Sepak Terjang Aldi, Siswa SMA 1 Sembalun tak Diluluskan Akibat Terlalu Kritis

Aldi Irpan (berdiri dua dari kiri) bersama keluarganya, Jumat 17 Mei 2019. (Suara NTB/ist_dok keluarga)

Mataram (suarantb.com) – Dunia pendidikan NTB terusik dengan kabar perlakuan diskiriminatif terhadap salah seorang Siswa SMA 1 Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Aldi Irpan, tidak diluluskan pihak sekolah akibat terlalu kritis.

Sikap kritis Aldi paling nampak ketika ia memprotes kebijakan kepala sekolah SMA 1 Sembalun, Sadikin Ali yang memulangkan semua siswa yang terlambat. Padahal keterlambatan siswa disebabkan ruas jalan menuju sekolah rusak akibat kegiatan proyek perbaikan. Jarak tempuh relatif jauh bagi mereka, mencapai 5 kilometer, apalagi ditempuh dengan jalan kaki. Aldi minta toleransi waktu 10 menit, karena toh kegiatan belajar dimulai Pukul 07.15 Wita. Namun kepala sekolah mematok harga mati jam masuk sekolah 07.00 Wita, jika terlambat, maka siapapun dipulangkan.

Sikap kritis Aldi direspon dengan tindakan tegas. Siswa bertubuh tegap ini dinyatakan tidak lulus dari kelas III ke kelas IV. Padahal syarat kelulusan tidak ada masalah. Nilainya mencapai 192,0, peringkat kedua terbaik di sekolah.

Riwayat ketegangan dengan kepala sekolah tanggal 22 Januari 2019 lalu. Aldi dianggap melanggar aturan karena memakai jaket di lingkungan sekolah. Aldi dan sejumlah temannya terpaksa memakai jaket karena Januari di Sembalun musim hujan dan cuaca di Kaki Gunung Rinjani itu sangat dingin mencapai 12 derajat celcius. Salah seorang siswa, Holikul Amin, mendapat perlakuan kasar dengan dilempari bak sampah oleh kepala sekolah karena menggunakan jaket. Protes dan permintaan Aldi agar diijinkan menggunakan jaket tak diindahkan kepala sekolah.

Baru baru ini, Rabu 6 maret 2019 saat ujian try out, Aldi dipulangkan paksa karena memakai baju putih abu abu. Alasannya, baju putih hitam yang seharusnya dipakai saat itu, basah akibat hujan. Aldi balik mengkritisi, ada guru di sekolah itu yang tidak memakai pakaian jenis sama. Gara gara protes itu, hari yang sama digelar rapat internal dipimpin Kepsek untuk pemecatan Aldi Irpan.

Bagaimana keseharian Aldi di mata keluarga?

Keluarga Aldi di Dusun Berugak Mujur, Desa Sembalun Timba Gading masih merasa shock dengan keputusan SMA 1 Sembalun tersebut. Mereka ingin Aldi diluluskan karena memperoleh nilai tinggi dan tidak ada perilaku yang dianggap menyimpang.

“Kami pernah tanya wali kelas, satu pun tidak disebut kesalahannya. Sejak kelas 1 sampai kelas III, tidak pernah buat onar. Pas kelas tiga bahkan jadi ketua kelas. Ini guru agamanya yang juga angkat bicara,” kata kakak ipar Aldi, Rusman kepada Suara NTB via ponsel, Jumat, 17 Mei 2019.

Kasian yang didapatnya dari guru guru yang mendukung Aldi di sekolah, jiwa religius Aldi jadi pembeda. Selain sering adzan, Aldi mewarnai sekolah dengan kegiatan pengajian dan mendatangkan Al – Qur’an dari para donatur.

Meski kritis, jiwa sosialnya juga tinggi. Kerap mengajak pemuda desa membersihkan masjid kampung ketika masuk libur sekolah. Aldi juga rajin membantu kedua orang tuanya Nuwin dan Sahrul bertani.

Jiwa kritisnya memang sudah terasah, karena aktif terlibat kegiatan sosial di eksternal sekolah. Ia terlibat organisasi Agra untuk anak cabang Sembalun dan organisasi sosial Pembaharu. “Sebelumnya ada anak kena timor di desa ini, Aldi yang bantu carikan donatur sana sini untuk biaya operasi,” ungkapnya.

Semua kelakuan baik adiknya itu bukan dimaksudkan untuk semata pembelaan. Tapi menurut Rusman, kondisi objektif pada adiknya, agar masyarakat tidak keliru persepsi. Bukan berarti pula pembelaan itu tanpa ruang kompromi. Sebagai keluarga, pernah terbuka menyampaikan ke sekolah agar ditunjukkan kesalahan Aldi Irpan yang paling fatal sehingga membuatnya tidak lulus.

Dua kali pertemuan di sekolah, tak membuahkan hasil meski Aldi dan keluarga bersama teman temannya sudah meminta maaf secara terbuka. Sekaligus meminta dijelaskan kesalahan kesalahannya. Namun tetap dengan alasan sumir soal sikap kritisnya, Kepsek bergeming Aldi tak diluluskan.

“Bahkan Aldi bersama dua orang tuanya datang ke rumah Kepsek untuk minta maaf. Tapi tidak diterima. Alasan ditolak, karena datangnya pada saat hari Minggu, bukan jam kerja,” sesalnya.

Sementara Aldi yang dihubungi via ponsel mengaku tetap optimis bisa kembali ke sekolah, karena tidak ada alasan tidak diluluskan. Jiwa kritisnya pun tak akan luntur. “Saya mau tetap kembali ke sekolah saya dan lulus,” ujarnya.

Dianggap Melanggar

Bagaimana tanggapan Kepala SMA 1 Sembalun? hingga berita ini ditulis, sambungan telepon Suara NTB tak ditanggapi. Informasinya Sadikin Ali sedang diklarifikasi Dikbud Provinsi NTB.

Penjelasan hanya datang dari Kepala UPT Layanan Dikmen dan PK-PLK Kabupaten Lotim, H. Mashun. Atas kejadian itu, pihaknya sudah memanggil kepala SMAN 1 Sembalun, tim pengembang pendidikan, tim pengembang kurukulum, wakil-wakil kepala sekolah dan guru bimbingan konseling (BK). Dari hasil klarifikasi itu, siswa yang bersangkutan sudah melampui batas prilaku-prilaku tidak terpuji yang dilakukannya.

Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya catatan-catatan dari pihak sekolah, serta perjanjian yang dibuat dalam bentuk bermaterai Rp 6000 yang diketahui langsung oleh orang tua. “Kita sudah melihat bukti-bukti pembinaannya. Banyak aturan dan kesepakatan yang dilanggar oleh siswa yang bersangkutan,”ungkapnya.

Bahkan pada awal tahun 2018, siswa yang bersangkutan sempat ingin dikeluarkan dan diminta untuk mencari sekolah lain. Akan tetapi, pihak sekolah masih memberinya kesempatan karena Aldi Irfan bersedia bertaubat dan meminta maaf atas perbuatan yang dilakukannya. Namun prilakunya tidak berubah, bahkan siswa yang bersangkutan sampai mengucapkan kata-kata tidak terpuji kepada gurunya.

Di media sosial, kasus Aldi mendapat perhatian luas. Tagar #SaveAldi #SavePendidikanNTB mulai diviralkan. Sejumlah pihak turun tangan membantu agar Aldi lulus, seperti Dewan Guru, Ikatan Guru Indonesia (IGI) NTB, bahkan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB melakukan invetigasi awal. (ars)