Pariwisata Desa Mas-Mas Bangkit Pascagempa

Seorang warga mencari ikan menggunakan rakit di tengah danau, Sabtu, 5 Januari 2019. Danau dengan permukaan air tenang itu dijadikan objek wisata Desa Mas Mas. (Suara NTB/ars)

Praya (Suara NTB) – Pariwisata di desa adalah salah satu sektor yang ikut terpuruk dengan musibah gempa Juli dan Agustus 2018 lalu. Ini dirasakan juga warga Desa Mas Mas, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Desa wisata yang menjual panorama alam dan budaya ini kehilangan tamu enam bulan terakhir.

Gang sepanjang 100 meter diberi julukan ‘gubuk sayur’.  Sebab berbagai holtikultura itu tumbuh subur, membentuk lengkungan sayur yang mengikuti lekuk bambu. Wisatawan dan para akademisi menjadikannya objek pemandangan dan penelitian. Namun dua tahun bertahan, bambu ambruk. Salah satu objek wisata di desa itu  hilang. Rupanya itu cobaan kecil. Gempa beruntun Juli hingga Agustus adalah cobaan terberat. Tiga, bahkan empat bulan terakhir wisatawan sepi.

Wisata Desa Mas-Mas adalah pariwisata minat khusus. Kesamaan dengan market wisata lain, menjual panorama alam desa dan kultur sosial setempat. Namun keunikannya, wisatawan tidak disediakan penginapan khusus, melainkan rumah rumah warga dijadikan home stay dadakan. Turis diberikan satu sampai dua kamar menginap.  Makanan dan minuman yang disediakan, sama dengan yang dikonsumsi keluarga pemilik rumah. ‘’Jadi konsepnya, turis berbaur dengan warga,’’ kata Parman, salah satu pemilik rumah, Sabtu (5/1).

Aktivitas pemilik rumah yang dinilai unik, seperti memasak, mencuci, membersihkan halaman, para turis boleh nimbrung. Banyak juga wisatawan yang suka dengan aktivitas di luar rumah seperti bertani dan berkebun. Turis yang punya keahlian khusus di bidang pertanian dan perkebunan atau profesi lainnya, dapat membagi ilmunya kepada warga.  Sehingga ada simbiosis antara warga dan turis di desa itu.

Menurut Parman, ada 30 unit rumah warga yang dimanfaatkan sebagai home stay. Tarif per malam antara Rp 100.000 hingga Rp 150.000. Tapi komersial bukan tujuan utama warga, melainkan  konsep terbuka pada peradaban modern dan kekeluargaan, tanpa mengabaikan kultur asli warga di desa. Selebihnya adalah kemandirian ekonomi dari bidang pariwisata berbasis desa. Dominan turis yang datang dari Jerman dan Perancis. Mereka dipandu anak-anak muda yang dilatih khusus bahasa asing melalui kursus di desa selama satu bulan.

Baca juga:  Pariwisata Sembalun Mulai Bangkit Pascagempa

Warga juga antusias menyambut pengembangan pariwisata desa. Sangat jelas terlihat dari sikapnya yang ramah kepada siapapun yang datang. Kebersihan lingkungan sangat dijaga. Menyusuri kampung,  jalan tanah hingga paving blok yang tertata rapi. Jalan penghubung antar dusun sudah hotmix. Pemandangan kiri dan kanan jalan sawah hijau dan kebun. Sebuah danau dengan permukaan air tenang di tengah kampung, cukup menenangkan hati. Semakin natural ketika menyaksikan aktivitas warga memancing dan melempar jala di tengah danau.

Saat kejadian gempa pertama Juli lalu, rumah warga yang dijadikan home stay  banyak terisi. Namun turis ikut kabur bersama warga pemilik rumah.  Setelah gempa beruntun hingga Agustus, tamu yang tadinya berkunjung sampai 150 orang per bulan, nyaris tidak ada yang kembali.  Tamu banyak yang cancel karena trauma akibat gempa. Warga yang selama ini aktif mengelola desa wisata, turut mengungsi.

Parman  mengungkap, wisatawan terakhir berkunjung pada bulan September 2018 lalu, itu pun hanya beberapa orang.

‘’Terakhir kemarin bulan September. Ada, tapi nggak nginap di rumah sini. Kadang-kadang tiga orang kadang-kadang dua orang, terakhir kemarin dua orang,’’ sebut Parman.

Namun situasi itu mulai berubah sejak Desember 2018. Aparatur desa, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan warga, menyongsong 2019 dengan optimisme kebangkitan kembali  wisata Desa Mas-Mas, karena sebenarnya tidak ada dampak signifikan. Alam Desa Mas-Mas tetap dengan gugus sawah yang rapi, pepohonan rindang tumbuh subur di dalam kampung, jalan hingga gang gang yang sudah rapi, ada danau dengan air tenang. Tradisi kampung seperti roah, nyongkolan, sampai kerajinan ketak tetap ada.

Baca juga:  Dikeluhkan, Ruas Jalan Kawasan Wisata Senggigi Gelap Gulita

‘’Artinya gempa tidak memengaruhi secara langsung. Cuma turis saja yang masih trauma. Tapi harapan kami ini mulai pulih. Satu dua tamu sudah ada yang mulai datang,’’ ungkap Kades Mas Mas, Habiburrahman Yusuf Akbar.

Promosi digencarkan, dengan diawali penataan desa dan kampanye kebersihan lingkungan zero plastic kepada warga. Promo melalui media sosial digencarkan. Kebijakan desa bersama Pokdarwis menambah konten yang dijual. Yakni paket gowes mengelilingi desa hingga ke Air Terjung Benang Setokel.  Kades yang akrab disapa Muhidin ini juga akan mengembangkan program Durenisasi dengan menebar bibit durian ke Pokdarwis dan warga. Sehingga dalam beberapa tahun akan menjual wisata durian.

Pemkab Lombok Tengah, Pemprov NTB hingga pemerintah pusat dibukakan ruang partisipasi.  Ia sangat berharap ada intervensi berupa pembangunan fasilitas pendukung pariwisata dan perbaikan jalan desa. Ada satu kegiatan yang ditawarkannya. Pemerintah melalui Dinas Pariwisata atau pun Kementerian Pariwisata, diharapkan membuat atau merenovasi satu kamar khusus di setiap rumah warga. Kamar yang layak dilengkapi toilet dan fasilitas meubeler lainnya. Program ini menurutnya lebih efektif ketimbang bedah rumah, karena basisnya pengembangan pariwisata tanpa banyak membebankan daerah atau negara.  (ars/mhj)