Dinamika Efek Ekor Jas Pilpres 2019 di NTB

Ilustrasi Pemilu 2019 (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Efek ekor jas Pilpres di NTB memberikan pengaruh yang dinamis bagi Parpol-parpol yang mengalaminya. Sebagian Parpol mampu mengkapitalisasi sentimen Pilpres untuk mendongkrak perolehan suara mereka. Sebagian lainnya, seperti tidak merasakan dampak apapun. Ada pula yang sukses menghindari anjloknya perolehan suara akibat sentimen Pilpres.

DI Pemilu 2019, efek ekor jas atau coat-tail effect, digunakan untuk menyebut dampak elektoral dari dukungan Parpol untuk kandidat di Pilpres, terhadap perolehan suara parpol tersebut di Pemilu Legislatif. Hal ini terlihat dalam perolehan suara parpol pengusung pasangan Capres/Cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin dan pasangan Prabowo-Sandi di NTB.

Namun, tidak semua partai sukses menikmati efek ini. Di Pilpres dan Pemilu 2009 misalnya, terdapat cukup banyak partai politik yang mendukung figur Capres SBY. Meski demikian, efek ekor jas rupanya diborong sendirian oleh Partai Demokrat. Sementara, hampir seluruh parpol lain yang mendukung SBY, suaranya justru mengalami penurunan di Pemilu 2009.

Dinamika serupa juga terjadi pada Pemilu 2019. Di NTB, yang menjadi lumbung suara pasangan Prabowo-Sandi, efek ekor jas sepertinya hanya dinikmati oleh dua parpol saja, yaitu Gerindra dan PKS. Dua partai ini berhasil mengkapitalisasi perolehan suara mereka baik untuk tingkat DPR RI maupun DPRD Provinsi.

PAN dan Demokrat yang juga mendukung Prabowo-Sandi, mengalami nasib yang justru kurang mengenakkan. PAN masih terselamatkan oleh besarnya dukungan pribadi untuk H. M. Syafrudin, ST, MM di Dapil NTB I. Syafrudin sukses terpilih kembali karena suara pribadinya menjadi yang terbesar diantara seluruh Caleg DPR RI Dapil NTB I, dengan 66.902 suara.

Di Dapil NTB II, PAN harus tersingkir dari daftar peraih kursi DPR RI. Sementara Demokrat, gagal di NTB I dan berhasil mengamankan satu kursi DPR RI di NTB II.

Baca juga:  Kalah di Banyak Lini, Partai Baru Butuh Waktu

Tidak Otomatis

Kemenangan yang diraih pasangan Prabowo-Sandi di NTB memang  tidak lantas mengantarkan partai pengusungnya keluar sebagai pemenang Pemilu. Demikian juga sebaliknya, kekalahan Jokowi-Ma’ruf juga tidak lantas membuat partai pengusungnya menelan pil pahit kekalahan.

Diketahui, perolehan dukungan yang diraih Prabowo-Sandi di NTB berdasarkan hasil pleno rekapitulasi KPU, sebesar 2.011.319 suara. Sementara Jokowi-Ma’ruf hanya mendapatkan dukungan sebesar 951.242 suara.

Untuk Pemilu DPRD NTB, Partai Gerindra yang dipimpin Capres Prabowo Subianto, sempat diprediksikan mendulang suara terbesar di NTB. Namun, perolehan dukungan yang diraih Gerindra hanya mampu memberikan satu tambahan kursi di DPRD NTB. Dari delapan kursi di 2014, menjadi sembilan kursi di 2019.

Perolehan dukungan terhadap Partai Gerindra tersebut belum bisa mengantarkannya sebagai pemenang Pemilu DPRD NTB. Gerindra pun urung menyudahi dominasi Partai Golkar yang selama ini selalu menjadi langganan pemenang Pemilu DPRD NTB.

Partai koalisi pendukung Prabowo-Sandi lainnya seperti, PAN, PKS dan Partai Demokrat juga tak banyak mendapat keuntungan efek ekor jas dari pasangan Capres/Cawapres yang didukungnya. PKS hanya bertambah satu kursi, PAN tetap, sementara Demokrat justru kehilangan satu kursi DPRD NTB.

Meski jagoannya kalah di NTB, parpol-parpol pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin juga tidak lantas mengalami kekalahan telak di NTB. PDIP yang selama ini menjadi partai yang diasosiasikan paling dekat dengan Jokowi, hanya berkurang satu kursi saja, dari lima kursi sebelumnya menjadi empat kursi.

Golkar juga bernasib sama dengan PDIP, hanya kehilangan satu kursi. Namun, hal itu tak membuat partai beringin ini akan kehilangan palu Ketua DPRD NTB yang selama ini telah dikuasainya.

Partai pendukung yang lain seperti Nasdem, dan PKB justru mendapat peningkatan dukungan. PKB yang diasosiasikan dengan Cawapres Ma’aruf Amin malah mendapat tambahan satu kursi. Demikian juga dengan Nasdem, justru mengalami lonjakan, dari tiga kursi sebelumnya bertambah menjadi lima kursi. Demikian pula dengan PPP, juga mendapat tambahan satu kursi.

Baca juga:  Golkar Masih Dominan, Ini Perolehan Caleg DPRD NTB Hasil Pemilu 2019

Dari semua partai pengusung Jokowi di NTB, hanya Partai Hanura yang mendapat nasib paling tragis. Dari lima kursi yang dikuasai sebelumnya, di Pemilu 2019 ini empat kursinya hilang, sehingga tersisa satu kursi. Namun demikian kekalahan yang dialami Hanura tersebut, bukan karena faktor Pilpres, melainkan lebih karena efek dari konflik internal di partai tersebut.

Ketua DPC PKB Loteng, Lalu Pelita Putra kepada Suara NTB mengatakan, bahwa efek Pilpres tidak memberikan pengaruh besar. Kekalahan dan kemenangan partai menurutnya, lebih karena faktor kerja mesin partai itu sendiri, termasuk para Calegnya.

‘’Kalau Pileg ini betul-betul bagaimana Caleg itu sendiri yang bekerja. Kalau tidak serius ya ditinggalkan. Jadi tidak ada Pilpres yang mempengaruhi, tapi tidak tahu ditempat lain,’’ katanya, Senin (13/5).

Hal itu juga dirasakan oleh Caleg Petahana DPRD NTB yang kembali terpilih itu. Ia menuturkan bahwa masyarakat sudah sangat cerdas, tidak sedikit pendukungnya menjadi pendukung Prabowo. ‘’Ini buktinya meskipun Pendukung Prabowo, tidak bisa kemudian dipaksakan akan dukung partai tertentu,’’ ujarnya.

Namun demikian di tempat terpisah, PKS mengaku merasakan betul efek ekor jas dari Pilpres tersebut. Dengan kemenangan Prabowo di NTB, PKS mendapatkan peningkatan dukungan suara. Pada Pemilu 2019 ini, PKS berhasil mengirimkan dua wakilnya ke DPR RI dari NTB. Begitu juga pada tingkat DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota PKS juga mendapat tambahan kursi.

‘’Alhamdulillah, kita ada peningkatan dari sebelumnya. Itu tentu tidak lepas dari faktor soliditas kerja mesin partai, dan juga ada pengaruh Pilpres,’’ kata Ketua DPW PKS NTB, H.Abdul Hadi. (aan/ndi)