Suhu Terendah 16 Derajat, Sepuluh Daerah Alami Kekeringan Ekstrem di NTB

Grafik suhu terendah pada 2011 dan 2019 antara 15 – 16 derajat celcius. (sumber : bmkg)

Mataram (Suara NTB)  – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kediri Lombok Barat (Lobar) merilis sepuluh daerah di NTB mengalami kekeringan ekstrem. Hal tersebut berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan BMKG Stasiun Klimatologi Kediri Lobar pada dasarian III Juni 2019.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kediri, Luhur Tri Uji Prayitno, SP menjelaskan pada dasarian III Juni 2019,  tidak terjadi hujan di seluruh wilayah NTB. Hari Tanpa Hujan Berturut – turut (HTH) umumnya dalam kategori Menengah (11-20 hari) untuk Pulau Lombok bagian tengah hingga selatan.

Sedangkan Pulau Lombok bagian utara umumnya dalam kategori Sangat Panjang (31-60 hari). Di Pulau Sumbawa umumnya dalam kategori Sangat Panjang (31-60 hari). “Sudah terdapat HTH dengan kategori kekeringan ekstrem,” kata Luhur, Minggu, 30 Juni 2019 siang.

Ia menyebutkan HTH kategori kekeringan ekstrem terpantau di 10 daerah pada beberapa kabupaten/kota. Antara lain di Lombok Timur terdapat di Labuhan Pandan dan Sakra Barat. Kemudian Sumbawa Barat berada di Jereweh.

Kemudian di Kabupaten Sumbawa terpantau di dua daerah, yakni Alas Barat dan Lape. Sementara di Kabupaten Bima terpantau di empat daerah, yaitu Sape, Lambu, Palibelo Teke dan Parado dan Kota Bima berada di Raba.

Luhur menambahkan,  HTH terpanjang tercatat di Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat dengan HTH 77 hari.  Ditambahkan, kondisi dinamika atmosfer, El Nino – Southern Oscillation (Enso) berada pada kondisi lemah. Sementara itu kondisi suhu muka laut di sekitar perairan NTB menunjukan kondisi lebih dingin dibandingkan dengan normalnya.

” Analisis angin menunjukkan angin timuran  mendominasi di wilayah Indonesia. Pergerakan Madden Jullian Oscillation (MJO) saat ini tidak aktif di wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan mengurangi peluang terjadinya hujan di wilayah NTB,” jelasnya.

Baca juga:  Banyak Rumah Rusak akibat Cuaca Buruk, BMKG Rilis Peringatan Dini

Ia menambahkan peluang terjadinya hujan pada dasarian I Juli 2019 sangat kecil, di bawah  10 persen  di seluruh wilayah NTB. Dengan akan masuknya periode puncak musim kemarau di NTB, masyarakat diimbau agar waspada dan berhati – hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti kekeringan, kekurangan air bersih. Dan potensi kebakaran lahan di sebagian besar wilayah NTB, khususnya di daerah – daerah rawan kekeringan dan daerah dengan HTH di atas 60 hari.

Pemprov NTB menyatakan sudah melakukan antisipasi terhadap penanganan dampak kekeringan. Bahkan seluruh sumber daya siap digerakkan apabila kondisi lapangan membutuhkan penanganan mendesak.

Penjabat Sekda NTB, Ir. H. Iswandi, M. Si menyatakan telah  mengunjungi Dinas Sosial (Disos) NTB. Untuk mengecek kesiapan Disos NTB dalam merespons berbagai persoalan sosial yang timbul di masyarakat, termasuk dampak kekeringan.

“Kita akan memberikan upaya penanganan untuk dapat mengantisipasi secepat-cepatnya. Tadi saya sudah mengecek kesiapan dari Dinas Sosial untuk merespons setiap permasalahan sosial yang timbul,” kata Iswandi dikonfirmasi Suara NTB di Kantor Gubernur, Jumat (28/6) lalu.

Ia memastikan seluruh sumber daya pemerintah provinsi siap digerakkan untuk mengatasi dan menangani dampak kekeringan yang tiap tahun melanda NTB. Informasi yang diperoleh, eskalasi kekeringan di NTB masih belum mengkhawatirkan.

“Kita lihat eskalasinya. Kalau sekarang masih belum terlalu mengkhawatirkan. Kalau saatnya diperlukan, kita akan gerakkan semua sumber daya yang ada,” ujarnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB telah menyurati BPBD kabupaten/kota terkait dengan antisipasi bencana kekeringan 2019. Surat tertanggal 27 Mei 2019 itu salah satu poinnya meminta BPBD kabupaten/kota segera menerbitkan SK Bupati tentang siaga darurat bencana kekeringan sesuai dengan kebutuhan waktu, berdasarkan informasi dari BMKG.

Baca juga:  Warga Sesaot Dihebohkan Fenomena Hujan Es

Suhu Terendah 16 Derajat

Sementara itu, masyarakat NTB diimbau terus beradaptasi dengan suhu dingin yang semakin menyengat akhir-akhir ini. Sebab suhu terendah diperkirakan terjadi pada 30 Juni mendatang pada 16 derajat celcius (°C).

Berdasarkan analisis suhu minimum pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kediri Lombok Barat menyebut,  suhu minimum terendah pada bulan Juni 2019 tercatat 16,8 °C. “Prakiraan, ini terjadi pada tanggal 30 Juni 2019,” kata Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Restu Patria Megantara, Minggu (30/6).

Nilai ini merupakan rekor suhu minimum terendah ketiga pada bulan Juni untuk delapan tahun terakhir. Pernah terjadi tanggal 24 Juni 2011, yakni pada suhu 15,0 °C   dan tanggal 18 Juni 2004  16,2 °C.

“Rekor nilai suhu minimum terendah yang pernah tercatat di Stasiun Klimatologi Lombok Barat adalah 12,2 °C terjadi pada tanggal 23 Juli 2011,” ungkapnya.

Sementara itu, nilai rata-rata suhu minimum di Juni ini tepantau sebesar 20,6 °C. Catatan ini  menjadikan Bulan Juni sebagai suhu yang terdingin dalam delapan tahun terakhir. Meski begitu, lanjutnya, belum melampaui rekor suhu minimum rata-rata terendah yang tercatat di tahun 2011.

Dimana, saat itu, nilai rata-rata suhu minimum 18,4°C sekaligus menjadikan tahun 2011 menjadi tahun paling dingin di NTB.  (nas/ars)