Soal Minat Baca, NTB Peringkat 31 Nasional

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip NTB, H. Manggaukang Raba (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip NTB, Dr. H. Manggaukang Raba, MM mengungkapkan, tingkat minat baca di daerah ini sangat rendah. Secara nasional, NTB berada pada peringkat 31 dari 34 provinsi di Indonesia.

‘’Minat baca kita sangat-sangat rendah. Dari posisi paling bawah, kita berada pada posisi di atas Papua, Papua Barat dan Sulawesi Utara,’’ kata Manggaukang dikonfirmasi Suara NTB usai penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Ketua Tim Penggerak PKK NTB di Pendopo Gubernur, Rabu, 6 Februari 2019 siang.

Ia mengungkapkan, indikator rendahnya minat baca di NTB. Dari 100.000 penduduk, hanya ada satu orang  yang membaca buku. Untuk itu, Manggaukang mengatakan minat baca di NTB harus ditingkatkan. Dalam lima tahun ke depan, ditargetkan tingkat minat baca di NTB berada posisi papan tengah atau posisi 20 secara nasional.

‘’Untuk memperkuat itu, literasi harus kita tingkatkan. Dengan seluruh stakeholders yang ada. Masuk ke semua sekolah, kerjasama dengan PKK, agar tingkat literasi naik,’’ imbuhnya.

Program peningkatan minat baca yang dicanangkan, kata Manggaukang, adalah literasi untuk kesejahteraan. Yakni menyiapkan buku-buku untuk perpustakaan desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Seperti pengadaan buku-buku yang berkaitan dengan pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan.

Baca juga:  Kisah Kepala Dinas NTB Malu Sama Mantan Gubernur

Sehingga, setelah masyarakat membaca buku-buku tersebut dapat diaplikasikan. Misalnya penyiapan buku tentang cara bercocok tanam dan pengolahan produk-produk pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan yang dihasilkan masyarakat.

‘’Jadi habis baca buku, diaplikasikan. Buku tentang peternakan, pertanian, industri olahan. Itu yang kami dorong. Untuk ke depan ini setiap kabupaten/kota ada dua perpustakaan menjadi  pilot project mengembangkan ini,’’ tuturnya.

Masih rendahnya minat baca di NTB, kata Manggaukang juga dipengaruhi masih banyaknya masyarakat yang buta aksara. Berdasarkan data BPS sesuai hasil Susenas Maret 2018, angka buta aksara atau buta huruf di NTB sebesar 12,58 persen.

Dengan rincian, Lombok Barat sebesar 16,28 persen, Lombok Tengah 18,58 persen, Lombok Timur 13,31 persen, Sumbawa 6,04 persen, Dompu 7,86 persen, Bima 11,6 persen, Sumbawa Barat 4,97 persen, Lombok Utara 16,09 persen, Kota Mataram dan Kota Bima masing-masing 5,96 persen dan 7,17 persen.

‘’Jadi tingkat literasi kita begitu, IPM kita begitu. Buta huruf kita juga begitu. Kabupaten paling rendah minat bacanya Lombok Timur, selalu begitu-begitu saja,’’ katanya.

Untuk itu, kata Manggaukang, pihaknya sedang mengumpulkan Kepala Dinas Perpustakaan kabupaten/kota membicarakan tentang upaya meningkatkan minat baca di NTB. Ia menyebut paling banyak pengunjung perpustakaan adalah mahasiswa. Setiap hari sekitar 200 mahasiswa mengunjungi Perpustakaan NTB.

Baca juga:  Kisah Kepala Dinas NTB Malu Sama Mantan Gubernur

Mahasiswa yang berkunjung, kata Manggaukang sebagian besar karena mengerjakan tugas. Mereka hanya meminjam buku sebentar kemudian dikembalikan. Artinya, buku yang dipinjam tidak semuanya dibaca secara tuntas.

Dari 995 desa yang ada di NTB, sekitar 70 persen yang memiliki perpustakaan di desa. Koleksi bukunya sekitar 50 persen  dibeli dari APBN atau sumbangan dari pemerintah pusat.

Namun, sejak tiga tahun terakhir tidak pernah ada lagi sumbangan buku dari pemerintah pusat. Tahun-tahun sebelumnya, kata Manggauang, buku-buku yang diberikan pemerintah pusat tak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga banyak yang menjadi pajangan saja.

‘’Makanya sekarang, kita tanya buku yang dibutuhkan masyarakat baru kita carikan. Banyak buku, ndak pernah terpinjam. Karena dikirimkan dari Jakarta tak sesuai kebutuhan,’’ tuturnya.

Menurut Manggaukang, buku yang diadakan tidak perlu terlalu banyak. Tetapi buku-buku yang diberikan ke setiap perpustakaan cukup 10 judul sesuai kebutuhan masyarakat. Untuk itu, pihaknya sedang mendata kembali jumlah perpustakaan desa dan perpustakaan khusus yang ada di NTB. Serta mencari apa permasalahannya.

‘’Kita tanya semua, apa permasalahannya kita komunikasikan dengan bupati. Buku-buku lokal juga kita digitalisasi. Begitu didigitalisasi, bisa baca lewat handphone,’’ katanya. (nas)