Gubernur NTB : Permesinan, Pemicu Awal Industrialisasi

Zulkieflimansyah (Suara NTB/humasntb)

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M, Sc mengatakan, trigger awal industrialisasi adalah permesinan. Untuk itu, ia meminta Kepala Kepala Dinas Perindustrian NTB, Ir. Andi Pramaria, M. Si dan jajaran Pemprov NTB memberikan prioritas kepada aplikator dan pihak swasta yang mau membawa teknologinya ke Science Technology Industrial Park (STIP) Banyumulek.

‘’Trigger awalnya semua industrialisasi itu berawal dari permesinan,’’ kata gubernur saat launching Teknologi Rumah Tahan Gempa (RTG) di STIP Banyumulek, Senin, 29 April 2019 siang.

Sebanyak 17 aplikator RTG sudah berada di STIP Banyumulek saat ini. Dengan nilai investasi sebesar Rp37 miliar. Para aplikator RTG diberikan kemudahan oleh Pemprov tanpa dikenakan sewa lahan.

Di STIP Banyumulek, para aplikator Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) membuat panel-panel Risha untuk memenuhi kebutuhan korban gempa yang rumahnya rusak berat. Selain aplikator Risha, ada juga yang membuat contoh Rumah Instan Baja (Risba), Rumah Instan Tanah Air (Rita) dan lainnya.

Baca juga:  Percepat Industrialisasi, NTB Harus Naikkan Kelas Produk Lokal dan Substitusi Impor

Kehadiran para aplikator yang memanfaatkan lahan STIP membuat gubernur bersemangat. Karena di balik bencana yang menimpa NTB, menghadirkan keberkahan tersendiri. Menurutnya, kehadiran aplikator di STIP merupakan kesempatan yang tidak semua daerah bisa mendapatkannya untuk memajukan industrialisasi.

‘’Industrialisasi itu tak selalu identik dengan pabrik-pabrik besar yang polusinya ke mana-mana. Tapi industrialisasi itu adalah pendalaman struktur industri,’’ kata gubernur.

Sehingga  produk yang dihasilkan suatu daerah secara berkala mengalami peningkatan  nilai tambah. Menurut gubernur,  tidak mungkin memajukan ekonomi NTB apabila sampai 10 atau 15 tahun yang akan datang produk yang dihasilkan hanya keripik dan gerabah.

Tetapi produk yang dihasilkan ada peningkatan secara berkala dalam dua tahun, empat tahun, lima tahun dan seterusnya. Artinya, harus terjadi upgrading capacity dari industri yang ada di NTB.

‘’Oleh karena itu, Kepala Dinas Perindustrian dan teman-teman di pemerintahan tolong beri prioritas kepada semua aplikator yang mau menempatkan diri di sini (STIP). Karena nanti ada pembelajaran yang luar biasa. Sekali bisa bikin rumah. Maka berikutnya bisa bikin apa saja di NTB,’’ katanya.

Baca juga:  Wagub NTB Kunjungi BUMD Milik DKI

Gubernur mengatakan, STIP merupakan lokasi, area, zona di mana orang yang baru mengenal NTB diberikan fasilitas untuk trial and error. Mereka diberikan fasilitas tanpa menyewa lahan. Bahkan gubernur memberikan penekanan kepada Kepala Dinas dan staf Pemprov jangan sekali-kali mempersulit orang pengusaha yang masuk ke STIP untuk mengembangkan RTG.

‘’Semua yang menjadi kepala dinas, ASN ini telah berkhidmat kepada masyarakat untuk membantu aplikator sehingga mampu mengakselerasi geliat ekonomi di NTB,’’ tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, gubernur juga meminta kepada semua aplikator RTG agar mempekerjakan masyarakat lokal. Sehingga terjadi transfer pengetahuan. ‘’Karena cost of learning itu mahal,’’ ujarnya. (nas)