Tiga Kapal Pesiar Batal Singgah di Lombok, Gerakan NTB ‘’Zero Waste’’ Harus Diperkuat Perda

Sampah di dermaga sandar kapal pengangkut wisatawan di Pelabuhan Lembar.

Mataram (Suara NTB) – Tiga kapal pesiar dari Singapura membatalkan kunjungannya ke Lombok. Tiga kapal pesiar itu, setidaknya mengangkut 3.000 wisatawan mancanegara (wisman). Ada beberapa  alasan yang membuat kapal pesiar itu batal singgah.

Alasan batalnya kapal pesiar itu singgah karena beberapa persoalan. Seperti disampaikan, GM Pelindo III Lembar, Erry Ardiyanto batalnya tiga kapal pesiar datang ke Lombok memang dipengaruhi beberapa hal. Seperti masa recovery gempa, terutama fasilitas umum masih mengalami kerusakan. Selain itu beberapa alasan menyangkut sampah dan ketidaknyamanan pengunjung terhadap ulah sejumlah oknum sopir travel diduga liar.

‘’Mungkin semasa recovery itu para wisatawan mengalihkan tujuannya, semuanya mau ke Lombok tapi dialihkan ke tempat lain. Karena beberapa fasilitas masih diperbaiki,” ujarnya. Diakuinya tahun ini diperkirakan ada 26 kapal pesiar dari berbagai negara akan singgah di Lombok.

Seharusnya pada bulan Maret ini terdapat tiga kapal pesiar yang datang, namun adanya ulah segelintir oknum membuat tidak nyaman turis saat datang belibur sehingga membatalkan untuk datang ke Lombok. Menurutnya, perlu ada perubahan mainset arau cara berpikir masyarakat sekitar bahwa turis datang ke Lombok ingin nyaman.“Jangan sampai gara-gara ulah beberapa oknum itu membuat nama NTB jadi jelek. Karena ketika mereka sudah tidak nyaman yang dicap itu bukan Lembar namun Indonesia,’’ ujarnya.

Baca juga:  Atasi Masalah Sampah, Pemprov NTB Bentuk Satgas

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait masalah itu. Baik permasalahan sampah, recovery hingga kenyamanan bagi para wisatawan. Mulai dari Dispar Lobar hingga Kepala Desa (Kades) Lembar Selatan. “Karena Lembar ini wajah masuknya ke Lombok, sehingga perlu masyarakat kita bina. Karena masalah kebersihan itu bukan milik dinas terkait saja namun milik kita bersama,” pungkasnya.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Lobar, L Ahmad Satriadi mengatakan, pengunjung tidak akan datang apabila daerah itu tidak aman dan nyaman. Hal inipun perlu keterlibatan semua pihak. Tidak hanya Pemkab, namun pelaku wisata termasuk para angkutan travel. Apalagi sampai berbuat kasar membuat tidak nyaman tamu yang datang.

Pihaknyapun sudah berkoordinasi dengan pihak Pelindo III terkait batalnya tiga kapal pesiar itu datang. Mantan Camat Sekotong ini juga berpesan kepada oknum travel itu untuk tidak mementingkan keuntungan pribadi saja. ‘’Satu kapal itu ada seribuan wisatawan. Cuma yang harus kita pikirkan itu jangan pikirkan pribadi. Yang harus kita pikirkan itu perputaran uang, dari sewa hotel terus membeli oleh-oleh,’’ sambungnya.

Baca juga:  Atasi Masalah Sampah, Pemprov NTB Bentuk Satgas

Selain itu masalah sampah tak bisa dipungkiri turut mempengaruhi kenyamanan wisatawan. Pihaknyapun tidak mau menyalahi OPD terkait. Lantaran permasalahan pariwisata perlu penanganan lintas sektor. ‘’Paling tidak kita bisa sampaikan kepada Pak Sekda dan Pak Bupati, aga SKPD terkait saling berkoordinasi. Supaya semua SKPD ikut campur dan peduli pariwisata ini,’’ harapnya.

Disisi lain, persoalan sampah adalah persoalan besar di sektor pariwisata. Ini tak bisa disepelekan. ‘’Selain persoalan keamanan  bagi wisatawan,’’  kata Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi NTB, Dr. Ainuddin, SH, MH.

Karena itu, program zero waste (bebas sampah) yang dicanangkan oleh pemerintah daerah melalui Gubernur dan Wakil Gubernur, Dr. H.Zulkieflimansyah dan Dr. Hj.Sitti Rohmi Djalillah harus diperkuat gerakannya dengan menerbitkan Perda.

“Eksekutif harus menginisiasi dan secepatnya menerbitkan Perda. Kalau ada yang buang sampah sembarangan, di denda. Hal ini harus dilakukan dari tingkat provinsi sampai kabupaten/kota,” ujarnya.

Jika tidak dilakukan, maka percuma kata Ainuddin meyakinkan kepada masayarakat internasional. Jika produk yang di promosikan tak sesuai dengan fakta yang dilihat oleh wisatawan. ‘’Nanti kita dibilang omong aja. Ini PR kita bersama soal kebersihan,’’ demikian Ainuddin. (her/bul)