Waspadai Gelombang Tinggi di Selat Lombok

Ilustrasi Gelombang Tinggi (Sumber Foto : Pixabay)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi, salah satunya di Selat Lombok. Potensi gelombang mencapai 2,5 meter. Diminta kepada operator dan pengguna transportasi laut untuk waspada.

Pemicu gelombang karena terdapat pola tekanan rendah 1004 hPa di Samudra Pasifik Utara Papua Barat. Pola angin umumnya bergerak dari barat – barat laut pada wilayah Indonesia bagian utara dengan kecepatan angin berkisar antara 5  sampai 20 knot. Sementara di bagian selatan Indonesia angin bergerak dari barat daya – barat laut dengan kecepatan angin berkisar antara 5 sampai 25 knot.

“Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sejumlah wilayah,” ujar prakirawan BMKG  Ryan Putra Pambudi dalam press release, Minggu, 23 Desember 2018.

Potensi tinggi gelombang antara 1,25 sampai 2,5 meter berpeluang terjadi mulai dari perairan utara Sabang, perairan barat Samudra Hindia hingga kawasan Selat Sunda.  Potensi gelombang tinggi juga berpotensi terjadi Selat Bali, Selat Lombok, Selat Alas Sumbawa bagian Selatan  hingga Samudra Hindia Selatan dan NTT.

Riyan Putra Pambudi menambahkan, masyarakat diharapkan memperhatikan risiko terhadap keselamatan pelayaran, khususnya operator transportasi laut.

Untuk kategori tinggi gelombang tersebut, berbahaya untuk Perahu Nelayan untuk kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 meter. Kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter berbahaya untuk kapal tongkang.

Sementara, Kapal Ferry diminta waspada untuk kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter.  Kapal Ukuran Besar seperti Kapal Kargo atau Kapal Pesiar berbahaya untuk kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 meter.

Tingkatkan Waspada Bencana

Peningkatan curah hujan yang terjadi pada musim hujan, berpotensi menimbulkan bencana hdirometeorologi di sebagian besar wilayah Indonesia. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, selama pertengahan Desember 2018 telah terjadi rentetan bencana antara lain, bencana longsor, kejadian puting beliung, dan banjir di beberapa lokasi, termasuk di NTB.

Bulan November lalu, tercatat 72 kejadian banjir, 74 bencana longsor, dan 77 kejadian puting beliung.

Deputi Bidang Klimatologi, Drs. Herizal mengutarakan, bahwa curah hujan tertinggi yang tercatat pada bulan November sebesar 400 mm, akumulasi tertinggi curah hujan mencapai 1325 mm.

Angin Baratan Monsun

Hingga akhir Desember 2018, pada umumnya terjadi sirkulasi monsoon angin Baratan di Indonesia.  Sedangkan daerah lainnya didominasi angin timuran mulai dari Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Bara, Nusa Tenggara Timur. Sementara di selatan ekuator didominasi angin dari selatan.

Terkait fenomena global El Nino, sambungnya, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa kondisi El Nino telah terpenuhi dari sisi menghangatnya lautan Pasifik, namun interaksi antara lautan dengan atmosfer belum terjadi diantara keduanya.

“Pergerakan atmosfer belum menunjukkan situasi yang biasa terjadi pada kondisi El Nino,” jelasnya.

Menurut Herizal, berdasarkan pantauan BMKG, penghangatan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur telah mengindikasikan El Nino lemah yaitu kurang dari 0,5 – 1,0 derajat Celsius.

Sementara itu Samudera Hindia pada bulan akhir November 2018 menunjukkan kondisi dipole mode positif yang tidak berkontribusi dalam penambahan uap air di wilayah Indonesia bagian barat.

Sementara suhu Perairan Indonesia dalam kondisi normal, dengan pendinginan atau penghangatan suhu permukaan laut antara 0,5 sampai 1 derajat Celsius dari rata-rata normalnya.

“Sementara suhu muka laut mendingin terjadi disekitar selatan Bali sampai Nusa Tenggara Barat, dan selat Makasar,” pungkasnya. (ars)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.