Pemprov akan Uji Laboratorium Daging Oplosan

Kepala Dinas Nakeswan Provinsi NTB, Hj. Budi Septiani menunjukkan daging impor yang bebas dijual di pasaran baru-baru ini. Daging impor yang dijual secara terbuka ini tak dijamin higienitasnya. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB, melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB akan melakukan uji laboratorium terkait pencemaran kandungan mikroba daging impor yang dioplos oleh oknum pejagal dan pedagang.

Disnakeswan NTB rencananya akan melakukan uji laboratorium, melalui UPTnya, atau BPOM. Bahkan akan di rekomendasikan uji laboratorium di luar daerah yang memiliki alat uji lengkap terkait hal ini. Kepala Dinas Nakeswan Provinsi NTB, Ir. Hj. Budi Septiani akan menggerakkan timnya. Kenapa harus diuji kandungan mikrobanya? Semata-mata untuk memastikan jaminan keamanan bagi konsumen.

Ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 7 Mei 2019 kemarin, Hj. Budi Septiani tak menampik maraknya daging impor. Bahkan yang dijual oplosan oleh pedagang-pedagang di pasar tradisional. Hal ini diketahuinya, setelah bersama tim melakukan inspeksi langsung ke beberapa pedagang penjual daging yang ada di Kota Mataram.

Baca juga:  Daging Impor Masuk, Pemotongan di RPH Berkurang

Dari inspeksi yang dilakukan, secara terang-terangan para pedagang menjual daging impor yang telah mencair. Bahkan menawarkannya kepada pembeli. Pengoplosan juga dilakukan terang-terangan untuk memberikan harga daging yak tak mahal, tak juga murah.

Daging impor yang entah datangnya dari negara mana ini, dijual semeja dengan daging lokal. Daging impor, tidak dijamin higienitasnya, bilamana daging ini telah dijual dalam keadaan tidak beku. Seharusnya, pedagang penjual daging impor ini memiliki box pendingin untuk menjaga suhunya agar tidak terkontaminasi. Tetapi di lapangan faktanya berbeda.

“Kalaupun tidak dioplos langsung, daging yang tadinya beku dan di angin-anginkan akan menjadi cair. Cairan ini yang akan bercampur dengan daging lokal. Kalau mengandung mikroba yang berbahaya bagi kesehatan manusia, secara otomatis seluruh daging yang dijajakan satu meja oleh pedagang juga akan ikut terkontaminasi.

Baca juga:  Daging Impor Masuk, Pemotongan di RPH Berkurang

Soal masuknya daging impor yang kemudian dioplos oleh oknum pengusaha dan pedagang daging ini, menurut kepala dinas bukan ranahnya. Terutama yang menyangkut izin-izin masuknya dan mata rantainya. Dinas Nakeswan dalam hal ini berperan untuk memastikan bahwa daging yang dijual oleh pedagang harus benar-benar daging aman, sehat, dan halal.

Selain itu, Dinas Nakeswan juga telah merekomendasikan tidak sedikit kuota potong harian untuk Pulau Lombok. Sebanyak 160 ekor sapi yang bisa dipotong sehari untuk memenuhi permintaan pasar akan daging. Selain itu, Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek, Lombok Barat juga telah dibenahi. Uji coba pemotongan telah dilakukan. Sampai saat ini masih ada aktivitasnya. “Dinas-dinas juga sudah banyak mesan. Dagingnya dari sapi yang dipotong di RPH Banyumulek dan dijual oleh MBC,” demikian Hj. Budi. (bul)