Hasil Pre-FS Investor Korea, Pembangunan Jembatan Lombok – Sumbawa Penuhi Kelayakan Teknis

Ilustrasi (Pembangunan Jembatan Lombok-Sumbawa) - (suarantb.com/pexels)

Mataram (Suara NTB) – Investor asal Korea Selatan yang tergabung dalam Korindo Group telah merampungkan pre-feasibility study (pre-FS) rencana pembangunan jembatan penghubung Lombok – Sumbawa di Selat Alas. Berdasarkan hasil pre-FS yang dilakukan akhir 2018 lalu, pembangunan jembatan penyeberangan sepanjang 16 Km tersebut layak secara teknis.

Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M. Si yang dikonfirmasi terkait perkembangan rencana investasi pembangunan jembatan penghubung Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa ini mengatakan pada prinsipnya layak secara teknis.

Amry Rahkman yang dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 9 Juni 2019 siang menjelaskan bahwa salah satu perusahaan asal Korea yang berada di bawah Korea – Indonesia (Korindo) Group sudah selesai melakukan pre-FS.

Berdasarkan hasil pre-FS, pembangunan jembatan penghubung Lombok – Sumbawa layak secara teknis. ‘’Hasil Pre FS, secara teknis bisa dibangun. Pre FS sudah jadi, dengan satu, dua, tiga alternatif,’’ terang Amry.

Ia menjelaskan, hasil pre-FS tersebut baru bisa menjawab pembangunan jembatan Lombok – Sumbawa  dari aspek teknis. Sedangkan untuk aspek ekonomi, harus dikaji lagi di dalam penyusunan FS.

‘’Karena percuma aspek ekonominya, kalau teknis tidak bisa. Secara teknis sudah bisa dibangun. Tapi secara ekonominya nanti diperdalam di FS,’’ jelasnya.

Amry menambahkan, Korindo Group merupakan perwakilan investor Korea yang berada di Indonesia. Setiap investasi yang berasal dari Korea, masuk lewat Korindo Group.

Salah satu dari investor Korea yang punya keahlian membangun jembatan antar pulau, sudah turun ke KSB melakukan pre-FS. Pemda KSB memfasilitasi investor dari negeri ginseng tersebut membuat kajian awal soal rencana pembangunan jembatan penyeberangan dari Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur ke Pelabuhan Poto Tano, KSB.

Kajian yang dilakukan baru sebatas pre-FS, maka belum diketahui jumlah investasi yang dibutuhkan. Jumlah investasi yang dibutuhkan akan terlihat apabila sudah dilakukan FS.

Karena proyek ini akan menghubungkan dua pulau, maka kata Amry, Pemprov NTB punya tanggung jawab untuk menyiapkan anggaran penyusunan FS. ‘’Sekarang apakah di APBD provinsi sudah dianggarkan FS itu, saya belum cek informasinya. Kalau sudah dianggarkan FS-nya, tahun ini bisa jadi. Tahun depan bisa kita jual ke investor,’’ jelasnya.

Mantan Kepala Bappeda KSB ini mengatakan, ide mengenai rencana pembangunan jembatan ini untuk meningkatkan aksesibilitas antara Pulau Lombok dan Sumbawa. Dengan adanya jembatan tersebut, Lombok-Sumbawa bisa ditempuh dalam waktu 15 menit.

Sementara saat ini lewat pelabuhan penyeberangan Kayangan – Poto Tano membutuhkan waktu sekitar dua jam. Artinya, waktu tempuh dapat diperpendek. Dengan demikian, pengembangan sektor pariwisata di Pulau Sumbawa juga bisa dipercepat.

Ia menyebut dengan waktu tempuh Lombok – Sumbawa di atas dua jam, seperti sekarang, wisatawan akan berpikir menyeberang ke Pulau Sumbawa. Tetapi, jika pembangunan jembatan ini terealisasi, maka Lombok – Sumbawa dapat ditempuh dalam waktu 15 menit.

Selain itu, keberadaan jembatan penghubung Lombok – Sumbawa diyakini akan semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi di Pulau Lombok dan Sumbawa. Terlebih, jalur tersebut merupakan jalur logistik nasional dari Aceh sampai NTT.

‘’Bisa dibayangkan, jika ada jembatan penghubung sepanjang 16 km, berarti kecepatan arus barang, arus manusia, transportasi sampai ke NTT akan semakin cepat,’’ imbuhnya.

Dampak keberadaan jembatan penghubung ini yang akan mematikan penyeberangan Kayangan – Poto Tano. Amry menegaskan penyeberangan Kayangan – Poto Tano tidak akan mati.

Menurutnya, banyak objek wisata pulau-pulau kecil di KSB dan Kabupaten Sumbawa yang sedang berkembang. Pelabuhan penyeberangan yang ada dapat difungsikan sebagai lokasi sandar kapal-kapal cepat menuju objek wisata yang ada.

‘’Semua potensi, fasilitas yang ada tidak akan hilang. Nanti tinggal alternatif mana penggunaan terbaiknya,’’ tandasnya.

Sebelumnya, Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M. Sc, M.TP mengatakan jika proyek pembangunan jembatan ini terwujud, konektivitas Pulau Lombok dan Sumbawa akan begitu mudah. Transportasi laut lewat penyeberangan Kayangan – Pototano yang maembutuhkan waktu berjam-jam, dapat dipangkas menjadi 15 menit jika jembatan tersebut terbangun.

Jika dilihat dari aspek ekonomi, pembangunan jembatan penghubung Lombok – Sumbawa ini sangat prospek. Pasalnya, saat ini ada puluhan kapal penyeberangan yang bolak-balik Kayangan – Pototano tiap hari. Apalagi jika melihat tren pengembangan destinasi wisata. Selain itu, jalan nasional yang ada di Lombok dan Sumbawa merupakan bagian dari  jalur logistik nasional.

Sementara itu, Kepala Bappeda NTB, Ir. Wedha Magma Ardhi, M. TP yang dikonfirmasi terpisah mengaku belum mengetahui rencana pembangunan jembatan penghubung Lombok – Sumbawa. Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB ini tidak mengetahui sama sekali perkembangan rencana pembangunan jembatan tersebut.

Ardhi juga mengaku belum bertemu dengan investor yang berencana akan membangun jembatan sepanjang 16 Km tersebut. ‘’Saya belum tahu. Besok saya tanya teman-teman,’’ ujarnya singkat. (nas)