JCH NTB Harus Antisipasi Cuaca Panas di Tanah Suci

JCH NTB kloter 1 asal Lombok Timur yang diterbangkan ke Tanah Suci, Minggu, 7 Juli 2019 dini hari. (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan Jemaah Calon Haji (JCH) NTB untuk mengantisipasi cuaca panas di Tanah Suci yang mencapai 50 derajat celcius. Dari 4.906 JCH NTB tahun ini, sekitar 60 persen merupakan lansia yang memiliki risiko tinggi.

Staf Ahli Menteri Kesehatan (Menkes) Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi, dr. Selamet MAH mengatakan musim haji tahun ini akan berlangsung pada cuaca yang cukup panas. Saat ini cuaca di Makkah mencapai 44 derajat celcius. Dan diprediksi akan meningkat sampai 50 derajat celcius.

‘’Cuaca panas hari ini di Arab Saudi 44 derajat celcius, jauh lebih panas dari Indonesia. Perkiraan selanjutnya bisa mencapai 50 derajat celcius. Ini sangat panas dan berisiko terhadap kesehatan,’’ kata Selamet saat pelepasan JCH NTB Kloter 1 Embarkasi Lombok, Sabtu, 6 Juli 2019 petang.

Dengan kondisi cuaca yang panas seperti itu, kata Selamet bukan berarti menakut-nakuti jemaah haji. Tetapi hal ini menjadi bagian dari kewaspadaan agar mencermati kondisi ini. Seluruh JCH harus menyiapkan diri untuk beradaptasi dengan kondisi cuaca yang cukup panas tersebut.

Terkait cuaca yang cukup panas, Selamet mengatakan Menkes menitipkan pesan kepada JCH NTB agar rajin minum. Para JCH diminta jangan menunggu haus baru minum air. Minimal, kata Selamet, setiap JCH minum dua gelas air tiap dua jam. Selain itu, JCH diminta rajin menyemprotkan air ke wajah menggunakan semprot yang sudah dibagikan.

Selain itu, ia juga meminta JCH apabila ada gangguan kesehatan supaya segera menghubungi petugas kesehatan di masing-masing kloter. Setiap kloter sudah ada tiga petugas kesehatan, terdiri dari satu dokter dan dua perawat.

JCH juga diminta tidak melakukan aktivitas fisik yang tidak berhubungan dengan ibadah secara berlebihan. Pasalnya, masih ada waktu yang cukup lama  untuk puncak ibadah. ‘’Istirahat yang cukup. Menjaga prilaku hidup bersih dan sehat,’’ pesannya.

Karena jumlah JCH cukup banyak dari berbagai negara, pihaknya juga mengingatkan mewaspadai penularan penyakit lewat tangan dan mulut. Untuk itu JCH diminta menggunakan masker dan melindungi diri jika beraktivitas di luar ruangan. JCH juga diharapkan makan makanan bergizi sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Hamil, Dua JCH NTB Gagal Berangkat

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag NTB, H. Nasruddin, S. Sos, M. PdI menyebutkan total JCH NTB tahun ini sebanyak 4.906 orang termasuk petugas haji. JCH NTB terbagi dalam 11 kloter.

Untuk kloter 1 mulai diterbangkan dari Lombok International Airport (LIA) langsung menuju Madinah, Minggu, 7 Juli 2019 pukul 00.00 dini hari. JCH kloter 1 yang seharusnya diberangkatkan sebanyak 455 orang. Tetapi dua JCH terdeteksi sedang hamil muda, sehingga gagal diberangkatkan. ‘’60 persen lansia dari seluruh jemaah haji tahun ini,’’ sebutnya.

Selain dua JCH yang hamil, Nasruddin menyebutkan ketika memasuki asrama haji, ada dua jemaah kloter 1 yang dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma Mataram. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, kedua JCH tersebut dapat diberangkatkan ke Tanah Suci. “Stres ringan, sudah bisa diatasi. Karena mengalami perjalanan seperti ini,” katanya.

Terkait kondisi cuaca yang cukup panas, Nasruddin meminta JCH banyak minum, membawa obat-obatan dan banyak istirahat. Ia mengatakan JCH kloter 1 Embarkasi Lombok merupakan jemaah yang cukup riskan. Karena masa tunggu wukuf di Arafah sangat panjang.

Sehingga diharapkan JCH jangan melakukan aktivitas yang tidak penting. Artinya, tetap menjaga kondisi kesehatan. Supaya nanti ketika tiba waktu wukuf di Arafah, kondisi kesehatan benar-benar fit.

‘’Kita harapkan saat wukuf di Arafah nanti, jangan diporsir tenaganya sekarang. Sehingga pada saat wukuf, semua tetap  sehat,’’ harapnya. (nas)