Pemprov Siap Lakukan FS Pembangunan Jembatan Lombok-Sumbawa

Zulkieflimansyah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB menyambut baik rencana pembangunan jembatan penyeberangan Lombok – Sumbawa yang diinisiasi Pemda Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Jika hasil kajian awal atau pre-feasibility study (pre-FS), masuk akal. Maka Pemprov akan siap melakukan feasibility study (FS) atau studi kelayakan soal rencana pembangunan jembatan penghubung sepanjang 16 kilometer.

‘’Iya (disambut baik). Apapun kalau jembatan itu, bukan saja Lombok-Sumbawa. Koneksi antar pulau-pulau penting. Kalau memang pra FS kelihatannya masuk akal, kenapa nggak (FS oleh provinsi),’’ kata Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Senin, 10 Juni 2019 siang.

Gubernur mengatakan, ide mengenai pembangunan jembatan Lombok – Sumbawa sudah lama terdengar. Jika betul ada investor yang berminat membangun jembatan tersebut, gubernur mengatakan itu sangat bagus sekali.

Namun ia masih mempertanyakan asal pendanaan dan investor yang akan membangun. Termasuk mengenai studi kelayakannya. Gubernur menambahkan, ia sudah menanyakan ke Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda), rencana pembangunan jembatan Lombok – Sumbawa masih sebatas pre-FS.

“Saya cek ke Bappeda, belum ada feasibility study-nya, masih pra. Tapi kita kalau misalnya bagus, mantap sekali,’’ tandas orang nomor satu di NTB ini.

Investor asal Korea Selatan yang tergabung dalam Korindo Group telah merampungkan pre-feasibility study (pre-FS) rencana pembangunan jembatan penghubung Lombok – Sumbawa di Selat Alas. Berdasarkan hasil pre-FS yang dilakukan akhir 2018 lalu, pembangunan jembatan penyeberangan sepanjang 16 Km tersebut layak secara teknis.

Baca juga:  Konstruksi Jembatan Lombok-Sumbawa Butuh Investasi Rp16,5 Triliun

Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M. Si. Amry Rahkman yang dikonfirmasi Suara NTB, Minggu (9/6) siang menjelaskan salah satu perusahaan asal Korea yang berada di bawah Korea – Indonesia (Korindo) Group sudah selesai melakukan pre-FS.

Berdasarkan hasil pre-FS, pembangunan jembatan penghubung Lombok – Sumbawa layak secara teknis. ‘’Hasil Pre FS, secara teknis bisa dibangun. Pre FS sudah jadi, dengan satu, dua, tiga alternatif,’’ terang Amry.

Ia menjelaskan, hasil pre-FS tersebut baru bisa menjawab pembangunan jembatan Lombok – Sumbawa  dari aspek teknis. Sedangkan untuk aspek ekonomi, harus dikaji lagi di dalam penyusunan FS.

Korindo Group merupakan perwakilan investor Korea yang berada di Indonesia. Setiap investasi yang berasal dari Korea, masuk lewat Korindo Group. Salah satu dari investor Korea yang punya keahlian membangun jembatan antar pulau, sudah turun ke KSB melakukan pre-FS. Pemda KSB memfasilitasi investor dari negeri ginseng tersebut membuat kajian awal soal rencana pembangunan jembatan penyeberangan dari Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur ke Pelabuhan Poto Tano, KSB.

Kajian yang dilakukan baru sebatas pre-FS, maka belum diketahui jumlah investasi yang dibutuhkan. Jumlah investasi yang dibutuhkan akan terlihat apabila sudah dilakukan FS.

Karena proyek ini akan menghubungkan dua pulau, maka kata Amry, Pemprov NTB punya tanggung jawab untuk menyiapkan anggaran penyusunan FS. Mantan Kepala Bappeda KSB ini mengatakan, ide mengenai rencana pembangunan jembatan ini untuk meningkatkan aksesibilitas antara Pulau Lombok dan Sumbawa. Dengan adanya jembatan tersebut, Lombok-Sumbawa bisa ditempuh dalam waktu 15 menit.

Baca juga:  Untuk Proyek MotoGP, NTB Tak Perlu Material dari Luar

Sementara saat ini lewat pelabuhan penyeberangan Kayangan – Poto Tano membutuhkan waktu sekitar dua jam. Artinya, waktu tempuh dapat diperpendek. Dengan demikian, pengembangan sektor pariwisata di Pulau Sumbawa juga bisa dipercepat.

Ia menyebut dengan waktu tempuh Lombok – Sumbawa di atas dua jam, seperti sekarang, wisatawan akan berpikir menyeberang ke Pulau Sumbawa. Tetapi, jika pembangunan jembatan ini terealisasi, maka Lombok – Sumbawa dapat ditempuh dalam waktu 15 menit.

Selain itu, keberadaan jembatan penghubung Lombok – Sumbawa diyakini akan semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi di Pulau Lombok dan Sumbawa. Terlebih, jalur tersebut merupakan jalur logistik nasional dari Aceh sampai NTT.

‘’Bisa dibayangkan, jika ada jembatan penghubung sepanjang 16 Km, berarti kecepatan arus barang, arus manusia, transportasi sampai ke NTT akan semakin cepat,’’ terangnya.

Soal kekhawatiran keberadaan jembatan penghubung ini yang akan mematikan penyeberangan Kayangan – Poto Tano. Amry menegaskan penyeberangan Kayangan – Poto Tano tidak akan mati.

Menurutnya, banyak objek wisata pulau-pulau kecil di KSB dan Kabupaten Sumbawa yang sedang berkembang. Pelabuhan penyeberangan yang ada dapat difungsikan sebagai lokasi sandar kapal-kapal cepat menuju objek wisata yang ada.

‘’Semua potensi, fasilitas yang ada tidak akan hilang. Nanti tinggal alternatif mana penggunaan terbaiknya,’’ tandasnya. (nas)