BMKG Pasang Tiga ‘’Shelter’’ untuk Monitor Gempa

Agus Riyanto (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Geofisika Mataram memasang tiga shelter seismograph untuk monitoring gempa, berfungsi untuk deteksi dini potensi tsunamai. Pemasangan akan dilakukan di Kecamatan Bayan Lombok Utara, Kecamatan Pujut Lombok Tengah, Kecamatan Tambora Kabupaten Bima.

Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto, baru Pemkab Lombok Utara, Pemkab  Lombok Tengah dan Pemkab Bima yang bersedia memberikan pinjaman lahan untuk pembangunan shelter monitoring gempa itu.

‘’Jadi sudah ada tiga  titik di Utara Bayan, Selatan Pujut dan Kecamatan Tambora Bima. Pemkab KLU dan Loteng sudah bersedia memberikan atau meminjamkan lahannya. Juli ini mulai dibangun supaya Agustus selesai dan mulai instalasi alat. Sehingga November sudah beroperasi,’’ kata Agus Riyanto, Sabtu (22/6) lalu.

Baca juga:  Pekan Ini, Korban Gempa di Kota Mataram dan KSB Terima Jadup

Pentingnya pemasangan alat pada shelter ini dengan pertimbangan riwayat kegempaan di NTB berpotensi tsunami. Sensor seismograph akan mengirim data lebih cepat ketika terjadi gempa. Sehingga menjadi sistem peringatan dini ketika terjadi potensi tsunami. Penggunaan alat ini akan membuat masyarakat lebih adaptif dan meminimalisir jumlah korban bencana alam, khususnya gempa bumi.

‘’Sejak awal di berbagai kesempatan, sudah disampaikan bahwa Lombok hingga Sumbawa adalah daerah rawan gempa dan berpotensi tsunami, baik yang sumber gempanya dari Utara maupun Selatan,’’ kata Agus.

Sebenarnya, ada permintaan lahan juga untuk pemasangan di Kabupaten Dompu. Namun sampai saat ini masih perlu survei akhir finalisasi lahan, sebab belum ada pernyataan kesediaan penyerahan lahan dari Pemkab setempat.

Baca juga:  15.069 Korban Gempa di Kota Mataram dan KSB Segera Terima Jadup

Ada keinginan memasang alat sensor sama di sejumlah daerah lain di NTB. Khususnya pada wilayah rawan gempa berpotensi tsunami karena berdekatan dengan laut lepas. Namun karena program nasional untuk memperkuat kelembagaan BMKG, tahun ini pemerintah pusat mengalokasikan untuk 100 unit shelter di Indonesia.

Sementara NTB mendapat jatah tiga shelter. Ditaksir, satu unit shelter dan instalasi alatnya menghabiskan anggaran Rp 500 juta.  ‘’Tahun depan akan ditambahkan lagi untuk mengepung Pulau Lombok,’’ ujarnya. (ars)