Jembatan Provinsi Putus, Warga Sanggar Menyeberang Pakai Alat Berat

Sebuah ekskavator membantu siswa menyeberang sungai Oi Saro Desa Oi Saro Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima.  Jembatan utama di sana putus akibat digerus banjir 2018 lalu. (Suara NTB/bpbdbima)

Mataram (Suara NTB) – Satu lagi jembatan provinsi putus di Kabupaten Bima. Selain di Desa Kananta Kecamatan Soromandi, kondisi yang sama terjadi di Desa Oi Saro, Kecamatan Sanggar. Ekskavator pun terpaksa difungsikan jadi alat penyeberangan darurat.

Sebuah ekskavator menjadi alat bantu penyeberangan darurat. Dengan alat itu, sejumlah pelajar naik ke bucket ekskavator, kemudian  diseberangkan melewati sungai.  Peristiwa itu terjadi Senin (11/2) pagi lalu, ketika pelajar berangkat ke sekolah  namun tidak berani menyeberang karena  derasnya arus sungai. Sementara warga lain yang menggunakan kendaraan, terpaksa diam dan antre di pinggir sungai menunggu air surut.

Operator alat berat itu diketahui bernama Musafir, warga setempat.  Ia secara sukarela membantu masyarakat menyeberangkan dengan ekskavator ketika tidak ada aktivitas pengerjaan proyek.

‘’Itu saya bantu nyeberangkan anak anak sekolah, karena air deras. Kasihan siswa -siswa, kalau mau ke sekolah ndak berani menyeberang,” kata Musafir kepada Suara NTB dihubungi melalui telepon seluler, Minggu (24/2).

Kontraktor sebuah perusahaan konstruksi di Bima ini mengaku beberapa kali menurunkan alat berat ke sungai tersebut. Selain membantu warga menyeberang, juga mengais gundukan tanah untuk membuat penyeberangan darurat. Susah payah membuat jalan darurat, setiap banjir selalu amblas. ‘’Kemarin baru seminggu saya buat jalan darurat, tapi sudah hilang. Sudah tiga kali saya buatkan jalan daruarat, tapi ya itu, kalau banjir datang, langsung amblas,’’ ujarnya.

Baca juga:  Daerah Rawan Bencana, NTB Harus Punya Mitigasi Bencana yang Baik

Ia mengungkapkan betapa sulitnya kondisi dialami masyarakat sekitar yang sebelumnya menggunakan jemabatan itu sebagai akses satu satunya di desa itu.  Selain warga Desa Oi Saro, juga Desa Boro Kecamatan Piong. Meski debit air mengecil, namun tetap berbahaya bagi kendaraan,  khususnya jenis sedan dan city car.

‘’Kalau mobil sedan ndak berani lewat. Harus ada yang bantu,’’ ungkapnya.

Jembatan Sanggar itu sebelumnya putus akibat digerus banjir akhir 2018 lalu. Sama dengan kejadian di Soromandi, badan jembatan tidak ada yang tersisa akibat dihantam banjir bandang. Jembatan Oi Saro dilalui jalur dari Piong, Sanggar Kabupaten Bima ke Kecamatan Kilo, atau sekitar 18 kilometer dari Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, berstatus jalan provinsi.

Baca juga:  Tol Lembar - Kayangan Ditawarkan ke Investor

Kasubdit Penanganan Darurat BPBD Kabupaten Bima Bambang Hermawan membenarkan situasi itu. Warga sesekali menggunakan jembatan darurat untuk menyeberang.  Jika debit air tinggi akibat banjir, warga samasekali tidak bisa menyeberang. ‘’Kami sudah sampaikan ke BPBD Provinsi untuk mendorong percepatan bantuan pembangunan jembatan baru. Proposal usulan sudah kami sampaikan,’’ ujarnya.

Terpisah, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi NTB Agung Pramuja, membenarkan sudah ada usulan masuk dari BPBD Kabupaten Bima dan Pemkab Bima. ‘’Benar, sudah ada proposal yang masuk. Pak Gubernur sudah menyetujui pengalokasian anggarannya,’’ kata Agung Pramuja.

Pengalokasian anggaran dari Belanja Tidak Terduga (BTT) diperkirakan mencapai Rp 7 miliar. ‘’Sumber anggaran dari BTT, totalnya dengan jembatan Soromandi sekitar Rp12 miliar,’’ sebutnya.

Harapannya sama dengan Pemkab Bima dan masyarakat Sanggar dan sekitarnya, agar jembatan segera dibangun. Ia optimis, dalam waktu dekat anggaran terealisasi dan tinggal menentukan rekanan pelaksana. (ars)