Misteri Sesar Turun Sekitar Gunung Rinjani

Lokasi yang biasa digunakan untuk membuat tenda di jalur pendakian Rinjani retak-retak dan di bagian lain longsor, sejak gempa beberapa waktu lalu. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Sesar turun (normal fault) sekitar Gunung Rinjani menjadi objek baru penelitian para ahli geologi. Ahli setidaknya menganalisa tiga teori terkait sesar yang memicu gempa magnitudo M=5,4 dan M=5,1 pada Minggu, 17 Maret 2019. Sesar ini disinyalir patahan lama yang belum dipetakan.

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Dr Daryono menjelaskan bahwa dampak gempa ini berpotensi merusak dengan mencermati pemutakhiran peta tingkat guncangan (shake map).

“Ini sesar lama hanya selama ini belum kita ketahui,” bebernya saat berbincang dengan Suara NTB, Senin, 18 Marer 2019.

Hingga pukul 11.00 WIB Senin, 18 Maret 2019, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi sebanyak 45 kali aktivitas gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M=5,1 dan magnitudo terkecil M=1,9.

Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya tampak bahwa gempa ini termasuk dalam klasifikasi gempa kerak dangkal akibat shallow crustal earthquake.

“Ini aktivitas aktivitas sesar lokal di sebelah tenggara Gunung Rinjani. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini dipicu oleh penyesaran dengan mekanisme turun (normal fault),” terangnya.

Gempa Dangkal di Daratan

Daryono menerangkan, para ahli kebumian baru sepakat sebatas penyebab gempa yaitu dipicu sesar aktif dengan mekanisme turun. Akan tetapi belum dapat menjelaskan tentang munculnya gempa dangkal di daratan Pulau Lombok dengan mekanisme turun.
“Gaya pembangkit gempa Lombok ini masih menjadi misteri untuk diungkap,” ucapnya.
Dia menambahkan, pada teori pertama, sebagian ahli menduga bahwa gempa dengan mekanisme turun yang terjadi berkaitan dengan dinamika magma yang memicu runtuhan kerak bumi di zona gunung api aktif.
Sedangkan dugaan lain adalah adanya aktivitas gempa yang memicu sesar turun di zona back arc (busur belakang) yang menandai terjadinya back arc spreading (perluasan) di busur belakang.

Baca juga:  Percepat Rehab-Rekon, Danrem Tawarkan Skenario TMMD

“Ada juga pendapat yang mengkaitkan adanya fenomena gravity tectonic yaitu pembebanan massa gunung yang memicu terjadinya pensesaran turun (normal fault) di kaki gunung,” sebut dia.

Sumber Berbeda

Gempa dengan pusat pada kedalaman 10 Km di 20 Km utara Selong, Lombok Utara menimbulkan collateral hazard atau dampak ikutan, berupa longsor di kawasan Air Terjun Tiu Kelep, Senaru, Bayan, Lombok Utara.

Di wilayah Kabupaten Lombok Timur khususnya daerah Sembalun dan sekitarnya dampak guncangan mencapai skala intensitas V-VI MMI yang berpotensi merusak, sementara di wilayah Kabupaten Lombok Utara guncangan kuat terjadi mencapai skala intensitas IV-V MMI.

Terjadinya peristiwa longsoran pasca gempa kuat, sambung dia, memang lazim terjadi di daerah perbukitan tua, “Karena pada saat terjadi gempa kuat di kawasan perbukitan terjadi peningkatan percepatan getaran tanah akibat efek topografi. Jika kondisi lereng sedang dalam kondisi tidak stabil maka peristiwa longsor dapat terjadi,” jelasnya.

Daryono menambahkan, kondisi ketidakstabilan lereng di Kawasan Wisata Air Terjun Tiu Kelep memang sangat mungkin terjadi. Wilayah ini merupakan kawasan yang sering kali mengalami guncangan gempa kuat saat Gempa Lombok Juli-Agustus 2018.

Rangkaian gempanya dengan kekuatan M=6.4, M=7.0, M=5,8, M=6,2, dan M=6.9. Tidak hanya guncangan gempa kuat, Gempa Lombok tahun 2018 juga diikuti gempa susulan sebanyak lebih dari 2.456 kali.

Baca juga:  40.000 Kunci Diserahkan, Rehab Rekon Pascagempa NTB Diapresiasi Kemenko PMK

Daryono menerangkan, sesar pembangkit gempa tersebut bukanlah sesar yang menjadi pembangkit gempa Lombok tahun 2018 lalu. Sesar pembangkit Gempa Lombok tahun lalu adalah Sesar Naik Flores dengan mekanisme naik (thrust fault).

“Adanya perbedaan mekanisme sumber gempa ini menjadi indikator penting bahwa kedua gempa dibangkitakan oleh sumber gempa yang berbeda,” ujarnya.

Fenomena Gempa Lombok ini, menurut dia, merupakan tantangan yang menarik bagi kalangan para ahli kebumian. Peristiwa gempa ini penting untuk diungkap secara lebih dalam terkait misteri gaya pembangkitnya.

“Tidak menutup kemungkinan gempa semacam ini akan dapat terjadi lagi nanti di bagian lain dari deret Kepulauan Sunda Kecil,” jelasnya.

Jika dibanding antara Sesar Naik Flores dan Sesar Lokal pembangkit gempa Minggu (17/3), Daryono mengatakan, potensi gempa yang terjadi memang jauh lebih besar akibat dipicu Sesar Naik Flores.

Sebab, Flores Back Arc Thrust adalah sesar regional, jalur sesarnya sangat panjang dari utara Bali hingga utara Flores sehingga wajar jika mampu membangkitkan gempa besar,
“Sedangkan gempa kemarin diduga kuat dipicu oleh aktivitas sesar lokal dengan mekanisme turun yang belum terpetakan,” ucapnya.

Dalam hal ini masyarakat Lombok dihimbau untuk tidak terlalu cemas dan takut berlebihan, meskipun harus tetap waspada. Kekuatan gempa sangat ditentukan oleh ukuran dan dimensi sesar.

“Sehingga sangat kecil potensi sesar lokal untuk membangkitkan gempa, sebesar gempa yang dibangkitkan oleh sesar regional,” pungkas Daryono. (why)