Okupansi Hotel Tiga Gili Baru 30 Persen

Wisatawan mancanegara yang naik dan turun di Gili Trawangan. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Sektor pariwisata Lombok Utara khususnya di tiga Gili masih dihadapkan pada situasi low season. Saat ini saja, tingkat okupansi perhotelan di 3 pulau yang menjadi destinasi masyarakat dunia itu masih sebesar 30 persen.

Hal itu diakui, Plt. Kepala Desa Gili Indah, Suburudin, kepada wartawan usai gelaran event Gili Menggibung di Dusun Gili Trawangan, Desa Gili indah, Kecamatan Pemenang, Sabtu, 23 Maret 2019.

Suburudin berharap, dorongan pihak swasta melalui gelaran event promosi budaya menjadi magnet dana tarik pariwisata. Ia meyakini, pulau 3 Gili di Lombok Utara sudah sangat terkenal di kalangan pelancong mancanegara. Untuk memperkuat daya tarik itu, diperlukan kemasan promosi yang mendukung citra positif tiga pulau dan menyajikan event yang unik untuk disaksikan.

“Wisatawan tertarik datang ke sini karena tiga Gili memiliki alam yang sangat indah. Keindahan ini kalau dipadukan dengan atraksi budaya, maka akan semakin menarik bagi wisatawan untuk berkunjung,” ujarnya.

Suburudin melihat, rencana pemerintah ke depan akan semakin mendorong jumlah kunjungan wisatawan. Ia mencontohkan, event budaya selama satu bulan yang nantinya dipusatkan di Gili Air, mampu merangsang minat tamu luar negeri maupun dalam negeri.

“Nanti kita akan menggelar even budaya selama satu bulan di Gili Air. Lokasinya berpindah-pindah dari hotel ke hotel,” sambungnya.

Menurut Suburudin, pelaku usaha tiga Gili saat ini tengah menghadapi periode kunjungan rendah. Mengingat di luar negeri, terutama Eropa, belum memasuki musim libur. Namun demikian, Pemda dan pelaku usaha perlu membuat terobosan yang mendorong ketertarikan pelancong untuk datang ke tiga dan menginap lebih lama. “Saat ini, angka okupansi hotel di tiga Gili sebesar 30 persen,” imbuhnya sembari berharap kunjungan musim libur wisatawan asing mendongkrak jumlah pengunjung.

Tidak hanya persoalan budaya, Suburudin juga melihat pentingnya intervensi infrastruktur jalan dari pemerintah, baik provinsi dan kabupaten. Sebagaimana jalan lingkar Trawangan, sampai saat ini masih belum selesai, karena terkendala anggaran. Akses jalan lingkar yang sudah terbangun pun, belum dilengkapi oleh sarana pendukung seperti drainase. Masalah di pulau akan muncul bersamaan dengan masuknya musim hujan. Saat hujan seperti saat ini, beberapa tempat justru banjir akibat resapan yang kurang, dan drainase yang tidak didesain.

“Kalau kami di desa, menggunakan dana desa itu hanya untuk menata jalan-jalan yang ada di dalam (perkampungan). Itu kita lakukan sedikit demi sedikit, sesuai besaran anggaran yang ada,” tambahnya. (ari)