Jika Terwujud, Jembatan Lombok-Sumbawa Diyakini akan Bawa Manfaat Ekonomi yang Besar

Firmansyah dan Heri Prihatin (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Provinsi NTB tak cukup yakin, pembangunan jembatan penghubung Pulau Lombok-Sumbawa di atas laut sepanjang 16 Km akan menjadi prioritas. Meskipun, sebenarnya Kadin juga sangat berharap, ini akan terwujud. Sejumlah alasan dikemukakan Ketua Kadin Provinsi NTB, L. Heri Prihatin IR atas rencana besar membangun jembatan di selat Lombok ini.

Seperti diketahui, mengemuka rencana pembangunan jembatan di atas laut menghubungkan dua pulau di NTB. Investor asal Korea Selatan yang tergabung dalam Korindo Group disebut-sebut telah merampungkan pre-feasibility study (pre-FS) dan dinyatakan jembatan laut ini layak secara teknis. Nantinya, Lombok-Sumbawa akan terhubung hanya dalam waktu tempuh 15 menit.

Heri mengatakan, dua hal yang sangat penting adalah layak ekonomi dan layak teknis. Soal layak teknis ini, menurutnya apa saja bisa dengan mudah secara teknis dilakukan. Apalagi dengan teknologi masa kini, membangun konstruksi di atas laut bukanlah perkara sulit.

Menggunakan dana dari mana? Apakah pinjaman luar negeri? Dan bentuknya bagaimana? Jangka pendek? Menengah? Atau panjang?  Jika pinjamannya dalam jangka panjang, tentunya pembahasannya dilaksanakan di tingkat pusat. Tidak semudah yang direncanakan. Nawaitu, menurutnya boleh-boleh saja dan seluruh warga NTB sangat mengharapkan, serta mendukung hal ini terwujud. Kadinpun akan tetap mendorong program – program pembangunan di provinsi ini.

Baca juga:  Pemprov Siap Lakukan FS Pembangunan Jembatan Lombok-Sumbawa

Hanya saja, patut menjadi evaluasi, rencana pembangunan jembatan serupa Bakaheuni – Merak  yang menghubungkan Pulau Sumatera – Jawa detail desainnya juga sudah jadi. Nyatanya pemerintah menghentikan sementara rencana tersebut. Padahal, dari sisi ekonomi sangat layak, teknis juga demikian.

‘’Bahkan di sana tingkat kesulitannya lebih tinggi. Karena ada anak Gunung Krakatau yang aktif, ada lempengan sesar juga di situ, tapi dengan teknologi sekarang bisa saja dibuat. Itupun tinggal ditender, nyatanya ditunda oleh pemerintah,” terangnya. Jawa-Sumatera yang disebut begitu hebat jalur lalu lintasnya, pun tak menjadi prioritas utama.

Kemudian melihat contoh yang sudah terbangun, jembatan Suramadu sepanjang 5 Km, menghubungkan Surabaya-Madura. Sampai saat ini belum terbangun industri ikutan di Madura. Harapan dulunya, dengan dibangunnya Suramadu, akan terbangun industri secara cepat. Nyatanya, sampai saat ini harapan pemerintah belum sesuai. ‘’Itu yang sudah dibangun dan berapa tahun. Sampai sekarang progresnya ndak ada 10 persen dari harapan. Bayangkan, itu menghubungkan Surabaya, kota industri,’’ ujarnya.

Kepada Suara NTB di Mataram, Senin, 10 Juni 2019 kemarin, L. Heri lebih jauh memberikan pandangan, di NTB ini menurutnya yang paling perlu menjadi prioritas adalah jalan tol yang menghubungkan Lembar – Kayangan (barat ke timur). Jika itu yang diselesaikan, diyakini arus transportasi akan jauh lebih tinggi. ‘’Kalau jembatannya dulu, iya, 15 menit di jembatannya. Tapi 3, 4 jam di jalan rayanya. Ini juga tidak lucu. Itupun dari zamannya SBY sampai sekarang belum disambung-sambung,’’ kata L. Heri.

Baca juga:  Konstruksi Jembatan Lombok-Sumbawa Butuh Investasi Rp16,5 Triliun

Terpisah, pemerhati ekonomi Unram, Dr. M. Firmansyah mengemukakan pandangan bahwa jika benar pembangunannya terwujud, dampaknya bagi NTB akan dahsyat. Sejumlah manfaat yang dapat dirasakan diantaranya, kepadatan investasi di Pulau Lombok akan merembes ke Pulau Sumbawa.

Wisata di Lombok juga akan bergeser destinasi yaitu ke Pulau Sumbawa. Selain itu, dengan lahannya yang luas di Sumbawa sangat mungkin berdiri industri pengolahan. Distribusi logistik ke pasar (Pulau Jawa) menjadi bisa ditekan. Ditambah migrasi penduduk sangat mungkin, kelas menengah atas di Pulau Lombok dapat memiliki hunian di Pulau Sumbawa yang masih cukup luas. Dan pasar NTB yang sebelumnya terpecah jadi dua (Lombok dan Sumbawa) otomatis akan menjadi satu. (bul)