Nikahi Warga Lokal, Modus WNA Kuasai Lahan di NTB

L. Gita Ariadi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Penguasaan lahan investasi oleh orang asing di NTB dengan modus menikahi warga lokal masih ditemukan. Hal tersebut diketahui setelah terjadi sengketa hukum antara warga lokal dengan orang asing yang menguasai lahan.

‘’Modus seperti itu kita antisipasi dengan pembentukan Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora). Itu yang kita inginkan kepaada masyarakat. Kalaupun bermitra dengan orang  asing prosesnya harus legal. Jangan sampai menggunakan modus kawin,’’ kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Drs. H. L. Gita Ariadi, M. Si dikonfirmasi Rabu, 29 Mei 2019.

Gita mengatakan ketika bermasalah, posisi warga lokal agak lemah ketika terjadi persoalan hukum. Ia juga meminta kepada orang asing yang ingin berinvestasi di NTB agar lewat jalur-jalur yang resmi sesuai ketentuan.

Baca juga:  Tim Independen Jaring Investor Gili Tangkong

‘’Ketika tak ada masalah, tapi begitu terjadi masalah pada posisi warga lokal yang lemah. Akhirnya berhadapan dengan hukum. Kan banyak sekali kejadian seperti itu,’’ ujarnya.

Gita menjelaskan, DPMPTSP merupakan bagian dari Timpora. Timpora kerap turun melakukan pengawasan ke lapangan. ‘’Kita juga memantau, terutama kita (memantau) realisasi investasinya,’’ katanya.

Dalam tim tersebut, DPMPTSP berkepentingan terhadap masalah perizinan investasi orang asing yang ada di NTB. Sedangkan masalah dokumen keimigrasian menjadi ranah Imigrasi. ‘’Tim itu masing-masing sudah punya tugas melakukan penertiban,’’ tandasnya.

Baca juga:  Gubernur Tak Ingin Investasi Abal-abal di NTB

Soal dugaan orang asing menguasai lahan investasi dengan melawan hukum pernah ditemukan Ombudsman RI Perwakilan NTB pada 2017 lalu.  Hal tersebut  banyak terjadi di kawasan  destinasi wisata seperti di Lombok Timur, Lombok Tengah, KLU dan Lombok Barat.

Dari laporan masyarakat terkait modus investor yang membeli tanah di NTB dengan menggunakan dan memanfaatkan warga lokal. Warga negara asing tertarik dengan kemajuan pariwisata NTB kemudian berupaya menguasai lahan dan membuka usaha atas nama warga lokal. (nas)