Program Industrialisasi, STIP, Program Lompatan Tanpa Tahapan Jelas

Kawasan STIP Banyumulek saat ini. Di kawasan ini baru diisi kontraktor-kontraktor yang mengerjakan perangkat rumah aplikasi untuk korban gempa. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah- Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) memiliki  program  di bidang industrialisasi dan hilirisasi produk. Ikhtiar Zul-Rohmi melalui program ini adalah menjadikan NTB tidak hanya menjual produk (hasil pertanian dalam arti luas dan produk lainnya) dalam bentuk produk mentah. Tetapi produk olahan yang intinya memiliki nilai jual lebih tinggi.

‘’Kami mengapresiasi program kepala daerah untuk melakukan industrialisasi,’’ ujar Dr. Azis Bagis, pemerhati ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Mataram (Unram). Program industrialisasi dan hilirisasi ini, dilaksanakan melalui Science Technologi Industrialisasi Park (STIP) di Banyumulek, Lombok Barat. Sebelumnya, dikenal sebagai Techno Park.

Bagi Azis Bagis, STIP adalah program lompatan dan program besar. Artinya, untuk merealisasikan program besar ini, seharusnya ada tahapan yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

‘’Industrialisasi ini bagus. Tapi harusnya mulai dari start up dulu, mulai dari Incubator Bisnis Technologi (IBT).  Kalau STIP itu artinya langsung melompat (tanpa tahapan). Atau caranya bisa menggandeng IBT untuk mengembangkan STIP. Sehingga tahapannya jelas,’’ kata Azis Bagis.

Memulai industrialiasi dengan mengoptimalkan Incubator Bisnis Technologi (IBT) yang ada di masing-masing Perguruan Tinggi (PT). Unram sendiri katanya, telah memiliki IBT yang ia kelola sejak 2018 lalu. IBT adalah wadah untuk mendorong dan mendampingi sekaligus para enterpreunur bisnis dari kalangan mahasiswa dan alumni. Acuannya adalah penerapan teknologi hasil – hasil penilitan yang dilakukan di kampus dan telah memiliki hak paten.

Baca juga:  Langkah Awal Industrialisasi, Galeri Rumah Pajang Ekowisata Desa Batu Dulang Diresmikan

Ia juga bersedia memberikan sumbang pikiran dan daya kepada pemerintah daerah. Atau untuk mendukung STIP. Jangan sampai menurutnya, STIP nantinya akan diisi oleh agen-agen dari luar daerah, atau dari luar negeri.

‘’Nanti ujug-ujug ada yang minta lahan 10 hektar, ada yang minta sekian hektar. Terus yang dibuat bata, genteng. Ya harus selektif masuk STIP. Tidak bisa sembarangan. Tentu harus dikaji kandungan teknologi yang akan diperkenalkan di sana. Boleh-boleh saja, tapi harus diseleksi, bisa melibatkan IBT juga,’’ ujarnya.

Belum terlambat menurutnya, rencana industrialisasi yang dicanangkan Pemprov NTB. Namun saran Azis Bagis, harus ‘’dikawinkan’’ dengan incubator bisnis yang ada di kampus-kampus. Sehingga daya yang dimiliki daerah akan tergerak (terlibat).

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Ir.Andi Pramaria  menggambarkan bagaimana konsep STIP Banyumulek.  STIP ini rencananya akan dijadikan incubator bisnis mendidik SDM-SDM lokal sebagai wirausaha-wirausaha yang siap tampil. Dalam konsep besarnya, STIP akan merekrut lulusan SMA dan SMK untuk dilatih sesuai bidang keahliannya.

Dalam jangka waktu yang ditentukan, akan lahir dari STIP sebagai pengusaha yang akan membuka lapangan pekerjaan bagi sekitarnya. Setidaknya, mereka akan menjadi mandiri. Andi bahkan mengatakan sudah ada kegiatan. Memang yang ada baru pekerja-pekerja aplikator saja.

Baca juga:  Langkah Awal Industrialisasi, Galeri Rumah Pajang Ekowisata Desa Batu Dulang Diresmikan

Program besar ini ada yang mempertanyakan. Karena ada kesan, tidak ada kesiapan yang matang dari pemerintah daerah melaksanakan program industrialisasi ini. Logikanya, bBerbicara industrialisasi tentu berbicara pabrik atau memproduksi produk setengah jadi menjadi bahan jadi dengan teknologi. Sementara NTB, sejauh ini belum memiliki sarana dan prasarananya yang memadai.

Suara NTB, Jumat, 1 Februari 2019 kemarin melihat dari dekat kegiatan di STIP Banyumulek. Belum ada kegiatan yang menonjol. Yang ada lahan STIP dipenuhi sekat-sekat masing-masing aplikator yang membuat bagian-bagian dari rumah praktis untuk korban gempa. STIP Banyumulek ini hanya diisi pekerja-pekerja dari masing-masing aplikator. Juga masih berdiri bangunan Agro Eduwisata dengan konsep lamanya.

Lalau ada juga bangunan yang rencananya akan dijadikan lokasi pabrik kosmetik yang telah beberapa tahun sebelumnya dibangun. Di gedung itu, yang ada hanya peralatan usaha logam untuk membangun rumah  bagi korban gempa. Tidak terlihat ada semacam pabrik untuk melakukan hilirisasi.

Ada kompleks Techno Park yang dikelola oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB melalui UPT-UPTnya. Di sini hanya ada kegiatan pembenahan kandang kolektif. Di sepanjang areal itu belum ada perubahan yang signifikan. Belum terlihat adanya aktifitas yang menunjukkan tanda-tanda akan dibangunnkan kawasan industri. (bul)