Inspektorat Petakan Sektor Rawan Korupsi

Ibnu Salim (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Inspektorat Provinsi NTB semakin menguatkan kapasitasnya setelah berhasil meningkatkan kapabilitas Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) menjadi level III. Dengan begitu, peran instansi ini kian bertaring. Kapasitas sebagai auditor kerugian negara semakin kuat dengan memetakan sektor rawan korupsi. Kemudian, temuan dan rekomendasi bisa jadi tindak lanjut Aparat Penegak Hukum (APH).

Inspektur Provinsi NTB, Ibnu Salim, SH. M.Si mengakui bertahun tahun lamanya, kapabilitas APIP di Inspektorat Provinsi NTB selalu berada di level 1 dan level II saja. Kapabilitas yang demikian menyebabkan para auditor atau APIP di Inspektorat   belum mampu memberikan jaminan atas proses tata kelola sesuai peraturan dan belum dapat mencegah korupsi.

‘’Sekarang jauh lebih bertaring. Fungsi  penting  adalah pemetaan dan penanganan kasus kasus yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi masyarakat maupun negara,’’ ujarnya menjawab Suara NTB akhir pekan kemarin.

 Proses pemetaan yang diakui sudah dilakukan sejak lama, selain melalui temuan, juga pengaduan masyarakat. Pemetaan itu kini semakin diperkuat pada tindaklanjut koordinasi dengan APH, baik Kejaksaan Tinggi NTB maupun  Polda NTB. Koordinasi selama ini dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai pendorong peningkatan kapasitas, juga semakin diperkuat.

Karena peran terpenting APIP, lanjutnya, semakin kuat untuk wujudkan  birokrasi bersih,  melalui penegakan integritas birokasi, pencegahan dan pemberantasan korupsi dan pungli serta penanganan pengaduan masyakat.

Baca juga:  KPU Larang Mantan Koruptor Ikut Pilkada Serentak 2020

Dengan kapabilitas  APIP level III itu,  pihaknya  sudah memiliki kualifikasi kemampuan dan ilmu untuk  menilai sisi efisiensi, efektivitas dan keekonomisan suatu kegiatan. Serta mampu memberikan konsultasi pada tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern pada seluruh OPD.

Maka untuk membantu menangani kasus kasus seperti itu, kata Ibnu Salim,  di Inspektorat Provinsi NTB telah dibentuk struktur kelembagaan Inspektur Pembantu Khusus (Irbansus) yang saat ini dijabat  GP.Aryadi, S.Sos.MH, didukung juga Irban  lainnya.

Tentu untuk pencapaian ini, menurutnya, dibutuhkan perjuangan panjang  sekaligus pengorban dan kerja keras dari seluruh jajarannya. Perlu komitmen bersama untuk mau meninggalkan mindset dan culture  yang cenderung mengartikan tugas APIP sekadar untuk mencari kesalahan semata. Bahkan bekerja sekadar untuk menggugurkan kewajiban semata.

‘’Padahal APIP sebenarnya juga punya peran besar  untuk memberikan bimbingan, konsultasi dan menawarkan solusi untuk menuju kebaikan,’’ ujarnya.

Selain meningkatkan kapabilitas APIP, langkah strategis lain yang dilakukannya adalah menyesuaikan kelembagaan Inspektorat dengan peran dan fungsi yang diemban sebagai garda terdepan dalam mengawal tercapainya tujuan reformasi birokrasi.

Oleh karena itu, sejak diberi amanah sebagai Inspektur oleh Gubernur  TGH. M. Muhammad Zainul Majdi, kini berlanjut di kepempimpinan Gubernur Dr. H.Zulkieflimansyah, ia mengaku  aspek prioritas yang digarapnya adalah  pembenahan dan penguatan pada aspek-aspek fundamental. Sebab dibutuhkan untuk pengawasan intern yang efektif di sektor publik. Diantaranya, memperkuat, meningkatkan, mengembangkan kelembagaan, tata laksana/ manajemen dan kemampuan sumber daya manusia APIP. Sehingga memiliki  kapabilitas yang tinggi untuk mampu menjakankan tugas dan fungsi pengawasan intern yang kuat dan efektif.

Baca juga:  KPU Larang Mantan Koruptor Ikut Pilkada Serentak 2020

‘’Alhamdulillah, ikhtiar itu kini mulai menampakkan hasil yang membuat APIP Inspektorat NTB semakin percaya diri (pede) dan kian bertaring dalam mengawal ihktiar reformasi birokrasi bersih dan melayani yang dicanangkan Gubernur TGB dalam visi misi pemerintahannya,’’ katanya.

Dengan  cara demikian,  pihaknya kini optimis bahwa ikhtiar reformasi birokrasi bersih dan melayani yang dicanangkan Gubernur NTB,  akan segera tercapai. Meski kapabilitas level 3 ini belum merupakan suatu yang paling ideal. Namun menurutnya prestasi ini akan dijadikannya kekuatan pemicu untuk mencapai kapabilitas level 4 yang disebut juga level managed.

Di mana pada level ini, APIP sudah mampu memberikan assurance secara keseluruhan atas tata kelola, manajemen risiko dan pengendalian intern. Target terakhirnya, kata Ibnu, tentu untuk mencapai kapabilitas level 5  sebagai level treating yang disebut juga optimizing. Pada Level ini menurutnya para APIP  diharapkan sudah memiliki kualifikasi sebagai agen perubahan. (ars)