Wagub Rohmi : NTB Harus Mandiri

0
143
Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Suara NTB/nas)

Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd mengharapkan, kebutuhan dalam daerah dipenuhi dari produksi lokal. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diminta mendorong dan menggalakkan penggunaan produk lokal.

‘’Kita ingin mandiri. Saya tidak mau, kita punya, kita hasilkan tapi kok masih saja dari luar yang kita pakai. Apa artinya kita mau berdayakan masyarakat kita, meningkatkan pendapatan masyarakat tapi kalau hasil masyarakat tidak kita hargai,’’ kata Wagub.

Ia mengharapkan, kampanye terhadap penggunaan pangan atau produk lokal harus digalakkan ke depan. Bagaimana agar tenun Sasambo yang dulu pernah digalakkan, tidak hilang. ‘’Ayo kita galakkan lagi menggunakan tenun Sasambo. Kita mungkin punya rasa malu kalau tidak memakai tenun kita sendiri,’’ katanya.

Setiap event  atau kegiatan jangan sampai meminggirkan produk lokal. OPD harus betul-betul memberdayakan produksi petani atau perajin dalam daerah. Jika produk lokal belum memenuhi syarat dari sisi kualitas, maka tugas OPD untuk melakukan pembinaan atau pendampingan kepada perajin atau petani.

‘’Bikin regulasinya, kita ingatkan satu sama lain, pakai tenun Sasambo. Apalagi tenun kita sangat kaya. Masing-masing kabupaten kita ajak kerjasama. Supaya kabupaten juga menggerakkan yang sama,’’ ujarnya.

Rohmi meminta OPD merumuskan kebijakan terkait dengan upaya menggalakkan penggunaan produk lokal. Kebutuhan-kebutuhan dalam daerah seperti telur, jangan sampai didatangkan dari luar daerah. Karena potensi yang dimiliki NTB cukup melimpah.

Begitu juga kebutuhan daging ayam, jangan sampai didatangkan dari luar NTB. Perusahaan-perusahaan besar yang ada di NTB didorong agar menyerap produksi dalam daerah. Jika ada perusahaan yang belum mau menyerap produk lokal maka harus dicari akar persoalannya. Setelah itu dicarikan solusinya.

‘’Kalau tahu masalahnya, cari solusinya. Dan harus ada target. Sehingga kita enak mengeksekusi program karena ada target. Saya ingin kita mandiri, kita berdaya,’’ harapnya.

  Fokus Tangani Tujuh Kabupaten Kantong Kemiskinan

Begitu juga mengenai produk hasil pertanian yang dihasilkan petani di NTB. Menurut Rohmi, harus dipikirkan cara memotong mata rantai pemasaran agar petani benar-benar merasakan jerih payahnya.

‘’Jangan sampai petani jual Rp5.000 tapi orang (pedagang) jual harganya Rp15.000. Rp10.000 itu dapatnya pedagang. Bagaimana mungkin orang mau jadi petani kalau seperti itu. Jadi pedagang  saja yang untung,’’ katanya.

Pasokan komoditas pertanian ke hotel-hotel rantai pemasarannya masih panjang, yakni lewat pedagang. Menurutnya perlu dipikirkan agar rantainya pemasarannya langsung ke petani.

‘’Kita harus cari cara agar petani semangat bertani. Karena pasarnya terbuka. Apalagi pariwisata kita meningkat. Bagaimana pasar yang besar ditangkap oleh petani. Kita yang drive mereka,’’ kata Rohmi. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here