Karang Bayan, Gili Gede Indah, Sekotong Barat, Batu Putih dan Labuan Tereng.

Baca juga:  Presiden Kenakan Pakaian Adat Sasak di Sidang DPR-DPD RI

Di Lombok Tengah ditetapkan 16 desa wisata. Yakni Sukarara, Marong, Mertak, Lantan, Kuta, Labulia, Bonjeruk, Sepakek, Selong Belanak, Mekar Sari, Karang Sidemen, Rembitan, Aik Berik, Tanak Beak, Penujak dan Sengkol.

Di Lombok Timur ditetapkan 18 desa wisata. Antara lain Tetebatu, Sembalun Bumbung, Kembang Kuning, Pringgasela, Tanjung Luar, Jeruk Manis, Sekaroh, Sembalun Lawang, Lenek Ramban Biak. Jerowaru, Labuhan Pandan, Sugian, Lenek Pesiraman, Bebidas, Senanggalih, Seriwe, Sapit dan Sembalun.

Kemudian di Lombok Utara ditetapkan delapan desa wisata. Senaru, Pemenang Barat, Genggelang, Sokong, Karang Bajo, Santong, Medana dan Gili Indah.

Di Sumbawa ada 9 desa wisata, yakni Pulau Bungin, Marente, Batudulang, Lantung, Labuan Aji, Labuan Jambu, Lenangguar, Teluk Santong dan Lepade. Terakhir di Sumbawa Barat ditetapkan 8 desa wisata. Yakni Mantar, Tatar, Pototano, Labuhan Kertasari, Labuhan Lalar, Beru, Pasir Putih dan Sekongkang Atas.

Konsep desa wisata bisa menjadi contoh bagi pengembangan sektor pariwisata yang mempertimbangkan dan menjaga daya dukung lingkungan di NTB. Pariwisata, bukanlah yang secara masif memanfaatkan lingkungan dengan membangun akomodasi yang semegah-megahnya. Melainkan juga memberi porsi besar bagi pengembangan wisata berbasis wisata komunitas yang dikembangkan masyarakat seperti konsep desa wisata.

Konsep desa wisata,  tentunya akan terasa lebih tenang bagi pengambil kebijakan dalam memastikan pembangunan wisata ke depan. Konsep desa wisata yang mulai menjamur di sejumlah titik di Pulau Lombok dan Sumbawa tidak akan mengakibatkan daya lingkungan menjadi rusak. Dengan konsep desa wisata,  pariwisata NTB maju dengan lingkungan yang asri dan tetap baik.

Selain desa wisata, Pemprov NTB juga terus berinovasi mengembangkan paket-paket wisata lainnya.

Menurut Gubernur NTB, pariwisata  adalah seni mengelola dan memfasilitasi berbagai minat manusia. Dari pelayaran yang menantang, hingga keheningan yang reflektif. Jadi ada sisi lain pariwisata yang selama ini belum dikembangkan di NTB, berpeluang dijajaki.

Gubernur yang akrab disapa Doktor Zul ini terinspirasi usai bertemu dengan Fremantle Sailing Club di Perth, baru-baru ini. Fremantle Sailing Club adalah klub berlayar dengan ribuan anggota dari beragam usia dan minat.

Baca juga:  Gubernur Minta Lobar Percepat Penyelesaian Lahan Bendungan Meninting

Klub ini telah memiliki struktur kelembagaan yang sangat baik. Mereka memiliki kalender tahunan yang diisi dengan berbagai agenda pelayaran, termasuk yang bersifat kompetitif. Klub ini bahkan telah memiliki sistem regenerasi dengan membentuk keanggotaan junior dan akademi pelatihan. Dengan tujuan, membentuk generasi pelaut yang akan melanjutkan kiprah klub ini di masa depan.

“Mereka tiap tahun menyelenggarakan perlombaan berlayar dari Perth ke Bali yang diikuti banyak peserta dan pelancong,” ujar Doktor Zul. Dengan menjadi daerah persinggahan para anggota Fremantle Sailing Club, para pelaku wisata di Bali tentu akan menikmati manfaat dari aktivitas mereka selama di daerah tersebut.

Informasi ini menginspirasi Doktor Zul. Menurutnya, untuk memajukan pariwisata di NTB, semua pemangku kepentingan memang perlu banyak belajar dari Bali. Kesuksesan Bali dalam mengkreasikan tumbuhnya aktivitas semacam ini patut direnungkan bersama.

“Bali mengajarkan kita bahwa pariwisata bukan melulu persoalan pantai yang indah dan gunung-gunung yang menakjubkan. Tapi, lebih pada persoalan mengemas semuanya menjadi atraksi yang menawan hati dan memberi kesan dalam,” ujarnya.

Pemikiran ini membawa Doktor Zul pada pemaknaan lain akan pariwisata. Bahwa, di luar sana ada banyak orang yang memaknai pariwisata lebih dari pantai, gunung atau air terjun. Mereka membutuhkan hal yang selaras dengan minat-minat mereka. Beberapa orang lain juga memaknai pariwisata sebagai aktivitas yang memberikan mereka momentum untuk merefleksikan kehidupan.

Sebagian orang mungkin memiliki minat dalam pelayaran dan menginginkan tempat yang baik untuk menambatkan banyak perahu mereka. Tapi, tidak sedikit orang yang ingin melarikan diri dari rutinitas dunia. Mereka membutuhkan tempat yang hening, jauh dari keramaian. Sebuah tempat untuk berkontemplasi. Dan ada banyak lagi minat yang memotivasi orang untuk mengunjungi sebuah daerah.

 “Pariwisata sejatinya adalah seni dan kemampuan untuk menciptakan berbagai kegiatan-kegiatan yang membuat hidup kemudian jadi reflektif, penuh pilihan, bervariasi dan lebih punya makna dan penuh arti,” pungkas Doktor Zul. (r)