BMKG Ingatkan Survei Kerentanan Gempa di Sirkuit Mandalika

Master plan kompleks Mandalika Street Circuit yang mulai dibangun Oktober 2019. Di kawasan ini, BMKG menyarankan lebih awal dilakukan survei kerentanan gempa. (Suara NTB/IG_ITDC)

Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan soal wilayah Lombok, khususnya bagian tengah yang punya riwayat kegempaan. Rencana pagelaran MotoGP tahun 2021 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, harus diantisipasi sejak dini jika terjadi bencana. Sehingga, penting untuk dilakukan survei mikrozonasi untuk  mengukur sejauh mana kerentanannya pada gempa.

Mikrozonasi diketahui salah satu teknik untuk membagi suatu zona yang besar menjadi zona-zona kecil dengan kriteria masing-masing zona. Termasuk dalam zonasi kegempaan. Sedangkan survei diperlukan untuk memetakan secara riil potensi gempa yang berpotensi terjadi berdasarkan riwayat kejadian dan keberadaan sesar aktif.

Menurut Kepala BMKG Stasitun Geofisika Mataram, Agus Riyanto, SP survei ini begitu penting sebagai bagian dari mitigasi bencana di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Baca juga:  Warga Cabut Pagar Lahan di Lokasi Pembangunan Sirkuit

Pada pertemuan Selasa (9/4) lalu terkait pendoman penyusunan mitigasi bencana di  KEK Mandalika, Agus Riyanto mendorong secara khusus untuk survei ini. Bahkan sudah ada komitmen dari manajemen ITDC,  I Wayan Karioka untuk memfinalisasi dukungan lahan shelter seismik broadband di kawasan itu. Hadir juga Sekda NTB, Ir.H. Rosiady H. Sayuti M.Sc. P.hD dalam pertemuan itu.

‘’Dalam pertemuan itu,  kami BMKG sampaikan proposal agar dilakukan survei mikrozonasi di KEK Mandalika,’’ ungkapnya. Hanya saja, sampai sejauh ini belum ada tindak lanjut. Pihaknya juga pernah melayangkan surat  audensi ke Gubernur NTB, tapi belum juga ada respons.

Baca juga:  Pemagaran Lahan Sirkuit MotoGP Berlanjut, Bupati Loteng Kumpulkan Anggota Forkompinda

‘’Jangan sampai ketika diproses akhir baru BMKG dilibatkan,’’ ujarnya. Apalagi dalam catatan kegempaan baru baru ini, sesar lokal aktif di bawah Gunung Rinjani, sempat memicu gempa  5,4 SR.

Agus berharap, pihak ITDC dan Pemprov NTB hingga Pemkab Loteng serius mencermati upaya mitigasi ini.  Bencana memang menurutnya tak bisa dihindari, tapi bisa diminimalisir dampaknya lewat proses mitigasi. Terlebih sukses MotoGP diketahuinya akan menjadi indikator kemajuan NTB dan Indonesia umumnya menjadi tuan rumah event dunia. (ars)