Pembangunan RTG Tak Boleh Serampangan

Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara  NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc mengatakan gempa beruntun magnitudo 5,4 dan 5,1 yang kembali mengguncang NTB khususnya Lombok Timur (Lotim) harus dijadikan pelajaran. Bahwa pembangunan Rumah Tahan Gempa (RTG) tidak boleh serampangan.

Akibat gempa beruntun tersebut, ribuan rumah warga rusak berat, sedang dan ringan. Namun menurut gubernur, rumah warga yang rusak rata-rata bukan rumah bangun baru yang rusak akibat gempa tahun lalu.

‘’Tapi rumah  yang tadinya rusak ringan jadi rusak sedang. Yang tadinya rusak sedang jadi rusak berat. Ada peningkatan derajat kerusakan akibat gempa,’’ kata gubernur dikonfirmasi di Mataram, Selasa (19/3) siang.

Meskipun rata-rata rumah warga yang rusak akibat gempa bukan Rumah Tahan Gempa yang dibangun sebelumnya. Namun Dr.Zul mengatakan, hal ini menjadi pelajaran. Bahwa pembangunan RTG tak boleh serampangan.

‘’Ini semakin membuka lebar  mata  kita bahwa ndak boleh serampangan. Kita ingin cepat tapi kualitasnya jadi bumerang. Kemarin itu (pembangunan hunian tetap) lambat sekali, banyak yang komplain. Tapi ternyata baru goyang dikit langsung jatuh juga,’’ ujarnya.

Data BPBD Lotim menyebutkan kerusakan rumah sebanyak, 4.456 unit untuk di Kecamatan Montong Gading. Data ini terus berkembang seiring dilakukan pendataan baik di Kecamatan Montong Gading maupun lima kecamatan lainnya yang terdampak bencana gempa.

Baca juga:  Aktivitas Kegempaan Mengecil, Warga NTB Diimbau Tetap Waspada

Di antaranya data yang masih terus bergerak, seperti di Kecamatan Sikur, 2 rumah, Sembalun 1 rumah, Sambelia 1 rumah. Sedangkan untuk fasilitas umum, berupa masjid, sekolah, maupun infrastruktur jalan belum ada laporan yang masuk.

Di Kecamatan Montong Gading berdasarkan data sementara rumah rusak akibat gempa 17 Maret 2019 di 8

desa, untuk Desa Pesanggrahan, rusak berat (RB) sebanyak 26 rumah dan rusak sedang (RS) 618 rumah dengan total 644 rumah. Desa Kilang, rusak sedang (RS) 26 rumah total 26 rumah. Desa Montong Betok, rusak berat (RB) 5 rumah dan rusak ringan (RR) 60 rumah, total 65 rumah dan untuk Desa Pringgajurang rusak berat (RB) sebanyak 470 rumah, rusak sedang (RS) 342 rumah, dan rusak ringan (RR) 345 rumah, totalnya 1.157 rumah.

Selanjutnya untuk di Desa Pringgajurang Utara, rusak berat (RB) 130 rumah, rusak sedang (RS) 85 rumah dan rusak ringan (483) rumah, totalnya, 698 rumah. Desa Lendang Belo, rusak berat (RB) 65 rumah, rusak sedang (RS) 170 rumah, dan rusak ringan (RR) 264 rumah, totalnya, 499 rumah. Sedangkan untuk Desa Perian, rusak berat (RB) 142 rumah, rusak sedang (RS) 183 rumah, rusak ringan (RR) 367 rumah, totalnya 692 rumah dan terakhir untuk Desa Jenggik Utara, rusak berat (RR) 5 rumah, rusak sedang (RS)170 rumah dan rusak ringan (RR) 500 rumah totalnya 675 rumah. Total keseluruhan sebanyak 4.456 unit rumah di Kecamatan Montong Gading

Baca juga:  Kasus Pokmas Lingsar Ganggu Pembangunan RTG

Mengenai kerusakan rumah warga akibat gempa ini, Dr. Zul ini mengatakan akan ada verifikasi ulang yang akan dilakukan petugas untuk penanganan lebih lanjut. Untuk bantuan, kata Dr. Zul, Presiden Jokowi telah meminta Menteri Sosial (Mensos) turun langsung ke lapangan.

‘’Untuk bantuan pusat melihat kita sigap juga. Kemarin pusat langsung datang juga. Pak Jokowi mengirim  Pak Menteri Sosial. Bahkan Pak Jokowi mau datang juga,’’ ungkapnya.

Melihat bencana yang bertubi-tubi di NTB, masyarakat semakin bijak menyikapinya. Memang, ketika datang gempa masyarakat agak kaget. ‘’Memang agak sedikit kaget, tapi tidak seperti dulu. Sekarang masyarakat bisa semakin berdamai dengan musibah,’’ tandas Dr. Zul. (nas)