Setengah Juta Warga NTB Belum Nikmati Listrik

Sekjen Kementerian ESDM, Dr. Ir. Ego Syahrial

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyoroti rasio elektrifikasi NTB yang masih berada di bawah rata-rata nasional. Berdasarkan data Kementerian ESDM, sekitar setengah juta atau 500 ribu jiwa warga NTB belum menikmati listrik.

Sekjen Kementerian ESDM, Dr. Ir. Ego Syahrial menyebutkan, rasio elektrifikasi nasional sudah mencapai 98,3 persen pada 2018. Sedangkan rasio elektrifikasi NTB masih berada di bawah rata-rata nasional, yakni baru mencapai 90 persen.

‘’Masih ada 500 ribu rakyat di NTB yang belum menikmati listrik tersebar di 10 kabupaten/kota. Ini adalah kerja kita bersama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemda kabupaten/kota. Supaya kita bisa mencapai target ideal 99,99 persen,’’  kata Syahrial dikonfirmasi usai menghadiri Musrenbang 2020 di Mataram, Kamis, 4 April 2019 siang.

Agar semua masyarakat NTB dapat menikmati listrik, Pemda perlu mengalokasikan anggaran dalam APBD. Syahrial mengatakan, Pemerintah Pusat juga akan mengalokasikan anggaran agar rasio elektrifikasi NTB segera mendekati 100 persen.

‘’Pemerintah pusat tentunya menganggarkan. Tapi kemampuan terbatas. Kita minta Pemda melalui APBD-nya juga menganggarkan,’’ harapnya.

Syahrial menambahkan, NTB sudah memiliki Perda tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Pihaknya meminta Perda RUED dijalankan.

Sehingga tidak ada lagi masyarakat yang menggunakan minyak tanah untuk bahan bakar lampu. “Ini kita harus sama-sama, bahu membahu membantu dengan Energi Baru Terbarukan (EBT),” tandasnya.

Ia melihat potensi EBT di NTB cukup besar, misalnya panas bumi Sembalun Lombok Timur. Dikatakan, Kementerian ESDM telah menetapkan wilayah kerja pengembangan panas bumi Sembalun.

Memang, katanya, pengembangan energi panas bumi butuh waktu yang lama untuk eksplorasi. Kementerian ESDM telah mengundang investor untuk mengembangkan energi panas bumi Sembalun.

‘’Namun karena dulu ada paradigma bahwa panas bumi menyebabkan kekeringan, menyebabkan rusaknya hutan.   Namun sekarang ini di Bali juga berkembang. Kita harapkan di Sembalun ini juga ada investor yang mulai tertarik,’’ pungkasnya. (nas)